<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[m²]  Sepi Ing Pamrih - Rame Ing gawe ! &#187; muslim</title>
	<atom:link href="http://mbah-marijan.org/tag/muslim/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mbah-marijan.org</link>
	<description>Kliping Blog Simbah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 11:44:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=488</generator>
		<item>
		<title>Jawaban Terakhir: Pemakaman Michael Jackson</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/07/08/jawaban-terakhir-pemakaman-michael-jackson/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/07/08/jawaban-terakhir-pemakaman-michael-jackson/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 09:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[apakah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jacko]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Jackson]]></category>
		<category><![CDATA[MichaelJackson]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Pemakaman]]></category>
		<category><![CDATA[Pemakaman Michael Jackson]]></category>
		<category><![CDATA[Yehovah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=608</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu rumor besar yang mengiringi kematian raja musik pop dunia, Michael Jackson adalah: apakah Jackoâ€”begitu panggilannyaâ€”seorang Muslim? Jacko sendiri semasa hidupnya tak pernah mengeluarkan pernyataan di depan publik bahwa ia seorang Muslim. Ketika mengumumkan kematian adiknya, Jermaine Jacksonâ€”yang memang seorang Muslimâ€”mengakhirinya dengan ucapan, â€œSemoga Allah senantiasa bersamamu, Michael.â€ Tapi itu saja sama sekali belum cukup untuk menunjukkan bahwa Jacko adalah Muslim. Tahun 2007, Jermaine mencoba mengajak Jacko untuk memeluk Islam. Jadi selama tidak ada pernyataan atau dokumentasi yang bisa dijadikan sebagai bukti bahwa ia seorang Muslim, hal terakhir yang bisa dilihat adalah pemakamannya yang akan diselenggarakan akhir pekan ini, yang rencananya akan dilakukan di Neverland, sebuah kebun binatang dan dunia fantasi milik Jacko pribadi yang berlokasi di Los Angeles. Seperti diketahui bahwa keluarga Jackson adalah para pemeluk Kristen Yehovah dan saat ini anggota keluarga Jackson tengah sibuk menginginkan pemakaman Jacko menurut keyakinan mereka. Sejauh ini, semua prosesi pra-pemakaman Jacko tidak seperti cara-cara orang Islam. Secara umum, kremasi dan otopsi dalam Islam selalu dilakukan dengan segera pada seorang Muslim yang meninggal, biasanya hanya satu atau dua hari setelah meninggal. Sedangkan dalam keyakinan Yehovah, pemakaman biasanya dilakukan dengan sangat sederhana dan singkat. Jadi hampir tidak ada bedanya dengan pemakaman seorang Muslim. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-thumbnail wp-image-616 alignleft" title="mother_by_nariscuss" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/07/mother_by_nariscuss-150x150.jpg" alt="mother_by_nariscuss" width="150" height="150" />Salah satu rumor besar yang mengiringi kematian raja musik pop dunia, Michael Jackson adalah: apakah Jackoâ€”begitu panggilannyaâ€”seorang Muslim? Jacko sendiri semasa hidupnya tak pernah mengeluarkan pernyataan di depan publik bahwa ia seorang Muslim.</p>
<p>Ketika mengumumkan kematian adiknya, Jermaine Jacksonâ€”yang memang seorang Muslimâ€”mengakhirinya dengan ucapan, â€œSemoga Allah senantiasa bersamamu, Michael.â€ Tapi itu saja sama sekali belum cukup untuk menunjukkan bahwa Jacko adalah Muslim. Tahun 2007, Jermaine mencoba mengajak Jacko untuk memeluk Islam.</p>
<p><span id="more-608"></span></p>
<p>Jadi selama tidak ada pernyataan atau dokumentasi yang bisa dijadikan sebagai bukti bahwa ia seorang Muslim, hal terakhir yang bisa dilihat adalah pemakamannya yang akan diselenggarakan akhir pekan ini, yang rencananya akan dilakukan di Neverland, sebuah kebun binatang dan dunia fantasi milik Jacko pribadi yang berlokasi di Los Angeles.</p>
<p>Seperti diketahui bahwa keluarga Jackson adalah para pemeluk Kristen Yehovah dan saat ini anggota keluarga Jackson tengah sibuk menginginkan pemakaman Jacko menurut keyakinan mereka. Sejauh ini, semua prosesi pra-pemakaman Jacko tidak seperti cara-cara orang Islam. Secara umum, kremasi dan otopsi dalam Islam selalu dilakukan dengan segera pada seorang Muslim yang meninggal, biasanya hanya satu atau dua hari setelah meninggal.</p>
<p>Sedangkan dalam keyakinan Yehovah, pemakaman biasanya dilakukan dengan sangat sederhana dan singkat. Jadi hampir tidak ada bedanya dengan pemakaman seorang Muslim. Namun, satu-satunya hal yang kuat dalam pemakaman Jacko adalah, apakah akan ada pengumandangan adzan? Hal ini lah yang akan menjadi bukti dan petunjuk terakhir apakah Jacko benar-benar memeluk Islam ataukah tidak.</p>
<p>Prosesi pemakaman Jackson mungkin akan dilaksanakan secara Islam atau menurut keyakinan Yehovah atau gabungan keduanya. Jika karir artis Michael Jackson masih tetap berlangsung dan dapat dijual, opsi ketiga tampaknya tak akan menjadi sebuah kejutan sama sekali.</p>
<p>sumber :<a href="http://eramuslim.com/berita/dunia/jawaban-terakhir-pemakaman-michael-jackson.htm" target="_self">eramuslim</a></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2009/07/08/jawaban-terakhir-pemakaman-michael-jackson/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2009/07/08/jawaban-terakhir-pemakaman-michael-jackson/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2009/07/08/jawaban-terakhir-pemakaman-michael-jackson/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/07/08/jawaban-terakhir-pemakaman-michael-jackson/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dianggap Gila Setelah Menemukan Islam</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2008/02/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2008/02/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2008 10:31:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kewarganegaraan]]></category>
		<category><![CDATA[mabuk]]></category>
		<category><![CDATA[Mereka]]></category>
		<category><![CDATA[muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nikmatnya]]></category>
		<category><![CDATA[tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2008/02/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya, ia menikmati hidup dengan hura-hura. Pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan. Pokoknya â€œhappy.&#8221; Tapi ia dianggap &#8220;gila&#8221; setelah menemukan Islam Namanya Yahya Schroeder. Ia muallaf baru asli Jerman. Memeluk Islam setahun lalu atau tepatnya Nopember 2006. Saat itu ia berusia 17 tahun. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, Yahya justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs www.readingislam.com (11/9) ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman dengan sesame saudara se-Islam, terutama yang berdomisili di negara non-Muslim. *** Sebagai seorang muallaf, Yahya mengaku lebih mudah mengikuti dan mengamalkan Islam ketimbang muslim tradisonal yang lahir dan dibesarkan di Jerman. Ada sebagian pemuda muslim yang lahir disana, sepengetahuan Yahya, justru ingin dikenal sebagai orang Jerman. â€œMereka tidak bangga dengan Islamnya. Bagi mereka Islam hanyalah sebuah tradisi. Malah ada yang berani menggadaikan keislamannya hanya agar bisa berganti kewarganegaraan,â€ ungkap pemuda murah senyum itu. Naâ€™uzubillah!. Memang, seperti diakui Yahya, hidup sebagai seorang Muslim di Jerman tidaklah mudah. â€œJika orang Jerman ditanya apa yang mereka ketahui tentang Islam, maka mereka akan jawab Islam identik dengan yang berbau Arab. Jadi persis seperti sebuah simbol operasi dalam matematika, Islam=Arab. Mereka belum tahu kebesaran Islam yang sebenarnya,â€ imbuhnya. Masa remaja penuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/masuk%20islam.jpg" alt="http://hidayatullah.com/images/stories/masuk%20islam.jpg" align=left /> Sebelumnya, ia menikmati hidup dengan hura-hura. Pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan. Pokoknya â€œhappy.&#8221;  Tapi ia dianggap &#8220;gila&#8221; setelah  menemukan Islam<br />
<span id="more-453"></span><br />
Namanya Yahya Schroeder. Ia muallaf baru asli Jerman. Memeluk Islam setahun lalu atau tepatnya Nopember 2006. Saat itu ia berusia 17 tahun. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, Yahya justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs www.readingislam.com (11/9) ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman dengan sesame saudara se-Islam, terutama yang berdomisili di negara non-Muslim.</p>
<p>***</p>
<p>Sebagai seorang muallaf, Yahya mengaku lebih mudah mengikuti dan mengamalkan Islam ketimbang muslim tradisonal yang lahir dan dibesarkan di Jerman. Ada sebagian pemuda muslim yang lahir disana, sepengetahuan Yahya, justru ingin dikenal sebagai orang Jerman. â€œMereka tidak bangga dengan Islamnya. Bagi mereka Islam hanyalah sebuah tradisi. Malah ada yang berani menggadaikan keislamannya hanya agar bisa berganti kewarganegaraan,â€ ungkap pemuda murah senyum itu. Naâ€™uzubillah!.</p>
<p>Memang, seperti diakui Yahya, hidup sebagai seorang Muslim di Jerman tidaklah mudah.</p>
<p>â€œJika orang Jerman ditanya apa yang mereka ketahui tentang Islam, maka mereka akan jawab Islam identik dengan yang berbau Arab. Jadi persis seperti sebuah simbol operasi dalam matematika, Islam=Arab.  Mereka belum tahu kebesaran Islam yang sebenarnya,â€ imbuhnya.</p>
<p><strong>Masa remaja penuh ceria</strong></p>
<p>Yahya dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggiran Potsdam. Ia tergolong anak keluarga berada. â€œAku tinggal di sebuah rumah mewah dengan ibu dan ayah tiriku. Rumah kami memiliki halaman yang cukup luas dan ada kolam renangnya. Sebagai seorang remaja aku sangat menikmati hidup ini. Punya banyak teman, kami sering bikin pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan, dan acara gila-gilaan lainnya. Ya seperti kebanyakan pemuda Jerman umumnya, Pokoknya happy,â€ ujar Yahya mengenang.</p>
<p>â€œKala itu aku punya segalanya; rumah mewah, mobil, uang, dan berbagai macam jenis mainan canggih. Aku tidak pernah kekurangan uang, tapi entahlah, aku merasa hidup tidak tenang, selalu gelisah. Kala itu pun aku berpikir untuk mencari â€œsesuatuâ€ yang lain,â€ sambungnya.</p>
<p>Memasuki umur 16 tahun ia bersua dengan komunitas Muslim di kota Potsdam melalui perantaraan ayah kandungnya. Ayahnya memang telah duluan memeluk Islam tahun 2001. Ya kendati telah bercerai dengan sang ibu, namun Yahya senantiasa menjenguk ayahnya sekali dalam sebulan dan sering pula menghadiri pengajian warga muslim disana.</p>
<p>Secara perlahan, Yahya mulai tertarik dengan Islam. Rupanya sang ayah memerhatikan gejala itu. Sang Ayah ingin ia belajar lebih jauh tentang Islam dari orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi. Sejak saat itu Yahya mulai serius belajar Islam dan menghadiri forum pengajian rutin setiap bulannya.</p>
<p>Satu ketika, terjadilah sesuatu yang tak diinginkan, yang nantinya merubah semua jalan hidupnya. â€œCeritanya, satu hari aku ikut kawan-kawan pergi berenang. Nah saat melompat ke kolam, aku terpeleset dan jatuh tidak sempurna. Akibatnya, punggungku mengalami retak berat dan kepala berbenturan hebat dengan dasar kolam. Cederaku cukup parah hingga ayah segera melarikanku ke rumah sakit.â€</p>
<p>â€œDi rumah sakit, dokter menyarankan agar jangan banyak bergerak. Cedera punggungku cukup parah yang mengakibatkan engsel tangan kanan bergeser. Katanya: â€œNak, janganlah banyak bergerak. Sedikit saja salah bergerak bisa menyebabkan cacat nantinya.â€ Kalimat dokter itu sungguh sangat tidak membantu. Malah membuatku tertekan luar biasa.â€</p>
<p>Sejurus kemudian, sebelum dibawa ke ruang operasi, Ahmir salah seorang sahabatnya berujar.â€Yahya, hidupmu kini ada di tangan Allah. Ini mirip seperti sebuah perjudian, antara hidup dan mati. Kini kamu berada di puncak kenikmatan dari sebuah pencarian. Bertahanlah, sabarlah sahabat. Allah pasti bantu.â€ Kalimat Ahmir dirasakan Yahya sangat luar biasa. Ia sangat termotivasi dan semangat hidupnya muncul kembali.</p>
<p>â€œOperasi berjalan selama lima jam dan aku siuman selepas 3 hari. Saat terjaga tangan kananku sulit digerakkan. Namun, entah mengapa, aku merasa orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Bahkan kepada dokter kuberitahukan bahwa aku tidak peduli dengan cedera yang kualami. Aku justru bahagia Allah masih mengizinkanku hidup,â€ kenang Yahya.</p>
<p>â€œDokter mengatakan aku harus tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan. Tapi tahukah kawan, aku dirawat cuma dua pekan saja! Itu karena aku latihan rutin dan penuh disiplin. Satu hari dokter datang dan bilang: â€Hari ini kita coba latihan naik tangga ya.â€ Padahal tanpa sepengetahuan mereka sebenarnya aku telah melakukan latihan atas inisiatif sendiri, dua hari sebelum dokter datang,â€ sambungnya. Begitulah, akhirnya ia dapat menggerakkan kembali tangan kanannya seperti sediakala dan cuma dua pekan di rumah sakit.</p>
<p>â€œKecelakaan itu telah mengubah jalan hidupku. Aku jadi suka merenung. Jika Allah inginkan sesuatu, maka kehidupan seorang individu bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Aku pun mulai serius berpikir tentang hidup ini dan Islam tentunya. Keinginan untuk memeluk Islam makin menjadi-jadi, yang berarti harus meninggalkan rumah, keluarga yang kucintai dan semua kemewahan hidup disana,â€ungkapnya. Akhirnya ia memutuskan pindah ke Potsdam.</p>
<p>Kala pindah ke Potsdam Yahya cuma membawa beberapa lembar pakaian, buku sekolah dan beberapa CD kesayangannya. Ia tinggal sementara di apartemen ayahnya.</p>
<p>â€œKecil memang tempatnya, hingga aku musti tidur di dapur. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku merasa bahagia. Sangat bahagia, persis seperti kala terjaga dari siuman di rumah sakit selepas kecelakaan hebat itu.â€</p>
<p><strong>Mengucap dua kalimah syahadah</strong></p>
<p>Tak berapa lama ia mulai menjalani hari pertama di sekolah. Mendadak semua serba baru baginya. Apartemen baru, sekolah baru, teman baru dan pertamakali tanpa keluarga lengkap. Persis sehari selepas hari pertama di sekolah, ia pun bersyahadah. Begitu teman-teman sekolahnya tahu ia beragama Islam mulailah mereka mengejek dengan kalimat-kalimat usil.</p>
<p>â€œAda terorisâ€, â€œUsamah bin Laden datang,â€ â€œIslam itu kotorâ€. Begitu mereka mengejek Yahya. Sebagiannya malah ada yang menganggapnya gila. Lebih parahnya lagi, bahkan ada yang tidak percaya ia orang Jerman asli.</p>
<p>â€œAku bisa maklumi, karena mereka hanya tahu Islam dari media yang cenderung memojokkan Islam,â€ tukasnya</p>
<p>Akan tetapi setelah 10 bulan berjalan situasinya benar-benar berubah. Sikap teman-temannya berubah drastis. Rekan-rekan sekelasnya berhenti bersikap usil. Malah mereka sering bertanya tentang Islam. Pandangan mereka tentang Islam pun berubah. Menurut mereka, ternyata Islam itu cool! Indah! Subhanallah!</p>
<p>â€œPerubahan itu tentu saja tidak serta merta. Secara halus dan perlahan aku melakukan dakwah di kelas. Tentu saja bukan dengan ceramah agama. Sikap dan tingkah lakulah yang banyak membantu mereka mengenal Islam. Percaya tidak, kini aku bahkan punya ruang shalat khusus. Padahal akukah satu-satunya siswa Muslim di sekolah itu,â€ ujar Yahya senang.</p>
<p>â€œMereka baru tahu ternyata Islam punya adab atau tata tertib dalam hidup. Yang menarik bagi mereka, Islam tidak ekslusif, tidak mengelompokkan diri dalam kelompok-kelompok khusus. Seperti di sekolahku ini,â€ imbuhnya.</p>
<p>Dikatakannya, di sekolah itu ada tiga kelompok utama yakni kelompok yang suka hura-hura. kongkow-kongkow; lalu ada kelompok punk; dan satunya lagi kelompok yang suka pesta-pestaan. Setiap orang selalu mencoba untuk jadi anggota kelompok dari salah satu grup, semata-mata supaya diterima oleh yang lainnya.</p>
<p>â€œKecuali aku! Aku tidak masuk kelompok manapun, namun diterima oleh semua mereka. Aku bisa menjadi teman bagi setiap orang. Tidak perlu menggunakan pakaian tertentu supaya dibilang â€œcool.â€ Bahkan mereka selalu mengundangku, demikian juga teman-temanku yang Islam pada acara-acara mereka,â€ kisah Yahya.</p>
<p>Mereka menaruh respek pada Yahya sebagai seorang muslim. Bahkan lebih dari itu, jika ada acara mereka secara khusus menyiapkan makanan halal untuknya. Misalnya acara bakar sate, maka mereka siapkan dua alat pembakar. Satunya untuk mereka dan satunya lagi khusus untuk Yahya dan rekan-rekan Muslimnya.</p>
<p>â€œBukan main! Kini mereka benar-benar terbuka dengan Islam. Aku hanya berdoa agar Allah beri mereka hidayah. Amiin,â€ harapnya sembari berdoa.</p>
<p>Selepas memeluk Islam, kesibukan Yahya kini bertambah. Ia menjadi produser film. YaYa Productions nama perusahaannya yang berlokasi di Potsdam. Produksinya terutama film-film dokumenter yang kebanyakan mengisahkan perjalanan hidup seorang muallaf dan kebanyakan dalam bahasa Jerman dengan terjemahan bahasa Inggris.</p>
<p>â€œTujuan aku buat film adalah untuk menunjukkan kepada kalangan non-Muslim bagaimana Islam yang sebenarnya. Jauh dari apa yang ditampilkan media selama ini. Mudah-mudahan film-film itu bisa mencerahkan pandangan mereka,â€ ujar Yahya yang meyakini pekerjaannya itu sebagai bagian dari dakwah. [zulkarnain jalil (Aceh)/www.hidayatullah.com]</p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2008/02/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2008/02/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2008/02/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2008/02/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suatu Hari Natal Orde Baru</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2008/01/29/suatu-hari-natal-orde-baru/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2008/01/29/suatu-hari-natal-orde-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 04:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[makan makan]]></category>
		<category><![CDATA[makanan dan minuman]]></category>
		<category><![CDATA[masih]]></category>
		<category><![CDATA[mbak]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[orde baru]]></category>
		<category><![CDATA[presiden soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[saja]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2008/01/29/suatu-hari-natal-orde-baru/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu pagi di bulan Desember, sekian tahun silam. Orde Baru dan Presiden Soeharto masih sangat berjaya. Pemerintahan tunggal Golkar-ABRI bukan saja berhasil membuat kaum Muslimin takut ber-Islam tetapi bahkan malu mengaku Muslim. Saya bergegas masuk ke kantor tempat saya baru saja mulai bekerja sebagai wartawan sebuah koran di Jakarta, menaiki tangga sempit menuju lantai 2 bangunan sederhana di sebelah gedung megah perusahaan penerbitan terbesar di Indonesia. Saya membuka pintu newsroom dan berhadapan langsung dengan sebuah pohon Natal raksasa di tengah ruangan. Begitu besar dan tingginya pohon tersebut sehingga pucuknya bukan sekedar menyentuh langit-langit namun bahkan melengkung dan tertekuk. &#8220;Ooopsâ€¦&#8221; ujar saya, lalu berpaling kepada sekretaris pemimpin redaksi, seorang Muslimah keturunan Arab yang tidak berhijab. &#8221;Natalnya masih lama Mbakâ€¦tapi sudah dipasang ya.&#8221; &#8220;Ya memang begitu,&#8221; ujarnya dengan suara biasa saja. Maka sejak hari itu sampai sekian waktu sesudahnya, saya bekerja di bawah naungan (dan keluar masuk newsroom melingkari) pohon Natal besar itu. Dari waktu ke waktu saya lihat hiasannya bertambah, dan Mbak SekRed ikut membantu menambahkan. Dari waktu ke waktu saya lihat kesibukannya menerima dan mendistribusikan kiriman kartu dan hadiah Natal, baik yang ditujukan kepada Pak PemRed maupun staf lainnya. Sampai tiba pengumuman akan dilangsungkannya perayaan Natal di kantor pada suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/hijab-natal.jpg" alt="http://hidayatullah.com/images/stories/hijab-natal.jpg" align=left /><br />
Suatu pagi di bulan Desember, sekian tahun silam. Orde Baru dan Presiden Soeharto masih sangat berjaya. Pemerintahan tunggal Golkar-ABRI bukan saja berhasil membuat kaum Muslimin takut ber-Islam tetapi bahkan malu mengaku Muslim.<br />
<span id="more-447"></span></p>
<p>Saya bergegas masuk ke kantor tempat saya baru saja mulai bekerja sebagai wartawan sebuah koran di Jakarta, menaiki tangga sempit menuju lantai 2 bangunan sederhana di sebelah gedung megah perusahaan penerbitan terbesar di Indonesia. Saya membuka pintu newsroom dan berhadapan langsung dengan sebuah pohon Natal raksasa di tengah ruangan. Begitu besar dan tingginya pohon tersebut sehingga pucuknya bukan sekedar menyentuh langit-langit namun bahkan melengkung dan tertekuk. &#8220;Ooopsâ€¦&#8221; ujar saya, lalu berpaling kepada sekretaris pemimpin redaksi, seorang Muslimah keturunan Arab yang tidak berhijab.</p>
<p>&#8221;Natalnya masih lama Mbakâ€¦tapi sudah dipasang ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya memang begitu,&#8221; ujarnya dengan suara biasa saja.</p>
<p>Maka sejak hari itu sampai sekian waktu sesudahnya, saya bekerja di bawah naungan (dan keluar masuk newsroom melingkari) pohon Natal besar itu. Dari waktu ke waktu saya lihat hiasannya bertambah, dan Mbak SekRed ikut membantu menambahkan. Dari waktu ke waktu saya lihat kesibukannya menerima dan mendistribusikan kiriman kartu dan hadiah Natal, baik yang ditujukan kepada Pak PemRed maupun staf lainnya.</p>
<p>Sampai tiba pengumuman akan dilangsungkannya perayaan Natal di kantor pada suatu sore; seluruh karyawan diharapkan hadir untuk bersalam-salaman dengan mereka yang merayakan Natal. Ada makanan dan minuman disediakan. Di sore itu, saya kembali dari liputan di DPR sekitar waktu Ashar. Begitu masuk kantor, suasana meriah sudah terlihat. Orang lalu lalang dan turun naik membawa makanan dan minuman di tangan dari dan ke lantai 2 tempat berlangsungnya acara. &#8221;Apaan tuh?&#8221; tanya saya berlagak bego.</p>
<p>&#8220;Makan-makan Mbak,&#8221; jawab seorang petugas kebersihan berseragam hijau. &#8221;Banyak banget makanannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Emang ada apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kan Natalan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oohâ€¦&#8221; sahut saya lalu bergegas menuju mushala, sebuah ruangan sementara dengan dinding tripleks bercat putih di lantai dasar. Saya shalat lamaaaaaaaaâ€¦.sekali. Bukan karena saya orang shalih lho, tapi karena saya bingung. Maklum, ilmu agama cuma sedikit, tapi otak saya sudah mengingatkan kembali bahwa haram hukumnya bagi seorang Muslim mengucapkan selamat hari Natal atau ikut dalam perayaan-perayaannya, sementara hati saya pun sudah menjerit, &#8220;Jangan naik ke atas, jangan bergabung dengan mereka.&#8221;</p>
<p>Tapi, bagaimana caranya menunjukkan sikap ini tanpa menimbulkan masalah tambahan bagi saya? Saya ini karyawan percobaan, satu-satunya wartawan berjilbab di sebuah koran yang didominasi kaum Nashara. Saya harus menghadapi tantangan dobel: membuktikan bahwa saya Muslimah pintar dan berprestasi di kantor, sekaligus sabar menghadapi diskriminasi terhadap Muslimah berjilbab di Indonesia saat itu. Masa saya masih harus menambahkan cap ekstrimis dan radikal serta anti-toleransi beragama karena tidak mau ikut Natalan, ke dalam gerobak masalah saya?</p>
<p>Saya memperlama shalat saya karena saya berdoa dulu, minta petunjuk Allah tentang bagaimana sebaiknya bersikap. &#8221;Ya Allah, apa sebaiknya saya keluar kantor saja lagi ya? Bilang saja, mau wawancara narasumber kek. Ah, tapi tadi sudah ada sejumlah teman non-Muslim yang melihat saya datang. Gimana dong ya Allah?&#8221;</p>
<p>Selama-lamanya shalat dan berdoa, kan tidak mungkin terus menerus. Akhirnya selesai juga shalat dan munajat saya, sementara saya masih dalam keadaan bingung. Saya duduk bersandar lamaaaâ€¦sekali di dalam mushala. Silih berganti para lelaki Muslim (yaitu pegawai cleaning service berseragam hijau) masuk untuk shalat Ashar (sementara para karyawan lain yang mengaku Muslim sudah ramai tertawa-tawa makan minum di atas). Ada seseorang yang bertanya, &#8221;Mbak nggak ke atas?&#8221;</p>
<p>&#8221;Nggak ah,&#8221; jawab saya. Lalu, nggak tahu dari mana asalnya, tapi kayaknya dari Allah, terlontar dari mulut saya. &#8221;Kan Muslim nggak boleh menghadiri perayaan Natal. Haram kan?&#8221;</p>
<p>Si petugas kebersihan itu terdiam sejenak. Tangannya mengusap-usap wajahnya yang masih basah oleh wudhu. &#8220;Jadi kita nggak usah ke atas?&#8221;</p>
<p>Saya tahu biasanya petugas cleaning service baru berani mengambil makanan dalam acara makan-makan sesudah kaum elit (misalnya, PemRed, Direktur-direktur, Editor, Reporter) menghabiskan sebagian besar hidangan. Tapi saya jawab juga, &#8221;Kalau saya sih nggak ah. Di sini aja ah. Sampai pesta selesai.&#8221;</p>
<p>&#8221;Gitu ya Mbak?&#8221;</p>
<p>&#8221;Ya lah.&#8221;</p>
<p>Tak lama kemudian, masuk seorang karyawan yang lebih senior daripada saya, seorang lelaki Muslim. Siap-siap shalat.</p>
<p>&#8221;Nggak ke atas Mas? Selama ini, bagaimana Anda bersikap pada kesempatan seperti ini?&#8221;</p>
<p>Dia memahami maksud pertanyaan saya. Lalu dia menjelaskan panjang lebar pergulatan batinnya pada saat-saat seperti itu; di satu pihak, ada unspoken rule bahwa semua karyawan, tidak perduli agamanya, harus mengikuti perayaan Natal karena bukankah karyawan Nashara juga ikut dalam perayaan Idul Fitri? Di lain pihak, dia pun tahu bahwa haram hukumnya bagi seorang Muslim ikut perayaan Natal.</p>
<p>Karena si Senior tampak bimbang, saya malahan menjadi lebih berani. &#8221;Ya sudah Mas. Di sini saja. Sampai selesai.&#8221;</p>
<p>Itulah yang saya lakukan, ngumpet di mushala sampai perayaan Natal selesai. Begitu saya bersiap-siap mulai membuat berita, ada seseorang menyodorkan sepiring kecil berisi kue coklat yang tampaknya lezat sekali. &#8221;Ini, aku sisihkan untuk teman yang tadi nggak hadir,&#8221; katanya. Saya berterimakasih namun menolak. &#8221;Maaf, saya ndak boleh makan ini.&#8221;</p>
<p>&#8221;Kenapa sih? Diet ya?&#8221; tanya si teman, matanya menyelusuri gamis longgar saya.</p>
<p>&#8221;Nggak. Itu kue Natal. Saya Muslim, nggak boleh ikutan Natal dan berarti juga nggak bisa ikutan makan kue-kuenya,&#8221; saya menjawab dengan nada &#8221;dibiasa-biasain&#8221; saja. Padahal jantung berdentam-dentam cemas karena yang menawari kue sangat dekat dengan PemRed yang Kristen itu.</p>
<p>Masih dengan gaya sok biasa, saya menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin lalu pulang. Dalam waktu singkat, seperti saya duga, sejumlah teman segera tahu bahwa saya &#8221;mengharamkan&#8221; ikut perayaan Natal. Meski bukan saya yang &#8221;mengharamkan&#8221; lho, tapi fatwa MUI dibawah pimpinan Almarhum Buya HAMKA.</p>
<p>Seorang teman, perempuan non-Muslim, menandai sikap saya ini. Suatu kali dalam kesempatan meliput bersama (maksudnya, saya ingin nebeng mobilnya), dia menanyakan hal itu dan saya jawab apa adanya. &#8220;Bagi Muslim haram hukumnya menghadiri perayaan Natal.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba saja dia menjawab, &#8220;Tahu nggak sih kamu, menurut agamaku, aku tuh nggak boleh bergaul sama kamu. Sebagai &#8216;anak-anak terang&#8217;, kami sebenarnya nggak boleh bergaul dengan kalianâ€¦&#8221;</p>
<p>Saya tidak tahu, apakah dia ingin mengatakan &#8220;tapi aku tetap bergaul denganmu karena aku bertoleransi&#8221; ataukah dia ingin mengatakan &#8220;aku berani melanggar larangan agamaku karena pekerjaanku mengharuskan aku bergaul dengan yang bukan anak-anak &#8216;terang&#8217;?&#8221; Yang terlintas di pikiran saya malahan ini: &#8220;Apa ya, lawan katanya &#8216;anak terang&#8217;? Apakah &#8216;anak gelap&#8217;?&#8221;</p>
<p>Tapi yang muncul dari mulut saya (yang mudah-mudahan karena dituntun oleh Allah Ta&#8217;ala) adalah ini, &#8221;Lho, saya nggak apa-apa kok, kalau kamu nggak mau bergaul denganku. I&#8217;m only practicing my faith, Islam, so if you wish to observe your religious teaching, by all means, please do so. Saya melaksanakan iman Islam saya, jadi kalau kamu juga mau menjalankan agamamu, lha monggo.&#8221;</p>
<p>Teman saya ini hanya tersenyum kecil dengan gayanya yang cool. Lalu mengambil kunci mobil dan membukakan pintu bagi saya. &#8221;Ayo naik,&#8221; katanya, dan kami pun berangkat meliput.</p>
<p>Tak terasa setahun terbang begitu cepat, datang lah Desember berikutnya. Saya sempat memikirkan kembali bagaimana cara melarikan diri dari kantor pada waktu itu. Tetapi suasana kantor malahan adem ayem. Tak ada orang menggotong-gotong pohon Natal raksasa yang sampai mentiung karena tingginya. Hanya ada satu pohon Natal ukuran sedang di ruangan PemRed.</p>
<p>Dengan suara &#8220;dibiasa-biasain&#8221; saya hampiri Mbak SekRed. &#8221;Nggak ada perayaan tahun ini Mbak?&#8221;</p>
<p>&#8221;Nggak. Nggak ada perayaan Natal. Nggak ada perayaan Idul Fitri,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8221;Oohâ€¦&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya tidak tahu bagaimana akhirnya pihak manajemen, yang dipenuhi orang-orang Kristen taat, sampai pada keputusan itu dan mengapa. Emangnya gue pikirin? Yang penting, saya tidak usah bimbang lagi. Dalam hati saya berseru, &#8221;Allahu Akbar! Nggak apa-apa nggak ada perayaan Idul Fitri di kantor! Enakan makan ketupat dan sayur pepaya masakan emakku di rumah!&#8221; [www.hidayatullah.com]</p>
<p>* penulis seorang wartawan dan ibu rumah tangga, tinggal di Depok.   </p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2008/01/29/suatu-hari-natal-orde-baru/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2008/01/29/suatu-hari-natal-orde-baru/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2008/01/29/suatu-hari-natal-orde-baru/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2008/01/29/suatu-hari-natal-orde-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adzan itu Masih Terngiang di Telingaku</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2007/07/11/adzan-itu-masih-terngiang-di-telingaku/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2007/07/11/adzan-itu-masih-terngiang-di-telingaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jul 2007 08:18:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran islam]]></category>
		<category><![CDATA[al arabiyah]]></category>
		<category><![CDATA[datang ke]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islamic cultural center of new york]]></category>
		<category><![CDATA[mengatakan]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2007/07/11/adzan-itu-masih-terngiang-di-telingaku/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural Center of New York lebih awal. Selain ingin melihat dari dekat jalannya Weekend School (sekolah akhir pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya minta agar dipersilahkan datang setelah Zuhur sehingga bergabung dengan the Islamic Forum for non Muslims, kelas khusus setiap pekan bagi orang-orang non-Muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tapi rupanya, orang tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu. Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau Libanon). Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya: â€œHi, whatâ€™s your name and where are you from?â€ Dengan sedikit tersenyum dia menjawab: â€œHi,. I am Jemie. I am from here but my parents are from Texasâ€. Saya ingin tahu kefasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya: â€œHow come you said salaam in way thatâ€™s so perfect? I tended not to believe that youâ€™re an Americanâ€. â€œOh..I know Arabic and speak it fluentlyâ€ jawabnya cepat. Mendengar itu, saya balik stir dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="image411" height=35 alt=masjid1.jpg src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2007/07/masjid1.thumbnail.jpg" align=left /></p>
<p>Sabtu 9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural Center of New York lebih awal. Selain ingin melihat dari dekat jalannya Weekend School (sekolah akhir pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya minta agar dipersilahkan datang setelah Zuhur sehingga bergabung dengan the Islamic Forum for non Muslims, kelas khusus setiap pekan bagi orang-orang non-Muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tapi rupanya, orang tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu.<br />
<span id="more-410"></span></p>
<p>Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau Libanon).</p>
<p>Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya: â€œHi, whatâ€™s your name and where are you from?â€ Dengan sedikit tersenyum dia menjawab: â€œHi,. I am Jemie. I am from here but my parents are from Texasâ€. Saya ingin tahu kefasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya: â€œHow come you said salaam in way thatâ€™s so perfect? I tended not to believe that youâ€™re an Americanâ€. â€œOh..I know Arabic and speak it fluentlyâ€ jawabnya cepat.</p>
<p>Mendengar itu, saya balik stir dari Inggris ke Arab. â€œAena darasti al Arabiyah?â€ tanyaku. â€œDarastuha fi Suriyah, lakin qabla sanawaatâ€, jawabnya. Tanpa terasa percakapan saya dengannya memakan waktu cukup panjang dalam bahasa Arab, termasuk kenapa sampai belajar bahasa Arab di Suriah dan untuk apa. Dari penjelasannya, ternyata dia bekerja di Kementrian Luar Negeri dan sekarang ini pindah tugas di DPI (Department of Public Information) PBB New York.</p>
<p>Saya kemudian memulai bertanya tentang keinginannya mengetaui Islam. â€œI know a lot about Islam. Basically I am coming this morning because I feel this is the right time for meâ€, katanya. â€œWhat do you mean the right time?â€ tanyaku. Dengan sedikit serius dia menjelaskan: â€œFor the last many years, about 10 years, I have been so confused and struggling within my selfâ€. â€œWhy is that?â€ tanyaku dengan sedikit heran.</p>
<p>Tiba-tiba saja, Jemie yang tadinya nampak tegar dan selalu tersenyum itu, kini meneteskan airmata. â€œYou know, I tried my best not to thisâ€, katanya sambil mengusap air matanya. â€œWhy is that?â€ tanyaku. â€œThis may kill my careerâ€ katanya agak gusar. Saya kemudian bertanya dengan serius: â€œWhat do you mean killing your career?â€. Seolah memaksakan tersenyum, Jemie mengatakan bahwa dia khawatri kalau masuk Islam akan susah meniti karir yang lebih tinggi.</p>
<p>Saya kemudian bertanya lebih jauh: â€œWhy do you think in that way?â€. Ternyata karena pengalaman yang dia lihat selama ini di beberapa negara Muslim. Menurutnya, mayoritas wanita Muslim di negara-negara Muslim tidak bekerja dan lebih memperioritaskan dirinya kepada pekerjaan-pekerjaan rumah saja.</p>
<p>Saya kemudian mencoba menjelaskan ke Jemie bahwa tidak ada peraturan dalam Islam yang membatasi karir kaum wanita. Walau memang perlu diketahui bahwa karir itu akan dilihat kepada prioritas-prioritas tuntutan hidup. Kalau seandainya menjadi ibu rumah tangga itu menjadi tuntutan utama bagi wanita, dan ketika dipaksakan untuk meniti karir di luar maka berarti terjadi â€œkesemrawutanâ€ dalam hidup.</p>
<p>Dari penjelasan-penjelasan yang cukup panjnag itu nampaknya Jemie sudah banyak tahu. Cuma ada semacam ketakutan tersendiri bahwa nantinya setelah menjadi Muslim dia akan dilarang untuk berkarir. â€œIn fact, Islam wants all Muslim women to be professional. Didnâ€™t you read the hadith that commands the women to study as men?â€, jelasku.</p>
<p>Kini Jemie nampak lebih tenang. Hampir tidak berbicara dan bahkan beberapa kali saya pancing untuk bertanya juga tidak dihiraukan. Tiba-tiba saja sekali lagi nampak berlinang airmata dan mengatakan: â€œI have some thing to tell you!â€ â€œWhatâ€™s that?â€ tanyaku. Dia dengan nampak serius sekali walaupun terus meneteskan airmata mengatakan: â€œWhen I was in Syria around ten years ago, I was so impressed with the Adzanâ€. Saya mengatakan bahwa memang adzan orang-orang Suriah itu indah. â€œTheir voice is softer than other Arabs, kata saya. â€œBut I swear, that adzan never gone from my ear. I feel being listening to it all the timeâ€ katanya serius.</p>
<p>Tanpa sadar, saya langsung mengatakan â€œSubhanallah!â€. Ternyata dia juga sudah tahu maknanya. Saya kemudian mengatakan: â€œSister, God is loving you. Your heart is being attached to the divine inspiration, and I am sure you are being blessed with thatâ€. Nampak Jemie hanya menangis mendengar nasehat-nasehat saya itu.</p>
<p>Akhirnya, setelah memanggil dua saksi, Jemie dengan berlinang airmata secara resmi menerima Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!</p>
<p>Semoga Jemie selalu dikuatkan di jalanNya! Amin!</p>
<p>New York, 18 Juni 2007</p>
<p>* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik &#8220;Kabar Dari New York&#8221; di www.hidayatullah.com.</p>
<p>Share this article</p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2007/07/11/adzan-itu-masih-terngiang-di-telingaku/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2007/07/11/adzan-itu-masih-terngiang-di-telingaku/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2007/07/11/adzan-itu-masih-terngiang-di-telingaku/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2007/07/11/adzan-itu-masih-terngiang-di-telingaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya Kenapaaa ?</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2006/08/04/tanya-kennapa/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2006/08/04/tanya-kennapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Aug 2006 09:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humor Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[al qur]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat]]></category>
		<category><![CDATA[berkerudung cadar]]></category>
		<category><![CDATA[boleh]]></category>
		<category><![CDATA[cokat wanita berkerudung]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[ekstrim]]></category>
		<category><![CDATA[mail www]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nama islam]]></category>
		<category><![CDATA[wanita islam]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2006/08/04/tanya-kennapa/</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa seseorang Yahudi diperbolehkan menyimpan janggut untuk mengamalkan kepercayaannya&#8230; Akan tetapi bila seorang Muslim berbuat demikian, dia dianggap ekstrim dan Terorist? Mengapa seseorang rahib boleh berkerudung keseluruhan tubuhnya karena memperhambakan diri kepada Tuhannya.. &#8230;tetapi bila seseorang Muslimah melakukan begitu, dia ditekan ? Mengapa bila wanita barat menjadi ibu rumah tangga, dia dihormati kerana dikatakan berkorban untuk keluarganya&#8230; Â  &#8230;tetapi bila wanita Islam berbuat begitu, mereka kata, &#8221; dia mesti dibebaskan! &#8221; Mengapa anak &#8211; anak gadis yang sekuler dibiarkan berpakaian mengikut kesukaannya karena punyai hak dan kebebasan&#8230; &#8230;tetapi bila seseorang wanita Muslim memakai hijab, dia tidak boleh menjejakkan kakinya ke sekolah? Mengapa bila seseorang Kristian atau Yahudi membunuh, agamanya tidak dikaitkan &#8230; tetapi baru saja seseorang Muslim didakwa melakukan pembunuhan, maka nama Islam turut diadili! Mengapa bila seseorang berkorban diri untuk melihat orang lain hidup, dia amat disanjungi&#8230; &#8230;tetapi bila seseorang warga Palestin melakukannya untuk menyelamatkan diri, keluarga, rumahtangga dan masjidnya, dia dikenali sebagai seorang pengacau? Mengapa kita terlalu percaya kepada surat kabar&#8230; &#8230;tetapi selalu persoalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur&#8217;anul Karim dan Sunnah Rasululloh? Source: Kiriman Teman via mail www.mbah-marijan.org Tweet]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa seseorang Yahudi diperbolehkan menyimpan janggut untuk mengamalkan kepercayaannya&#8230;<img id="image195" alt="ShowLetter1.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/ShowLetter1.thumbnail.jpg" align="left" /></p>
<p>Akan tetapi bila seorang Muslim berbuat demikian, dia dianggap ekstrim dan Terorist?</p>
<p><span id="more-201"></span></p>
<p>Mengapa seseorang rahib boleh berkerudung keseluruhan tubuhnya karena memperhambakan diri kepada Tuhannya..</p>
<p><img id="image197" alt="sus.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/sus.thumbnail.jpg" /></p>
<p><img id="image188" alt="jil.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/jil.thumbnail.jpg" /><br />
&#8230;tetapi bila seseorang Muslimah melakukan begitu, dia ditekan ?</p>
<p align="left"><img id="image200" alt="wan.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/wan.thumbnail.jpg" /></p>
<p align="left">Mengapa bila wanita barat menjadi ibu rumah tangga,<br />
dia dihormati kerana dikatakan berkorban untuk keluarganya&#8230;</p>
<p align="left">Â </p>
<p><img id="image199" alt="wan2.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/wan2.thumbnail.jpg" /><br />
&#8230;tetapi bila wanita Islam berbuat begitu, mereka kata, &#8221; dia mesti dibebaskan! &#8221;</p>
<p><img id="image194" alt="sadis.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/sadis.thumbnail.jpg" /><br />
Mengapa anak &#8211; anak gadis yang sekuler dibiarkan berpakaian mengikut kesukaannya karena punyai hak dan kebebasan&#8230;</p>
<p><img id="image189" alt="jilb2.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/jilb2.thumbnail.jpg" /></p>
<p>&#8230;tetapi bila seseorang wanita Muslim memakai hijab, dia tidak boleh menjejakkan kakinya ke sekolah?</p>
<p><img id="image198" alt="tanya.gif" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/tanya.thumbnail.gif" /><br />
Mengapa bila seseorang Kristian atau Yahudi membunuh, agamanya tidak dikaitkan &#8230; tetapi baru saja seseorang Muslim didakwa melakukan pembunuhan, maka nama Islam turut diadili!</p>
<p><img id="image196" alt="super.gif" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/super.thumbnail.gif" /></p>
<p>Mengapa bila seseorang berkorban diri untuk melihat orang lain hidup, dia amat disanjungi&#8230;</p>
<p><img id="image185" alt="anak4.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/anak4.thumbnail.jpg" /></p>
<p>&#8230;tetapi bila seseorang warga Palestin melakukannya untuk menyelamatkan diri, keluarga, rumahtangga dan masjidnya,<br />
dia dikenali sebagai seorang pengacau?</p>
<p><img id="image191" alt="koran.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/koran.thumbnail.jpg" /><br />
Mengapa kita terlalu percaya kepada surat kabar&#8230;</p>
<p><img id="image193" alt="quran.jpg" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2006/08/quran.thumbnail.jpg" /></p>
<p>&#8230;tetapi selalu persoalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur&#8217;anul Karim dan Sunnah Rasululloh?</p>
<p>Source: <em>Kiriman Teman via mail</em><br />
<a href="http://www.mbah-marijan.org/">www.mbah-marijan.org</a></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2006/08/04/tanya-kennapa/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2006/08/04/tanya-kennapa/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2006/08/04/tanya-kennapa/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2006/08/04/tanya-kennapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

