<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[m²]  Sepi Ing Pamrih - Rame Ing gawe ! &#187; Ahlussunnah</title>
	<atom:link href="http://mbah-marijan.org/tag/ahlussunnah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mbah-marijan.org</link>
	<description>Kliping Blog Simbah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 11:44:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=318</generator>
		<item>
		<title>Kisah: MANTAN PENDETA ROMA MENJADI AHLUS SUNNAH</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 04:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[.. kidah pendeta jadi muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[kesaksian muallaf mantan pastor]]></category>
		<category><![CDATA[kesaksian muallaf mantan pendeta]]></category>
		<category><![CDATA[kesaksian pastor mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[kisah kisah mualaf dari mantan pendeta atau pastor]]></category>
		<category><![CDATA[kisah mantan misionaris]]></category>
		<category><![CDATA[kisah para muallaf ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah pendeta dan pastur jadi mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[MANTAN PENDETA ROMA]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf pelabuhan ratu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[pendeta masuk islam di palangkaraya]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[taurat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syaikh Amjad bin Imron Salhub Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat. Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya. Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Taâ€™aala, pasti Dia â€˜Azza Wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati syaikh kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan: Ø§Ù„Ù’Ø­ÙŽÙ…Ù’Ø¯Ù Ù„ÙÙ„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù’Ù„Ø¥ÙØ³Ù’Ù„Ø§ÙŽÙ…Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah: Ø¥ÙÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙÙ†Ù’ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù’Ù„Ø£ÙŽØ¹Ù’Ø¬ÙŽÙ…ÙÙŠÙÙ‘ ÙˆÙŽ Ø§Ù„Ø´ÙŽØ§Ø¨Ù Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ Ù†ÙŽØ³ÙŽÙƒÙŽ Ø£ÙŽÙ†Ù’ ÙŠÙÙˆÙŽØ§ÙÙÙŠÙŽ ØµÙŽØ§Ø­ÙØ¨ÙŽ Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù ÙÙŽÙŠÙŽØ­Ù’Ù…ÙÙ„ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙŽØ§ Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orangÂ  â€˜ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah. Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ù„Ø§ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-654" title="read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/08/read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design-300x239.jpg" alt="read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design" width="245" height="195" /><strong>Oleh </strong>: Syaikh Amjad bin Imron Salhub</p>
<p>Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para <em>sahaba</em>tnya, serta siapa saja yang mengikuti <em>sunnah</em>nya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.</p>
<p>Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.</p>
<p>Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah <em>Taâ€™aala</em>, pasti Dia <em>â€˜Azza Wa Jalla</em> akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati <em>syaikh </em>kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan:</p>
<p>Ø§Ù„Ù’Ø­ÙŽÙ…Ù’Ø¯Ù Ù„ÙÙ„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù’Ù„Ø¥ÙØ³Ù’Ù„Ø§ÙŽÙ…Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah</em></p>
<p><strong>Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah:<span id="more-651"></span></strong></p>
<p>Ø¥ÙÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙÙ†Ù’ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù’Ù„Ø£ÙŽØ¹Ù’Ø¬ÙŽÙ…ÙÙŠÙÙ‘ ÙˆÙŽ Ø§Ù„Ø´ÙŽØ§Ø¨Ù Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ Ù†ÙŽØ³ÙŽÙƒÙŽ Ø£ÙŽÙ†Ù’ ÙŠÙÙˆÙŽØ§ÙÙÙŠÙŽ ØµÙŽØ§Ø­ÙØ¨ÙŽ Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù ÙÙŽÙŠÙŽØ­Ù’Ù…ÙÙ„ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙŽØ§</p>
<p><em>Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orangÂ  â€˜ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.</em></p>
<p>Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ù„Ø§ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙØ­ÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ’Ù„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù</p>
<p><em>Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya</em></p>
<p>Inilah kalimat <em>tauhid</em>, kalimat yang baik, kunci surga. Kalimat inilah stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seorang insan yang ingin menggerakkan lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah <em>Taâ€™aala</em>.</p>
<p>Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup lembaran hidupnya diatas Islam-.</p>
<p>Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama kaumnya (<em>Nashrani</em>) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari kebebasan akal dan jiwa.</p>
<p>Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya diatas jalan ke<em>istiqomah</em>an- menceritakan:</p>
<p>Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah kekurangan.</p>
<p>Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini bukanlah tujuanku. Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca <em>Injil</em>, pergi ke gereja, serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama <em>Kristen</em>. Dari buku-buku yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai pertanyaanku, akan tetapi tetap saja belum sempurna.</p>
<p>Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut sambil membaca buku-buku dan shalat. Setelah dua bulan dari permulaan hidupku ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku seperti biasanya setelah beragama, ketika itu, saya mendatangi ayahku dan kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya juga pergi mendatangi ibu dan saudari-saudariku dan kukabarkan kepada mereka bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka.</p>
<p>Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke<em> ad-dir</em> (Istilah untuk gereja yang terpencil dipedalaman.<em> â€“ pent.</em>) disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah.</p>
<p>Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu <em>ad-dir</em> ke <em>ad-dir</em> yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak bisa meninggalkan <em>ad-dir </em>mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji untuk menjadi seorang pendeta di suatu<em> ad-dir </em>tertentu, dan janji tersebut akan menghalangiku untuk keluar masuk darinya.</p>
<p>Setelah itu, saya memutuskan untuk berkeliling ke pelbagai negeri, maka saya memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat berkesan, sehingga saya mencintainya.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang <em>Syiâ€™ah</em> di perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan kepadaku tentang Islam versi<em> Syiâ€™ah</em>, keduanya menyebutkan <em>Imam </em>Duabelas dan mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan mereka menfokuskan pada ajaran <em>Syiâ€™ah</em> dan Imam Ali, serta tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang untuk membebaskan manusia.</p>
<p>Semua diskusi tesebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Orang <em>Syiâ€™ah</em> itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.</p>
<p>Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan berlari-lari kecil menuju ke dalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat mereka ber<em>thowaf</em> mengelilingi sapi betina yang terbuat dari emas, ketika itu saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.</p>
<p>Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku. <em>Alhamdulillah</em>.</p>
<p>Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke <em>ad-dir</em> dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah <em>ad-dir</em> di Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka lalu kutinggalkan <em>ad-dir</em> tersebut.</p>
<p>Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari<em> ad-dir</em>, setelah itu saya menuju <em>al-Quds</em> karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya berpergian menuju<em> al-Quds </em>melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman, dan <em>al-Quds</em>, saya tinggal disana seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka <em>Injil</em>.</p>
<p>Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca <em>Injil </em>dari permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para<em> nabi bani Israel</em>. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang <em>Injil </em>dan <em>Taurat</em>.</p>
<p>Pada saat itu, saya teringat suara <em>adzan </em>yang pernah kudengar ketika berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman terhadap Sesembahan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. <strong>Dan inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen :</strong><em> Saya harus berkenalan dengan Islam, kemudian mulailah kukumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara yang saya miliki adalah terjemahan al-Qurâ€™an dalam bahasa Italia, yang pernah saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri</em> <em></em>.</p>
<p>Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama pembunuh, perampok dan teroris akan tetapi yang saya dapati adalah <strong>Islam itu agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari <em>Taurat</em> dan <em>Injil</em>.</strong></p>
<p>Kemudian saya putuskan untuk kembali ke <em>al-Quds</em>, karena saya yakin bahwa <em>al-Quds</em> adalah tempat turunnya ke<em>rasul</em>an terdahulu, akan tetapi kali ini saya menaiki pesawat terbang dari Italia menuju<em> al-Quds</em>. Saya turun di tempat turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan <em>hause bus Armenia</em> di daerah negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit pakaian, terjemahan <em>al-Qurâ€™an, Injil</em> dan <em>Taurat</em>. Kemudian saya mulai membaca lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan <em>al-Qurâ€™an</em> dengan isi <em>Taurat </em>dan <em>Injil</em>, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan al-Qurâ€™an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa <em>â€˜alaihimassalaam</em> yang asli.</p>
<p>Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan antara saya dengan salah seorang dari teman-temannya para <em>daâ€™i</em>.</p>
<p>Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian terjadilah perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang paling mempengaruhiku adalah kisah sabahat yang mulia, Salman al-Farisi, karena di dalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang pencarian hakekat kebenaran.</p>
<p>Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta teman-temannya, diantaranya <em>fadhilatusy Syaikh</em> Hisyam al-â€˜Arif â€“<em>hafidhohulloh</em>-, maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh <em>Syaikh</em>.</p>
<p>Setelah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaanku. Pada saat seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.</p>
<p>Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat <em>tauhid </em>dan <em>syahadat </em>telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku bertepatan dengan waktu dikumandangkannya <em>adzan </em>untuk <em>shalat</em> <em>dhuhur</em>. Waktu itu benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan :</p>
<p>Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ù„Ø§ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙØ­ÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ’Ù„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù</p>
<p><em>Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya</em></p>
<p>Maka serta merta saudara Amjad memelukku dengan pelukan yang ramah, seraya memberikan ucapan selamat atas keIslamanku, kemudian kami sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. Kemudian saya diminta mandi (Sebagaimana <em>hadits </em>Qoish bin â€˜Ashim, Ketika beliau masuk Islam, Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur bidara. (HR. An-Nasai, at-Turmudzi dan Abu Daud. Di<em>shohih</em>kan oleh al-Albani dalam al-Irwaaâ€™ (128).)) dan berangkat ke <em>al-Masjid al-Aqsho</em> untuk menunaikan <em>shalat</em> <em>dhuhur</em>,</p>
<p>Di tempat tersebut setelah <em>shalat</em>, saya menemui<em> jamaah shalat</em> dengan <em>syahadat</em>, yaitu persaksian kebenaran dan <em>tauhid </em>yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya ber<em>khitan</em>, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban ber<em>khitan</em> tersebut sebagai bentuk meneladani bapaknya para nabi, yaitu Ibrahim yang melakukan <em>khitan </em>pada usia 80 tahun (Sebagaimana Rasulullah bersabda : <em>Ibrahim berkhitan ketika umur 80 tahun dengan â€œal-Qoduumâ€</em> (nama alat atau tempat).( HR. Al-Bukhori (3356) dan Muslim (2370).)).</p>
<p>Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu agama dari kitab Allah<em> Taâ€™aala</em> dan <em>sunnah </em>Rasulullah sesuai dengan <em>manhaj salaf </em>(pendahulu) umat ini, dari kalangan para <em>sahabat </em>beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.</p>
<p>Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan <em>as-Sunnah</em>.</p>
<p><strong>Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc. dari majalah ad-Daâ€™wah as-Salafiyah-Palestina edisi perdana, Muharram 1427 H halaman: 21-24.</strong></p>
<p>via <a href="http://ummusalma.wordpress.com/2008/05/13/mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/">ummu salma</a></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

