<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[m²]  Sepi Ing Pamrih - Rame Ing gawe ! &#187; Fiqih</title>
	<atom:link href="http://mbah-marijan.org/category/fiqih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mbah-marijan.org</link>
	<description>Kliping Blog Simbah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 11:44:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=348</generator>
		<item>
		<title>Takdir Ada 2 Macam.</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 00:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dawuhe Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[2 macam takdir qadar]]></category>
		<category><![CDATA[2 macam tkdir]]></category>
		<category><![CDATA[ada 2 takdir]]></category>
		<category><![CDATA[firman alloh takdir ada 2]]></category>
		<category><![CDATA[hr. bukhari, no. 3208; muslim, no. 2643; ibnu majah, no. 76. lafazhnya adalah dari riwayat muslim]]></category>
		<category><![CDATA[macam - macam qadar]]></category>
		<category><![CDATA[macam macam takdir']]></category>
		<category><![CDATA[macam mcm takdir]]></category>
		<category><![CDATA[macam takdir]]></category>
		<category><![CDATA[macam takdir menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[macam takdir secara islam]]></category>
		<category><![CDATA[macam taqdir]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam qadar allah]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam takdir adalah]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam takdir allah (lengkap)]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam takdir allah .pdf]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam takdir qadar]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian kodo]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>
		<category><![CDATA[takdir ada dua macam yaitu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/</guid>
		<description><![CDATA[Ø¨Ø³Ù… Ø§Ù„Ù„Ù‡ Ø§Ù„Ø±Ø­Ù…Ù† Ø§Ù„Ø±Ø­ÙŠÙ… Al-Qadarul Mutsbat &#038; Al-Qadarul Muâ€™allaq â€œAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).â€ (Ar-Raâ€™ad, QS 13: 39) Sebagian orang ada yang bertanya-tanya, jika rizki telah dituliskan (tidak bertambah dan tidak berkurang) dan ajal telah ditentukan (tidak dapat dimajukan dan dimundurkan), lalu bagaimana halnya dengan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œBarangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim!â€ (Muttafaq â€˜alaih). Jawabannya adalah, bahwa qadar itu ada dua macam yaitu: 1. Al-Qadarul Mutsbat (qadar yang telah tetap dan pasti). Yaitu apa yang telah tertulis dalam Ummul-Kitab (al-Lauhul Mahfuzh). Qadar ini tetap, tidak berubah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œAllah telah menetapkan ketentuan-ketentuan para makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumiâ€¦â€ (HR. Muslim, VIII/51) 2. Al-Qadarul Muâ€™allaq atau Muqayyad (qadar yang tergantung atau terikat). Yaitu, apa yang tertulis dalam catatan-catatan Malaikat, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œSesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ø¨Ø³Ù… Ø§Ù„Ù„Ù‡ Ø§Ù„Ø±Ø­Ù…Ù† Ø§Ù„Ø±Ø­ÙŠÙ…</p>
<p>Al-Qadarul Mutsbat &#038; Al-Qadarul Muâ€™allaq</p>
<p>â€œAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).â€ (Ar-Raâ€™ad, QS 13: 39)</p>
<p>Sebagian orang ada yang bertanya-tanya, jika rizki telah dituliskan (tidak bertambah dan tidak berkurang) dan ajal telah ditentukan (tidak dapat dimajukan dan dimundurkan), lalu bagaimana halnya dengan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œBarangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim!â€ (Muttafaq â€˜alaih).</p>
<p>Jawabannya adalah, bahwa qadar itu ada dua macam yaitu:<span id="more-568"></span><br />
1.	Al-Qadarul Mutsbat (qadar yang telah tetap dan pasti).<br />
Yaitu apa yang telah tertulis dalam Ummul-Kitab (al-Lauhul Mahfuzh). Qadar ini tetap, tidak berubah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œAllah telah menetapkan ketentuan-ketentuan para makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumiâ€¦â€ (HR. Muslim, VIII/51)</p>
<p>2.	Al-Qadarul Muâ€™allaq atau Muqayyad (qadar yang tergantung atau terikat).<br />
Yaitu, apa yang tertulis dalam catatan-catatan Malaikat, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œSesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagia(nya)â€¦â€ (HR. Bukhari, No. 3208; Muslim, No. 2643; Ibnu Majah, No. 76. Lafazhnya adalah dari riwayat Muslim). Maka inilah yang bisa dihapuskan dan ditetapkan.</p>
<p>Ajal, rizki, umur, dan selainnya yang ditetapkan dalam Ummul-Kitab, tidak berubah. Adapun dalam lembaran-lembaran yang ada pada tangan Malaikat, maka bisa dihapuskan, ditetapkan, ditambah, dan dikurangi.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:<br />
Ajal (umur) itu ada dua: ajal mutlak yang (hanya) diketahui oleh Allah, dan ajal yang terikat. Dengan ini menjadi jelaslah makna sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œBarangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim!â€<br />
Allah memerintahkan Malaikat untuk mencatat ajal untuknya seraya mengatakan: â€œJika ia menyambung tali silaturahim, maka Aku menambahkan kepadanya demikian dan demikian.â€ Sedangkan Malaikat tidak tahu apakah bertambah atau tidak. Tetapi Allah mengetahui perkara yang sebenarnya. Jika ajal telah datang, maka tidak dicepatkannya dan tidak diakhirkan. (Majmuuâ€™ul Fataawaa, VIII/517)</p>
<p>Rizki itu dua macam: salah satunya, apa yang diketahui oleh Allah bahwa Dia memberi rizki kepadanya, maka hal ini tidak berubah. Kedua, apa yang dituliskan dan diberitahukannya kepada para Malaikat, maka hal ini bertambah dan berkurang, menurut sebab-sebabnya. (Ibid.)</p>
<p>Ibnu Hajar rahimahullah  berkata:<br />
Seperti dikatakan kepada Malaikat, misalnya: â€œUmur fulan seratus tahun jika menyambung tali silaturahim, dan enam puluh tahun jika memutuskannya.â€ Tetapi telah diketahui oleh Allah sebelumnya bahwa ia akan menyambung atau memutuskannya. Apa yang ada dalam ilmu Allah, maka tidak dimajukan dan tidak ditunda, sedangkan yang ada dalam ilmu Malaikat, maka itulah yang memiliki kemungkinan bertambah dan berkurang. Inilah yang dinyatakan lewat firman-Nya:<br />
â€œAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).â€ (Ar-Raâ€™ad, QS 13: 39)<br />
Maka penghapusan dan penetapan itu adalah berhubungan dengan apa yang ada dalam ilmu Malaikat, sedangkan yang tertulis dalam Ummul-Kitab, yaitu yang berada dalam ilmu Allah Taâ€™ala, maka tidak ada penghapusan sama sekali. Untuk qadhaâ€™ ini dinyatakan dengan qadhaâ€™ yang bersifat tetap, sedangkan untuk yang disebutkan sebelumnya dinyatakan dengan qadhaâ€™ yang tergantung. (Fathul Baari, X/430; Syarh Shahiih Muslim, an-Nawawi, XVI/114; Ifaadah al-Khabar bin Nashshihi fii Ziyaadatil â€˜Umr wa Naqshihi, as-Suyuti)</p>
<p>Kemudian, sebab-sebab yang dengannya rizki akan diperoleh merupakan bagian dari apa yang ditakdirkan Allah dan dituliskan-Nya. Jika telah ditentukan sebelumnya, bahwa hamba akan diberi rizki dengan usahanya, maka Allah mengilhamkan kepadanya untuk berusaha. Maka, rizki yang Dia takdirkan untuknya dengan berusaha, tidak akan diperoleh dengan tanpa berusaha. Sedangkan rizki yang Dia takdirkan untuknya dengan tanpa usaha, seperti kematian orang yang diwarisinya, maka ia (rizki tersebut) akan datang kepadanya dengan tanpa usaha. (Majmuuâ€™ul Fataawaa, VIII/540-541)</p>
<p>Adapun dalam hal mencari rizki tetapi dengan cara yang tidak halal, maka tidak boleh dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Telah terdapat keterangan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyanjung Rabb-nya dengan mensucikan-Nya dari keburukkan, dalam ucapan beliau : â€œâ€¦Aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati, kebaikan seluruhnya ada di kedua tangan-Mu, dan keburukkan tidaklah dinisbatkan kepada-Mu. Aku berlindung dan bersandar kepada-Mu, Mahasuci Engkau dan Mahatinggiâ€¦â€ (HR. Muslim, No. 771).</p>
<p>Sesungguhnya, ketika Nabi Adam â€˜alaihissalam melakukan dosa, maka ia bertaubat, lalu Rabb-nya memilihnya dan memberi petunjuk kepadanya. Sedangkan Iblis, ia tetap meneruskan dosa dan menghujat, maka Allah melaknat dan mengusirnya. Barangsiapa yang bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam â€˜alaihissalam, dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalih dengan takdir, maka ia sesuai dengan sifat Iblis. Maka orang-orang yang berbahagia akan mengikuti bapak mereka dan orang-orang yang celaka akan mengikuti musuh mereka, Iblis. (Ibid, VIII/64)<br />
Berkaitan dengan hal tersebut, penting kita perhatikan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda: â€œTidak satu jiwapun yang bernapas melainkan Allah telah menentukan tempatnya baik di surga atau neraka, dan juga telah dituliskan celaka atau bahagianya.â€ (HR. Bukhari â€“ Muslim). â€œâ€¦maka ahli surga dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli surga dan ahli neraka dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli neraka.â€ (HR. Ibnu Abi â€˜Ashim, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).<br />
Berdasarkan kedua hadits tersebut, maka layak bagi kita untuk segera bermuhasabah (introspeksi) atas diri kita masing-masing, apakah hati kita telah merasa ringan untuk melaksanakan amalan ahli surga, atau justru sebaliknya, merasa ringan untuk melakukan amalan ahli neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala jadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berjuang untuk melakukan amalan ahli surga. Allahul Mustaâ€™an.</p>
<p>Salah satu di antara sebab-sebab lain yang dapat merubah takdir yang telah dicatat oleh Malaikat, adalah doâ€™a. Doâ€™a merupakan perkara yang agung dan mulia, sebab ia dapat menolak takdir dan menghilangkan petaka. Ia bermanfaat terhadap apa yang sudah datang dan apa yang belum datang. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: â€œâ€¦Tidak ada yang dapat menolak takdir, kecuali doâ€™aâ€¦â€ (Diriwayatkan oleh Ahmad, V/277; Ibnu Majah, No. 90; at-Tirmidzi, No. 139; dihasankan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaamiâ€™, No. 7687, dan ash-Shahiihah, No. 154).</p>
<p>Namun demikian, karena doâ€™a adalah perkara yang agung dan mulia, maka hendaknya setiap orang yang berdoâ€™a mengetahui Adab dan Sebab Terkabulnya Doâ€™a, sehingga tahu kapan dan bagaimana berdoâ€™a yang sesuai dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang shahih.</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1084713685">Abu Muhammad Herman</a><span class="comment_meta_data"> via Pages FB</span><span class="comment_credits" /></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Iâ€™tikaf, Zakat Fithroh dan Berhari Raya</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2008/09/26/seputar-i%e2%80%99tikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2008/09/26/seputar-i%e2%80%99tikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 03:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[allah allah]]></category>
		<category><![CDATA[atau]]></category>
		<category><![CDATA[boleh]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu dan pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[mendekatkan diri kepada allah]]></category>
		<category><![CDATA[rahmat allah]]></category>
		<category><![CDATA[romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2008/09/26/seputar-i%e2%80%99tikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya/</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin dalam bulan Romadhon diberikan media dan sarana oleh Allah untuk bertakwa. Kemudahan-kemudahan yang ada disana membuat kaum muslimin menanti dan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin agar dapat mencapai apa yang dicita-citakannya dari pengampunan dan keridhoan Allah. Oleh karena sudah menjadi satu kewajiban bagi kita semua untuk mempersiapkan dan membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan tentang amalan yang dapat dilakukan di bulan tersebut. Tentunya semua itu dengan dasar ikhlas dan mengikuti contoh Rasulullah, karena tanpa keduanya amalan kita hanya sekedar isapan jempol saja tidak ada artinya. Diantara amalan tersebut adalah Iâ€™tikaf, Zakat Fithroh dan Hari Raya (Ied) sebagai amalan di penghujung jumpa kita dengan bulan Romadhon yang penuh barokah. Mudah-mudahan penjabaran dua masalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Iâ€™TIKAF Makna Iâ€™tikaf Iâ€™tikaf berasal dari bahasa Arab yang bermakna berdiam diri pada sesuatu. Kata ini dipakai juga untuk ibadah dengan tinggal dan menetap di masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Pelaku ibadah ini dinamakan Muâ€™takif atau â€˜Aakif. Hikmah Iâ€™tikaf Adapun hikmahnya berkata ibnul Qayim: Ketika perbaikan dan keistiqomahan hati dalam berjalan menuju Allah tergantung konsentrasinya terhadap Allah dan kesatuan kekuatannya dalam menghadap Allah secara penuh. Lalu jika hati terpecah tidak dapat disatukan kecuali dengan menghadap kepada Allah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" alt="ketupat.jpg" id="image540" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2008/09/ketupat.jpg" />Kaum muslimin dalam bulan Romadhon diberikan media dan sarana oleh Allah untuk bertakwa. Kemudahan-kemudahan yang ada disana membuat kaum muslimin menanti dan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin agar dapat mencapai apa yang dicita-citakannya dari pengampunan dan keridhoan Allah. Oleh karena sudah menjadi satu kewajiban bagi kita semua untuk mempersiapkan dan membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan tentang amalan yang dapat dilakukan di bulan tersebut. Tentunya semua itu dengan dasar ikhlas dan mengikuti contoh Rasulullah, karena tanpa keduanya amalan kita hanya sekedar isapan jempol saja tidak ada artinya.</p>
<p><span id="more-359" /></p>
<p>Diantara amalan tersebut adalah <a title="I'tikaf, Zakat Fitri, Hari Raya" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/petunjuk-nabi-dalam-itikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya.html">Iâ€™tikaf, Zakat Fithroh dan Hari Raya (Ied)</a> sebagai amalan di penghujung jumpa kita dengan bulan Romadhon yang penuh barokah. Mudah-mudahan penjabaran dua masalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p><strong>Iâ€™TIKAF</strong></p>
<p><strong>Makna Iâ€™tikaf</strong></p>
<p>Iâ€™tikaf berasal dari bahasa Arab yang bermakna berdiam diri pada sesuatu. Kata ini dipakai juga untuk ibadah dengan tinggal dan menetap di masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Pelaku ibadah ini dinamakan Muâ€™takif atau â€˜Aakif.</p>
<p><span id="more-539"></span></p>
<p><strong>Hikmah Iâ€™tikaf</strong></p>
<p>Adapun hikmahnya berkata ibnul Qayim: Ketika perbaikan dan keistiqomahan hati dalam berjalan menuju Allah tergantung konsentrasinya terhadap Allah dan kesatuan kekuatannya dalam menghadap Allah secara penuh. Lalu jika hati terpecah tidak dapat disatukan kecuali dengan menghadap kepada Allah, padahal kelebihan makan dan minum, kelebihan bergaul dengan manusia, banyak ngomong dan tidur menambah hati berantakan dan memporak porandakannya serta memutus atau melemahkan atau mengganggu dan menghentikan hati dari jalan kepada Allah. Maka rahmat Allah kepada hambaNya menuntut disyariatkan puasa untuk mereka. Puasa yang dapat menghilangkan kelebihan makan dan minum dan mengosongkan hati dari campuran syahwatyang menghalangi jalan kepada Allah. Allah mensyariatkannya sesuai dengan kemaslahatan yang dapat bermanfaat bagi hamba didunia dan akheratnya. Tentunya hal ini tidak merugikan dan memutus kemaslahatan dunia dan akheratnya seorang hamba. Kemudian mensyariatkan mereka Iâ€™tikaf yang tujuan dan intinya adalah hati tinggal menghadap Allah, menyatukan kekuatannya, berkholwat dengan Nya, menghilangkan kesibukan dengan makhluk dan hanya sibuk menghadap Allah saja.</p>
<p><strong>Pensyariatannya</strong></p>
<p>Iâ€™tikaf disyariatkan Allah dalam firmanNya:</p>
<p>Ø£ÙØ­ÙÙ„Ù‘ÙŽ Ù„ÙŽÙƒÙÙ…Ù’ Ù„ÙŽÙŠÙ’Ù„ÙŽØ©ÙŽ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙÙŠÙŽØ§Ù…Ù Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙŽÙÙŽØ«Ù Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ Ù†ÙØ³ÙŽØ§Ø¦ÙÙƒÙÙ…Ù’ Ù‡ÙÙ†Ù‘ÙŽ Ù„ÙØ¨ÙŽØ§Ø³ÙÙ Ù„Ù‘ÙŽÙƒÙÙ…Ù’ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†ØªÙÙ…Ù’ Ù„ÙØ¨ÙŽØ§Ø³ÙÙ Ù„Ù‘ÙŽÙ‡ÙÙ†Ù‘ÙŽ Ø¹ÙŽÙ„ÙÙ…ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽÙƒÙÙ…Ù’ ÙƒÙÙ†ØªÙÙ…Ù’ ØªÙŽØ®Ù’ØªÙŽØ§Ù†ÙÙˆÙ†ÙŽ Ø£ÙŽÙ†ÙÙØ³ÙŽÙƒÙÙ…Ù’ ÙÙŽØªÙŽØ§Ø¨ÙŽ Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’ÙƒÙÙ…Ù’ ÙˆÙŽØ¹ÙŽÙÙŽØ§ Ø¹ÙŽÙ†ÙƒÙÙ…Ù’ ÙÙŽØ§Ù„Ù’Ø¦ÙŽØ§Ù†ÙŽ Ø¨ÙŽØ§Ø´ÙØ±ÙÙˆÙ‡ÙÙ†Ù‘ÙŽ ÙˆÙŽØ§Ø¨Ù’ØªÙŽØºÙÙˆØ§ Ù…ÙŽØ§ÙƒÙŽØªÙŽØ¨ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ù„ÙŽÙƒÙÙ…Ù’ ÙˆÙŽÙƒÙÙ„ÙÙˆØ§ ÙˆÙŽØ§Ø´Ù’Ø±ÙŽØ¨ÙÙˆØ§ Ø­ÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ ÙŠÙŽØªÙŽØ¨ÙŽÙŠÙ‘ÙŽÙ†ÙŽ Ù„ÙŽÙƒÙÙ…Ù Ø§Ù„Ù’Ø®ÙŽÙŠÙ’Ø·Ù Ø§Ù’Ù„Ø£ÙŽØ¨Ù’ÙŠÙŽØ¶Ù Ù…ÙÙ†ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ø®ÙŽÙŠÙ’Ø·Ù Ø§Ù’Ù„Ø£ÙŽØ³Ù’ÙˆÙŽØ¯Ù Ù…ÙÙ†ÙŽ Ø§Ù„Ù’ÙÙŽØ¬Ù’Ø±Ù Ø«ÙÙ…Ù‘ÙŽ Ø£ÙŽØªÙÙ…Ù‘ÙÙˆØ§ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙÙŠÙŽØ§Ù…ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù‘ÙŽÙŠÙ’Ù„Ù ÙˆÙŽÙ„Ø§ÙŽ ØªÙØ¨ÙŽØ§Ø´ÙØ±ÙÙˆÙ‡ÙÙ†Ù‘ÙŽ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†ØªÙÙ…Ù’ Ø¹ÙŽØ§ÙƒÙÙÙÙˆÙ†ÙŽ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ³ÙŽØ§Ø¬ÙØ¯Ù ØªÙÙ„Ù’ÙƒÙŽ Ø­ÙØ¯ÙÙˆØ¯Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù ÙÙŽÙ„Ø§ÙŽ ØªÙŽÙ‚Ù’Ø±ÙŽØ¨ÙÙˆÙ‡ÙŽØ§ ÙƒÙŽØ°ÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ ÙŠÙØ¨ÙŽÙŠÙ‘ÙÙ†Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø¡ÙŽØ§ÙŠÙŽØ§ØªÙÙ‡Ù Ù„ÙÙ„Ù†Ù‘ÙŽØ§Ø³Ù Ù„ÙŽØ¹ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‡ÙÙ…Ù’ ÙŠÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‚ÙÙˆÙ†ÙŽ</p>
<p><em>â€œDihalalkan bagi kamu pada malam hari shiyam bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah shiyam itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriâ€™tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.â€</em> (QS. Al Baqoroh: 187)</p>
<p>Demikian juga hal ini diolakukan Rasulullah <em>shallallahu â€˜alaihi wa sallam</em> sebagaimana dikisahkan oleh hadits di bawah ini.</p>
<p>Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ¨ÙÙŠÙ‘ÙŽ ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ ÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ ÙŠÙŽØ¹Ù’ØªÙŽÙƒÙÙÙ Ø§Ù„Ù’Ø¹ÙŽØ´Ù’Ø±ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙˆÙŽØ§Ø®ÙØ±ÙŽ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø±ÙŽÙ…ÙŽØ¶ÙŽØ§Ù†ÙŽ Ø­ÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ ØªÙŽÙˆÙŽÙÙ‘ÙŽØ§Ù‡Ù Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø«ÙÙ…Ù‘ÙŽ Ø§Ø¹Ù’ØªÙŽÙƒÙŽÙÙŽ Ø£ÙŽØ²Ù’ÙˆÙŽØ§Ø¬ÙÙ‡Ù Ù…ÙÙ†Ù’ Ø¨ÙŽØ¹Ù’Ø¯ÙÙ‡Ù</p>
<p><em>â€œNabi beriâ€™tikaf di sepuluh akhir dari romadhon sampai wafat kemudian istri-istri beliau beriâ€™tikaf setelahnya.â€</em> (Bukhori 1886)</p>
<p>Iâ€™tikaf adalah ibadah yang disunnahkan untuk dilakukan pada bulan Romadhon dan selainnya, baik didahului dengan puasa atau tidak, akan tetapi yang paling utama di bulan Ramadhon dan disepuluh hari terakhir sebagaimama dijelaskan hadits-hadits berikut ini.</p>
<p>Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ„ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ ÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ ÙŠÙŽØ¹Ù’ØªÙŽÙƒÙÙÙ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ø¹ÙŽØ´Ù’Ø±Ù Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙˆÙ’Ø³ÙŽØ·Ù Ù…ÙÙ†Ù’ Ø±ÙŽÙ…ÙŽØ¶ÙŽØ§Ù†ÙŽ ÙÙŽØ§Ø¹Ù’ØªÙŽÙƒÙŽÙÙŽ Ø¹ÙŽØ§Ù…Ù‹Ø§ Ø­ÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ ÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ Ù„ÙŽÙŠÙ’Ù„ÙŽØ©ÙŽ Ø¥ÙØ­Ù’Ø¯ÙŽÙ‰ ÙˆÙŽØ¹ÙØ´Ù’Ø±ÙÙŠÙ†ÙŽ ÙˆÙŽÙ‡ÙÙŠÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙŠÙ’Ù„ÙŽØ©Ù Ø§Ù„Ù‘ÙŽØªÙÙŠ ÙŠÙŽØ®Ù’Ø±ÙØ¬Ù Ù…ÙÙ†Ù’ ØµÙŽØ¨ÙÙŠØ­ÙŽØªÙÙ‡ÙŽØ§ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø§Ø¹Ù’ØªÙÙƒÙŽØ§ÙÙÙ‡Ù Ù‚ÙŽØ§Ù„ÙŽ Ù…ÙŽÙ†Ù’ ÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ Ø§Ø¹Ù’ØªÙŽÙƒÙŽÙÙŽ Ù…ÙŽØ¹ÙÙŠ ÙÙŽÙ„Ù’ÙŠÙŽØ¹Ù’ØªÙŽÙƒÙÙÙ’ Ø§Ù„Ù’Ø¹ÙŽØ´Ù’Ø±ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙˆÙŽØ§Ø®ÙØ±ÙŽ</p>
<p><em>â€œSesungguhnya Rasululloh shallallahu â€˜alaihi wa sallam telah beriâ€™tikaf disepuluh hari pertengahanromadhon lalu Iâ€™tikaf pada tahun tersebut sampai pada malam keduapuluh satu yaitu malam beliau keluar Iâ€™tikaf dipaginya beliau berkata barang siapa yang beriâ€™tikaf bersamaku maka hendaklah beriâ€™tikaf di sepuluh terakhir.â€</em> (Bukhori 1887) dan perintah dan persetujuan beliau kepada Umar dalam hadits:</p>
<p>Ø¹ÙŽÙ†Ù’ Ø¹ÙÙ…ÙŽØ±ÙŽ Ø¨Ù’Ù†Ù Ø§Ù„Ù’Ø®ÙŽØ·Ù‘ÙŽØ§Ø¨Ù Ø±ÙŽØ¶ÙÙŠÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ†Ù’Ù‡Ù Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ù‚ÙŽØ§Ù„ÙŽ ÙŠÙŽØ§ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ„ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¥ÙÙ†Ù‘ÙÙŠ Ù†ÙŽØ°ÙŽØ±Ù’ØªÙ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ø¬ÙŽØ§Ù‡ÙÙ„ÙÙŠÙ‘ÙŽØ©Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ø£ÙŽØ¹Ù’ØªÙŽÙƒÙÙÙŽ Ù„ÙŽÙŠÙ’Ù„ÙŽØ©Ù‹ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ³Ù’Ø¬ÙØ¯Ù Ø§Ù„Ù’Ø­ÙŽØ±ÙŽØ§Ù…Ù ÙÙŽÙ‚ÙŽØ§Ù„ÙŽ Ù„ÙŽÙ‡Ù Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ¨ÙÙŠÙ‘Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ Ø£ÙŽÙˆÙ’ÙÙ Ù†ÙŽØ°Ù’Ø±ÙŽÙƒÙŽ ÙÙŽØ§Ø¹Ù’ØªÙŽÙƒÙŽÙÙŽ Ù„ÙŽÙŠÙ’Ù„ÙŽØ©Ù‹</p>
<p><em>â€œDari Umar bin Khothab beliau berkata: Wahai Rasululloh saya pernah bernazar di zaman jahiliyah untuk Iâ€™tikaf satu malam di masjid haram. Lalu beliau menjawab: Tunaikan nazarmu. Lalu Umar beriâ€™tikaf semalam.â€</em></p>
<p><strong>Syarat dan Tempatnya</strong></p>
<p>Iâ€™tikaf hanya boleh dilakukan di masjid dan tidak keluar darinya kecuali hajat dan darurat. Tidak boleh dilakukan pada selain masjid. Sebagaimana firman Allah:</p>
<p>ÙˆÙŽÙ„Ø§ÙŽ ØªÙØ¨ÙŽØ§Ø´ÙØ±ÙÙˆÙ‡ÙÙ†Ù‘ÙŽ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†ØªÙÙ…Ù’ Ø¹ÙŽØ§ÙƒÙÙÙÙˆÙ†ÙŽ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ³ÙŽØ§Ø¬ÙØ¯Ù</p>
<p><em>â€œJanganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriâ€™tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.â€</em> (QS. Al Baqoroh: 187)</p>
<p><strong>Hal-Hal yang Diperbolehkan Dalam Iâ€™tikaf</strong></p>
<p>1. Boleh keluar masjid karena hajat dan boleh juga mengeluarkan kepalanya keluar masjid untuk dicuci atau disisiri. Aisyah berkata:</p>
<p>ÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ¨ÙÙŠÙ‘Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ Ø§Ø¹Ù’ØªÙŽÙƒÙŽÙÙŽ ÙŠÙØ¯Ù’Ù†ÙÙŠ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙŠÙ‘ÙŽ Ø±ÙŽØ£Ù’Ø³ÙŽÙ‡Ù ÙÙŽØ£ÙØ±ÙŽØ¬Ù‘ÙÙ„ÙÙ‡Ù ÙˆÙŽÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ Ù„ÙŽØ§ ÙŠÙŽØ¯Ù’Ø®ÙÙ„Ù Ø§Ù„Ù’Ø¨ÙŽÙŠÙ’ØªÙŽ Ø¥ÙÙ„Ù‘ÙŽØ§ Ù„ÙØ­ÙŽØ§Ø¬ÙŽØ©Ù Ø§Ù„Ù’Ø¥ÙÙ†Ù’Ø³ÙŽØ§Ù†Ù</p>
<p><em>â€œNabi jika beriâ€™tikaf mengeluarkan kepalanya kepada saya lalu saya sisiri, dan beliau tidak keluar kecuali untuk hajat (kebutuhan).â€</em> (Muslim)</p>
<p>2. Dibolehkan berwudhu di masjid.</p>
<p>3. Boleh membuat kemah kecil atau kamar kecil dengan kain di bagian belakang masjid sebagai tempat beriâ€™tikaf, sebagaimana Aisyah membuat kemah kecil untuk Nabi beriâ€™tikaf.</p>
<p>4. Dibolehkan meletakkan kasur atau dipan dalam Iâ€™tikaf, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi, bahwa beliau jika beriâ€™tikaf disiapkan atau diletakkan kasur atau dipan di belakang tiang taubah. (Hadits ini sanadnya hasan, diriwayatkan Ibnu najah dalam <em>Zawaaid Sunan</em>-nya)</p>
<p>5. Boleh mengantar istrinya yang mengunjunginya di masjid sampai pintu masjid. Dengan dalil:</p>
<p>Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ ØµÙŽÙÙÙŠÙ‘ÙŽØ©ÙŽ Ø²ÙŽÙˆÙ’Ø¬ÙŽ Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ¨ÙÙŠÙ‘Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ Ø£ÙŽØ®Ù’Ø¨ÙŽØ±ÙŽØªÙ’Ù‡Ù Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽÙ‡ÙŽØ§ Ø¬ÙŽØ§Ø¡ÙŽØªÙ’ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ ØªÙŽØ²ÙÙˆØ±ÙÙ‡Ù ÙÙÙŠ Ø§Ø¹Ù’ØªÙÙƒÙŽØ§ÙÙÙ‡Ù ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ³Ù’Ø¬ÙØ¯Ù ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ø¹ÙŽØ´Ù’Ø±Ù Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙˆÙŽØ§Ø®ÙØ±Ù Ù…ÙÙ†Ù’ Ø±ÙŽÙ…ÙŽØ¶ÙŽØ§Ù†ÙŽ ÙÙŽØªÙŽØ­ÙŽØ¯Ù‘ÙŽØ«ÙŽØªÙ’ Ø¹ÙÙ†Ù’Ø¯ÙŽÙ‡Ù Ø³ÙŽØ§Ø¹ÙŽØ©Ù‹ Ø«ÙÙ…Ù‘ÙŽ Ù‚ÙŽØ§Ù…ÙŽØªÙ’ ØªÙŽÙ†Ù’Ù‚ÙŽÙ„ÙØ¨Ù ÙÙŽÙ‚ÙŽØ§Ù…ÙŽ Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ¨ÙÙŠÙ‘Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ Ù…ÙŽØ¹ÙŽÙ‡ÙŽØ§ ÙŠÙŽÙ‚Ù’Ù„ÙØ¨ÙÙ‡ÙŽØ§ Ø­ÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ Ø¨ÙŽÙ„ÙŽØºÙŽØªÙ’ Ø¨ÙŽØ§Ø¨ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ³Ù’Ø¬ÙØ¯Ù Ø¹ÙÙ†Ù’Ø¯ÙŽ Ø¨ÙŽØ§Ø¨Ù Ø£ÙÙ…Ù‘Ù Ø³ÙŽÙ„ÙŽÙ…ÙŽØ©ÙŽ Ù…ÙŽØ±Ù‘ÙŽ Ø±ÙŽØ¬ÙÙ„ÙŽØ§Ù†Ù Ù…ÙÙ†Ù’ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙ†Ù’ØµÙŽØ§Ø±Ù ÙÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽØ§ Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ ÙÙŽÙ‚ÙŽØ§Ù„ÙŽ Ù„ÙŽÙ‡ÙÙ…ÙŽØ§ Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ¨ÙÙŠÙ‘Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ø±ÙØ³Ù’Ù„ÙÙƒÙÙ…ÙŽØ§ Ø¥ÙÙ†Ù‘ÙŽÙ…ÙŽØ§ Ù‡ÙÙŠÙŽ ØµÙŽÙÙÙŠÙ‘ÙŽØ©Ù Ø¨ÙÙ†Ù’ØªÙ Ø­ÙÙŠÙŽÙŠÙ‘Ù ÙÙŽÙ‚ÙŽØ§Ù„ÙŽØ§ Ø³ÙØ¨Ù’Ø­ÙŽØ§Ù†ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ÙŠÙŽØ§ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ„ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ÙˆÙŽÙƒÙŽØ¨ÙØ±ÙŽ Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙÙ…ÙŽØ§</p>
<p><em>Shofiyah berkata bahwa beliau datang menziarahi nabi dalam Iâ€™tikaf beliau di sepuluh akhir romadhon lalu berbincang-bincang dengan beliau beberapa saat, kemudian bangkit pulang. Rasulullah pun bangkit bersamanya mengantar sampai ketika di pintu masjid di dekat pintu rumah Ummu Salamah, lewatlah dua orang Anshor, lalu keduanya memberi salam kepada Nabi dan beliau berkata kepada keduanya: â€œPerlahan, sesungguhnya dia adalah Shofiyah bintu Huyaiy. Lalu keduanya berkata: â€œSubhanallah, wahai Rasulullohâ€ dan keduanya menganggap hal yang besar.</em> (Bukhori)</p>
<p>6. Wanita boleh beriâ€™tikaf dimasjid selama aman dari fitnah, dengan dalil:</p>
<p>Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ¨ÙÙŠÙ‘ÙŽ ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ ÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ ÙŠÙŽØ¹Ù’ØªÙŽÙƒÙÙÙ Ø§Ù„Ù’Ø¹ÙŽØ´Ù’Ø±ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙˆÙŽØ§Ø®ÙØ±ÙŽ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø±ÙŽÙ…ÙŽØ¶ÙŽØ§Ù†ÙŽ Ø­ÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ ØªÙŽÙˆÙŽÙÙ‘ÙŽØ§Ù‡Ù Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø«ÙÙ…Ù‘ÙŽ Ø§Ø¹Ù’ØªÙŽÙƒÙŽÙÙŽ Ø£ÙŽØ²Ù’ÙˆÙŽØ§Ø¬ÙÙ‡Ù Ù…ÙÙ†Ù’ Ø¨ÙŽØ¹Ù’Ø¯ÙÙ‡Ù</p>
<p><em>â€œNabi beriâ€™tikaf di sepuluh akhir dari romadhon sampai wafat kemudian istri-istri beliau beriâ€™tikaf setelahnya.â€</em> (Bukhori 1886)</p>
<p>Demikianlah sedikit pembahasan tentang Iâ€™tikaf yang dilakukan pada sepuluh hari terakhir dari romadhon.</p>
<p><strong>ZAKAT FITHROH</strong></p>
<p>Zakat fithroh merupakan zakat yang disyariâ€™atkan dalam islam berupa satu shoâ€™ dari makanan yang dikeluarkan seorang muslim di akhir Romadhon, dalam rangka menampakkan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah dalam berbuka dari Romadhon dan penyempurnaannya, oleh karena itu dinamakan shodaqoh fithroh atau zakat fithroh. (lihat <em>Fatawa Romadhon</em>, 2/901)</p>
<p><strong>Hukumnya</strong></p>
<p>Zakat fiithroh merupakan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang dibebani kepada kaum muslimin dan diwajbkan untuk dikeluarkan oleh seorang muslim baik laki-laki atau perempuan, besar, kecil, budak atau merdeka.</p>
<p>Dalilnya adalah:</p>
<p>a.  Hadits Ibnu Umar:</p>
<p>ÙÙŽØ±ÙŽØ¶ÙŽ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ Ø²ÙŽÙƒÙŽØ§Ø©ÙŽ Ø§Ù„Ù’ÙÙØ·Ù’Ø±Ù ØµÙŽØ§Ø¹Ù‹Ø§ Ù…ÙÙ†Ù’ ØªÙŽÙ…Ù’Ø±Ù Ø£ÙŽÙˆÙ’ ØµÙŽØ§Ø¹Ù‹Ø§ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø´ÙŽØ¹ÙÙŠØ±Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù’Ø¹ÙŽØ¨Ù’Ø¯Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø­ÙØ±Ù‘Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ø°Ù‘ÙŽÙƒÙŽØ±Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø£ÙÙ†Ù’Ø«ÙŽÙ‰ ÙˆÙŽØ§Ù„ØµÙ‘ÙŽØºÙÙŠØ±Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’ÙƒÙŽØ¨ÙÙŠØ±Ù Ù…ÙÙ†Ù’ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…ÙÙŠÙ†ÙŽ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ…ÙŽØ±ÙŽ Ø¨ÙÙ‡ÙŽØ§ Ø£ÙŽÙ†Ù’ ØªÙØ¤ÙŽØ¯Ù‘ÙŽÙ‰ Ù‚ÙŽØ¨Ù’Ù„ÙŽ Ø®ÙØ±ÙÙˆØ¬Ù Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ§Ø³Ù Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙŽÙ„ÙŽØ§Ø©Ù</p>
<p><em>â€œRasulullah telah mewajibkan zakat fithroh satu shoâ€™ dari korma atau satu shoâ€™ dari gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, perempuan, laki-laki dan anak kecil dan besar, dan memerintahkan untuk menunaikannya sebelum keluarnya manusia menuju sholat.â€</em></p>
<p>b. Hadits Abi Said Al Khudry:</p>
<p>ÙƒÙÙ†Ù‘ÙŽØ§ Ù†ÙØ®Ù’Ø±ÙØ¬Ù Ø²ÙŽÙƒÙŽØ§Ø©ÙŽ Ø§Ù„Ù’ÙÙØ·Ù’Ø±Ù ØµÙŽØ§Ø¹Ù‹Ø§ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø·ÙŽØ¹ÙŽØ§Ù…Ù Ø£ÙŽÙˆÙ’ ØµÙŽØ§Ø¹Ù‹Ø§ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø´ÙŽØ¹ÙÙŠØ±Ù Ø£ÙŽÙˆÙ’ ØµÙŽØ§Ø¹Ù‹Ø§ Ù…ÙÙ†Ù’ ØªÙŽÙ…Ù’Ø±Ù Ø£ÙŽÙˆÙ’ ØµÙŽØ§Ø¹Ù‹Ø§ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø£ÙŽÙ‚ÙØ·Ù Ø£ÙŽÙˆÙ’ ØµÙŽØ§Ø¹Ù‹Ø§ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø²ÙŽØ¨ÙÙŠØ¨Ù</p>
<p><em>â€œKami dahulu pada zaman Nabi memberikanya (zakat fithroh) satu shoâ€™ dari makanan atau satu shoâ€™ dari gandum atau satu shoâ€™ korma atau satu shoâ€™ dari tepung atau kismis (anggur kering).â€</em></p>
<p>c. Perkataan Said bin Musayyab dan Umar bin Abdul Aziz dalam menafsirkan firman Allah:</p>
<p>Ù‚ÙŽØ¯Ù’ Ø£ÙŽÙÙ’Ù„ÙŽØ­ÙŽ Ù…ÙŽÙ†Ù’ ØªÙŽØ²ÙŽÙƒÙ‘ÙŽÙ‰</p>
<p><em>â€œSungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya.â€</em> (QS. Al Aâ€™la:14) dengan zakat fithroh.</p>
<p>e. Ijmaâ€™ yang dinukil Ibnbu Qudamah dari Ibnul Munzir, beliau berkata: <em>â€œTelah bersepakat setiap ahli ilmu bahwa zakat fithroh adalah wajib.â€</em> (lihat <em>Al Mughny</em> 3/80)</p>
<p><strong>Hikmahnya</strong></p>
<p>Zakat fithroh memiliki hikmah yang banyak, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Dia merupakan zakat untuk tubuh yang telah diberikan kehidupan tahun tersebut.</li>
<li>Terdapat padanya kemudahan-kemudahan terhadap kaum muslimin baik yang kaya maupun yang miskin.</li>
<li>Dia merupakan ungkapan syukur atas nikmat Allah yang dilimpahkan kepada orang yang berpuasa.</li>
<li>Dengannya sempurna kebahagiaan kaum muslimin pada hari ied dan dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada bulan Romadhon.</li>
<li>Dia menjadi makanan bagi para fakir miskin, dan pembersih bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang mengurangi kesempurnaannya pada bulan Romadhon. (lihat <em>Fatawa Romadhon</em> 2/909-911) dengan dalil sabda Rasulullah <em>shallallahu â€˜alaihi wa sallam</em>:<br />
ÙÙŽØ±ÙŽØ¶ÙŽ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ Ø²ÙŽÙƒÙŽØ§Ø©ÙŽ Ø§Ù„Ù’ÙÙØ·Ù’Ø±Ù Ø·ÙÙ‡Ù’Ø±ÙŽØ©Ù‹ Ù„ÙÙ„ØµÙ‘ÙŽØ§Ø¦ÙÙ…Ù Ù…ÙÙ†Ù’ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽØºÙ’ÙˆÙ ÙˆÙŽØ§Ù„Ø±Ù‘ÙŽÙÙŽØ«Ù ÙˆÙŽØ·ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù‹ Ù„ÙÙ„Ù’Ù…ÙŽØ³ÙŽØ§ÙƒÙÙŠÙ†Ù.<em>â€œRasulullah telah mewajibkan zakat fithroh sebagai pembersih orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kejelekan serta memberi makan orang yang miskin.â€</em> (HR Abu Daud,Ibnu Majah, Ad Daruquthny, Al Hakim dan Al Baihaqy, dan dishasankan oleh Imam An Nawawy dalam <em>Al Majmuâ€™</em> (6/126), Ibnu Qudamah dalam <em>Al Mughny</em> (3/50) dan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albany dalam <em>Irwaâ€™ Al Gholil</em> (3/333))</li>
</ol>
<p><strong>Jenis yang Boleh Dikeluarkan untuk Zakat Fithroh dan yang Berhak Menerima</strong></p>
<p>Jenis yang dibolehkan dalam pengeluaran zakat fithroh adalah semua makanan pokok penduduk negeri tersebut dengan kesepakatan para ulama pada jenis-jenis yang ada dalam Nash hadits, <ins datetime="2007-10-06T04:38:06+00:00">dan yang berhak menerima adalah fakir miskin saja</ins>.</p>
<p>Berkata Ibnu Taimiyah: <em>â€œSesungguhnya asal dalam shodaqoh, bahwasanya diwajibkan atas dasar persamaan terhadap para orang faqir, sebagaimana firman Allah:</em></p>
<p>Ù…ÙÙ†Ù’ Ø£ÙŽÙˆÙ’Ø³ÙŽØ·Ù Ù…ÙŽØ§ ØªÙØ·Ù’Ø¹ÙÙ…ÙÙˆÙ’Ù†ÙŽ Ø£ÙŽÙ‡Ù’Ù„ÙÙŠÙ’ÙƒÙÙ…Ù’</p>
<p><em>â€œDari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.â€</em> (5: 89)</p>
<p><em>Dan Nabi telah mewajibkan zakat fithroh satu shoâ€™ dari korma atau gandum, karena itulah makanan pokok penduduk Madinah, dan seandainya itu bukan makanan pokoknya, bahkan makan makanan pokok yang lainnya, maka beliau tidak membebani mereka untuk mengeluarkan dari makanan yang bukan merupakan makanan pokok mereka, sebagaimana tidak memerintahkan dengan hal itu dalan kafarot. Dan shodaqoh fithroh termasuk dari jenis kafarot, karena hal ini (zakat fithroh) berhubungan dengan badan dan ini (kafarot) juga berhubungan dengan badan, berbeda dengan shodaqoh harta (mal), karena dia diwajibkan dengan sebab harta dari jenis yang Allah telah berikan.â€</em></p>
<p><strong>Ukuran Zakat Fithroh</strong></p>
<p>Sebagaimana ada dalam hadits-hadits terdahulu bahwa ukuran yang dikeluarkan adalah 1 shoâ€™ yang setara kurang lebih 3 kg beras, menurut hitungan Syeikh Ibnu Baz dan dipakai dalam Lajnah Daimah (lihat <em>Fatawa Romadhon</em> 2:915 dan 2 :926) (Lihat juga fatwa lajnah daimah no. 12572). Sedangkan menurut sebagian ulama setara dengan 2.275 Kg dan di Indonesia berlaku 2,5 kg.</p>
<p><strong>Waktu Mengeluarkannya</strong></p>
<p>Waktu mengeluarkannya yang utama adalah sebelum manusia keluar menuju sholat Ied dan boleh dipercepat satu atau dua hari sebelumnya sebagaimana yang dilakukan Ibnu Umar, dan tidak boleh setelah sholat Ied, dengan dalil hadits Ibnu Abbas (marfuâ€™):</p>
<p>Ù…ÙŽÙ†Ù’ Ø£ÙŽØ¯Ù‘ÙŽØ§Ù‡ÙŽØ§ Ù‚ÙŽØ¨Ù’Ù„ÙŽ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙŽÙ„ÙŽØ§Ø©Ù ÙÙŽÙ‡ÙÙŠÙŽ Ø²ÙŽÙƒÙŽØ§Ø©ÙŒ Ù…ÙŽÙ‚Ù’Ø¨ÙÙˆÙ„ÙŽØ©ÙŒ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ†Ù’ Ø£ÙŽØ¯Ù‘ÙŽØ§Ù‡ÙŽØ§ Ø¨ÙŽØ¹Ù’Ø¯ÙŽ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙŽÙ„ÙŽØ§Ø©Ù ÙÙŽÙ‡ÙÙŠÙŽ ØµÙŽØ¯ÙŽÙ‚ÙŽØ©ÙŒ Ù…ÙÙ†Ù’ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙŽØ¯ÙŽÙ‚ÙŽØ§ØªÙ.</p>
<p><em>â€œMaka barang siapa yang menunaikannya sebelum keluar manusia menuju sholat maka zakat terserbut diterima, dan barang siapa yang menunaikan setelah sholat maka dia adalah shodaqoh dari shodaqoh-shodaqoh.â€</em> (HR. Abi Daud)</p>
<p><strong>IED (HARI RAYA)</strong></p>
<p><strong>Hal-Hal yang Berhubungan Dengan Ied (Hari Raya)</strong></p>
<p>Setelah selesai bulan Romadhon dan selesailah puasa kaum muslimin, maka Allah tetapkan untuk kita semua satu hari raya. Hari raya kebahagian kaum muslimin setelah mengerahkan segala kekuatan dalam menunaikan ibadah puasa dan mengisi Romadhon dengan amalan ibadah yang sangat banyak. Agar kita semua dapat mensyukuri nikmat Allah. Sehingga Allah firmankan:</p>
<p><em>â€œDan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.â€</em> (QS. 2:185)</p>
<p>Demikianlah pada hari itu kita mengagungkan Allah dengan takbir dan tahmid. Akan tetapi banyak kaum muslimin yang belum mengerti hakikat pengagungan Allah tersebut. Sehingga mereka meramaikannya dengan menyulut mercon dan petasan.</p>
<p><strong>Takbir Ied, Waktu dan Lafadznya</strong></p>
<p>Dengan firman Allah diatas, disyariatkan kita bertakbir yang dikeraskan, <ins datetime="2007-10-06T04:38:06+00:00">akan tetapi <strong>tidak</strong> dengan berjamaah</ins>, seperti kita lihat di kebanyakan daerah di negeri kita.</p>
<p>Takbir Ied Fitri diawali ketika keluar ke Mushola (lapangan tempat sholat ied) sampai selesai sholat, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:</p>
<p>ÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ ÙŠÙŽØ®Ù’Ø±ÙØ¬Ù ÙŠÙŽÙˆÙ’Ù…ÙŽ Ø§Ù„Ù’ÙÙØ·Ù’Ø±Ù ÙÙŽÙŠÙÙƒÙŽØ¨Ù‘ÙØ±Ù Ø­ÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ ÙŠÙŽØ£Ù’ØªÙÙŠÙŽ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ ÙˆÙŽØ­ÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ ÙŠÙŽÙ‚Ù’Ø¶ÙÙŠÙŽ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙŽÙ„Ø§ÙŽØ©ÙŽ ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ Ù‚ÙŽØ¶ÙÙŠÙŽ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙŽÙ„Ø§ÙŽØ©ÙŽ Ù‚ÙŽØ·ÙŽØ¹ÙŽ Ø§Ù„ØªÙ‘ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙÙŠÙ’Ø±ÙŽ</p>
<p><em>â€œBeliau keluar pada hari raya fitri lalu bertakbir sampai ke Mushola dan sampai menunaikan sholat. Setelah beliau sholat beliau menghentiikan takbirnya.â€</em> (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan dihasankan Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shohihah</em> no. 170)</p>
<p>Belum didapatkan lafadz takbir dalam sunnah Rasululloh, akan tetapi terdapat lafadz takbir yang digunakan para sahabat dalam ied, yaitu:</p>
<p>Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù Ù„Ø§ ÙŽØ¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù ÙˆÙŽÙ„ÙÙ„ÙŽÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’Ø­ÙŽÙ…Ù’Ø¯Ù</p>
<p>Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù ÙˆÙŽÙ„ÙÙ„ÙŽÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’Ø­ÙŽÙ…Ù’Ø¯Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽØ¬ÙŽÙ„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡ Ø£ÙŽÙƒÙ’Ø¨ÙŽØ±Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù…ÙŽØ§ Ù‡ÙŽØ¯ÙŽØ§Ù†ÙŽØ§</p>
<p>Demikianlah makalah ini dibuat mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
<a title="I'tikaf, Zakat Fitri, Hari Raya" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/petunjuk-nabi-dalam-itikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya.html">Artikel www.muslim.or.id</p>
<p>Ilustrasi wikimedia.org<br />
</a></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2008/09/26/seputar-i%e2%80%99tikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2008/09/26/seputar-i%e2%80%99tikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2008/09/26/seputar-i%e2%80%99tikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2008/09/26/seputar-i%e2%80%99tikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

