<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[mÂ²]  Sepi Ing Pamrih - Rame Ing gawe ! &#187; Critone Simbah</title>
	<atom:link href="http://mbah-marijan.org/category/critone-simbah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mbah-marijan.org</link>
	<description>Kliping Berita- Ngeblog - belajar bareng</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Oct 2009 01:52:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Kisah: MANTAN PENDETA ROMA MENJADI AHLUS SUNNAH</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 04:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[MANTAN PENDETA ROMA]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[taurat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syaikh Amjad bin Imron Salhub Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat. Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-654" title="read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/08/read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design-300x239.jpg" alt="read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design" width="245" height="195" /><strong>Oleh </strong>: Syaikh Amjad bin Imron Salhub</p>
<p>Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para <em>sahaba</em>tnya, serta siapa saja yang mengikuti <em>sunnah</em>nya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.</p>
<p>Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.</p>
<p>Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah <em>Taâ€™aala</em>, pasti Dia <em>â€˜Azza Wa Jalla</em> akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati <em>syaikh </em>kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan:</p>
<p>Ø§Ù„Ù’Ø­ÙŽÙ…Ù’Ø¯Ù Ù„ÙÙ„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù’Ù„Ø¥ÙØ³Ù’Ù„Ø§ÙŽÙ…Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah</em></p>
<p><strong>Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah:<span id="more-651"></span></strong></p>
<p>Ø¥ÙÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙÙ†Ù’ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù’Ù„Ø£ÙŽØ¹Ù’Ø¬ÙŽÙ…ÙÙŠÙÙ‘ ÙˆÙŽ Ø§Ù„Ø´ÙŽØ§Ø¨Ù Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ Ù†ÙŽØ³ÙŽÙƒÙŽ Ø£ÙŽÙ†Ù’ ÙŠÙÙˆÙŽØ§ÙÙÙŠÙŽ ØµÙŽØ§Ø­ÙØ¨ÙŽ Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù ÙÙŽÙŠÙŽØ­Ù’Ù…ÙÙ„ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙŽØ§</p>
<p><em>Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orangÂ  â€˜ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.</em></p>
<p>Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ù„Ø§ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙØ­ÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ’Ù„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù</p>
<p><em>Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya</em></p>
<p>Inilah kalimat <em>tauhid</em>, kalimat yang baik, kunci surga. Kalimat inilah stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seorang insan yang ingin menggerakkan lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah <em>Taâ€™aala</em>.</p>
<p>Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup lembaran hidupnya diatas Islam-.</p>
<p>Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama kaumnya (<em>Nashrani</em>) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari kebebasan akal dan jiwa.</p>
<p>Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya diatas jalan ke<em>istiqomah</em>an- menceritakan:</p>
<p>Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah kekurangan.</p>
<p>Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini bukanlah tujuanku. Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca <em>Injil</em>, pergi ke gereja, serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama <em>Kristen</em>. Dari buku-buku yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai pertanyaanku, akan tetapi tetap saja belum sempurna.</p>
<p>Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut sambil membaca buku-buku dan shalat. Setelah dua bulan dari permulaan hidupku ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku seperti biasanya setelah beragama, ketika itu, saya mendatangi ayahku dan kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya juga pergi mendatangi ibu dan saudari-saudariku dan kukabarkan kepada mereka bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka.</p>
<p>Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke<em> ad-dir</em> (Istilah untuk gereja yang terpencil dipedalaman.<em> â€“ pent.</em>) disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah.</p>
<p>Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu <em>ad-dir</em> ke <em>ad-dir</em> yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak bisa meninggalkan <em>ad-dir </em>mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji untuk menjadi seorang pendeta di suatu<em> ad-dir </em>tertentu, dan janji tersebut akan menghalangiku untuk keluar masuk darinya.</p>
<p>Setelah itu, saya memutuskan untuk berkeliling ke pelbagai negeri, maka saya memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat berkesan, sehingga saya mencintainya.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang <em>Syiâ€™ah</em> di perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan kepadaku tentang Islam versi<em> Syiâ€™ah</em>, keduanya menyebutkan <em>Imam </em>Duabelas dan mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan mereka menfokuskan pada ajaran <em>Syiâ€™ah</em> dan Imam Ali, serta tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang untuk membebaskan manusia.</p>
<p>Semua diskusi tesebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Orang <em>Syiâ€™ah</em> itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.</p>
<p>Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan berlari-lari kecil menuju ke dalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat mereka ber<em>thowaf</em> mengelilingi sapi betina yang terbuat dari emas, ketika itu saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.</p>
<p>Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku. <em>Alhamdulillah</em>.</p>
<p>Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke <em>ad-dir</em> dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah <em>ad-dir</em> di Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka lalu kutinggalkan <em>ad-dir</em> tersebut.</p>
<p>Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari<em> ad-dir</em>, setelah itu saya menuju <em>al-Quds</em> karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya berpergian menuju<em> al-Quds </em>melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman, dan <em>al-Quds</em>, saya tinggal disana seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka <em>Injil</em>.</p>
<p>Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca <em>Injil </em>dari permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para<em> nabi bani Israel</em>. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang <em>Injil </em>dan <em>Taurat</em>.</p>
<p>Pada saat itu, saya teringat suara <em>adzan </em>yang pernah kudengar ketika berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman terhadap Sesembahan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. <strong>Dan inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen :</strong><em> Saya harus berkenalan dengan Islam, kemudian mulailah kukumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara yang saya miliki adalah terjemahan al-Qurâ€™an dalam bahasa Italia, yang pernah saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri</em> <em></em>.</p>
<p>Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama pembunuh, perampok dan teroris akan tetapi yang saya dapati adalah <strong>Islam itu agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari <em>Taurat</em> dan <em>Injil</em>.</strong></p>
<p>Kemudian saya putuskan untuk kembali ke <em>al-Quds</em>, karena saya yakin bahwa <em>al-Quds</em> adalah tempat turunnya ke<em>rasul</em>an terdahulu, akan tetapi kali ini saya menaiki pesawat terbang dari Italia menuju<em> al-Quds</em>. Saya turun di tempat turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan <em>hause bus Armenia</em> di daerah negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit pakaian, terjemahan <em>al-Qurâ€™an, Injil</em> dan <em>Taurat</em>. Kemudian saya mulai membaca lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan <em>al-Qurâ€™an</em> dengan isi <em>Taurat </em>dan <em>Injil</em>, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan al-Qurâ€™an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa <em>â€˜alaihimassalaam</em> yang asli.</p>
<p>Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan antara saya dengan salah seorang dari teman-temannya para <em>daâ€™i</em>.</p>
<p>Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian terjadilah perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang paling mempengaruhiku adalah kisah sabahat yang mulia, Salman al-Farisi, karena di dalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang pencarian hakekat kebenaran.</p>
<p>Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta teman-temannya, diantaranya <em>fadhilatusy Syaikh</em> Hisyam al-â€˜Arif â€“<em>hafidhohulloh</em>-, maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh <em>Syaikh</em>.</p>
<p>Setelah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaanku. Pada saat seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.</p>
<p>Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat <em>tauhid </em>dan <em>syahadat </em>telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku bertepatan dengan waktu dikumandangkannya <em>adzan </em>untuk <em>shalat</em> <em>dhuhur</em>. Waktu itu benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan :</p>
<p>Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ù„Ø§ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙØ­ÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ’Ù„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù</p>
<p><em>Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya</em></p>
<p>Maka serta merta saudara Amjad memelukku dengan pelukan yang ramah, seraya memberikan ucapan selamat atas keIslamanku, kemudian kami sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. Kemudian saya diminta mandi (Sebagaimana <em>hadits </em>Qoish bin â€˜Ashim, Ketika beliau masuk Islam, Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur bidara. (HR. An-Nasai, at-Turmudzi dan Abu Daud. Di<em>shohih</em>kan oleh al-Albani dalam al-Irwaaâ€™ (128).)) dan berangkat ke <em>al-Masjid al-Aqsho</em> untuk menunaikan <em>shalat</em> <em>dhuhur</em>,</p>
<p>Di tempat tersebut setelah <em>shalat</em>, saya menemui<em> jamaah shalat</em> dengan <em>syahadat</em>, yaitu persaksian kebenaran dan <em>tauhid </em>yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya ber<em>khitan</em>, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban ber<em>khitan</em> tersebut sebagai bentuk meneladani bapaknya para nabi, yaitu Ibrahim yang melakukan <em>khitan </em>pada usia 80 tahun (Sebagaimana Rasulullah bersabda : <em>Ibrahim berkhitan ketika umur 80 tahun dengan â€œal-Qoduumâ€</em> (nama alat atau tempat).( HR. Al-Bukhori (3356) dan Muslim (2370).)).</p>
<p>Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu agama dari kitab Allah<em> Taâ€™aala</em> dan <em>sunnah </em>Rasulullah sesuai dengan <em>manhaj salaf </em>(pendahulu) umat ini, dari kalangan para <em>sahabat </em>beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.</p>
<p>Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan <em>as-Sunnah</em>.</p>
<p><strong>Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc. dari majalah ad-Daâ€™wah as-Salafiyah-Palestina edisi perdana, Muharram 1427 H halaman: 21-24.</strong></p>
<p>via <a title='Original Link: http://ummusalma.wordpress.com/2008/05/13/mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/'  href="http://mbah-marijan.org/?TtnTPWVE">ummu salma</a></p>
<img src="http://mbah-marijan.org/?ak_action=api_record_view&id=651&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawakalnya seorang Ibu&#8230;</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 14:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al â€˜Arifi]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Takut Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Mengais Keajaiban Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakalnya seorang Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda memiliki anak pertama yang berumur 2.5 tahun, lahir setelah 17 tahun menikah, setelah Anda sembuh dari kemandulan. Anak Anda tersebut mengalami: bermasalah dalam pembuluh darah di liver, jantung berhenti berdetak selama 45 menit, pendarahan hebat yang membuat jantungnya berhenti berdetak untuk yang kedua kali pendarahan di liver, sembuh, pendarahan lagi berulang-ulang sampai 6 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-603" title="penyembuh-adalah-alloh" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/07/penyembuh-adalah-alloh-300x258.jpg" alt="penyembuh-adalah-alloh" width="262" height="225" />Jika Anda memiliki anak pertama yang berumur 2.5 tahun, lahir setelah 17 tahun menikah, setelah Anda sembuh dari kemandulan. Anak Anda tersebut mengalami:</p>
<ul>
<li>bermasalah dalam pembuluh darah di liver,</li>
<li>jantung berhenti berdetak selama 45 menit,</li>
<li>pendarahan hebat yang membuat jantungnya berhenti berdetak untuk yang kedua kali</li>
<li>pendarahan di liver, sembuh, pendarahan lagi berulang-ulang sampai 6 kali,</li>
<li>tumor dan radang otak,</li>
<li>radang ginjal,</li>
<li>radang pada selaput kristal yang mengitari jantung,</li>
</ul>
<p>penyakit tersebut hadir silih berganti, terus menerus dalam waktu 6-8 bulanâ€¦, Apa yang Anda lakukan?</p>
<p>Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al â€˜Arifi dalam bukunya <strong>â€˜Jangan Takut Sakitâ€™</strong> (hal 111-117, penerbit Fawaid, -dengan sedikit penyesuaian) menuturkan sebuah kisah:</p>
<hr />Dr. Abdullah bercerita,<br />
â€œAda seorang perempuan yang datang kepada saya dengan menyeret langkah-langkah kakinya, ia menggendong anaknya yang tersiksa oleh penyakit.<span id="more-601"></span></p>
<p>Ia adalah seorang ibu yang berusia mendekati empat puluh tahun. Ia memeluk anaknya yang masih kecil ke dadanya, seakan-akan anak tersebut adalah potongan tubuhnya. Kondisi anak itu memprihatinkan, terdengar satu dua tarikan nafas dari dadanya.</p>
<p>Saya bertanya kepada si ibu, â€˜<em>Berapa umurnya?</em>â€™<br />
Ia menjawab, â€˜<em>Dua setengah tahun.</em>â€™</p>
<p>Kami melakukan pemeriksaan kepada anak itu, ternyata anak itu bermasalah dalam pembuluh-pembuluh darah di livernya.</p>
<p>Kami segera melakukan tindakan operasi kepadanya, dan dua hari setelah operasi, anak itu sudah sehat. Sang ibu pun tampak gembira dan riang.<br />
Ketika melihat saya, ia bertanya, â€˜<em>Kapan anak saya boleh pulang dok</em>?â€™</p>
<p>Tatkala saya hampir menulis surat keterangan pulang, tiba-tiba anak kecil itu mengalami pendarahan hebat di tenggorokannya, sehingga menyebabnya jantungnya berhenti berdetak selama 45 menit.</p>
<p>Kesadaran anak tersebut sudah hilang. Lalu para dokter berkumpul di dalam ruangannya. Beberapa jam telah berlalu, namun mereka tidak sanggup membuatnya tersadar.</p>
<p>Salah seorang teman saya segera mendatangi ibunya dan berkata kepadanya, â€˜<em>Kemungkinan anak Anda mengalami kematian otak (koma) dan saya mengira bahwa ia tidak memiliki harapan untuk hidup.</em>â€™ Saya menoleh kepada teman saya tersebut sambil mencelanya karena ucapannya tersebut.</p>
<p>Lalu saya melihat kepada si ibu, demi Allah, perkataan teman saya itu tidak menambah selain ia mengucapkan, â€˜<em>Penyembuh adalah Allah, Pemberi kesehatan adalah Allah.</em>â€™<br />
Kemudian ia terus menerus membaca, â€˜<em>Saya memohon kepada Allah jika ada kebaikan pada kesembuhannya, maka sembuhkanlah ia.</em>â€™</p>
<p>Setelah itu ia diam dan berjalan menuju sebuah kursi kecil, lalu duduk. Kemudian ia mengambil mushaf kecilnya yang berwarna hijau dan membacanya.</p>
<p>Para dokter pun keluar, saya juga keluar bersama mereka. Saya berjalan melewati anak itu, kondisinya belum berubah, sesosok tubuh yang terbujur kaku laksana mayat di atas tempat tidur putih. Lalu saya menoleh kepada ibunya, keadaannya juga masih tetap seperti sebelumnya.</p>
<p>Satu hari ia membacakan Al-Qurâ€™an kepada anaknya; satu hari membacanya dan satu hari setelannya mendoakannya. Beberapa hari kemudian, salah seorang perawat perempuan memberitahu saya bahwa anak itu sudah mulai bergerak, saya langsung memuji Allah.</p>
<p>Saya berkata kepada si ibu, <em>â€˜Wahai Ummu Yasir, saya sampaikan kabar gembira kepada Anda bahwa keadaan Yasir mulai membaik.</em>â€™<br />
Ia hanya mengucapkan satu ucapan sambil menahan air matanya, <em>â€˜Alhamdulillah, Alhamdulillah.</em>â€™</p>
<p>Dua puluh empat jam kemudian kami dikejutkan dengan kondisi si anak, ia kembali mengalami pendarahan hebat seperti pendarahan sebelumnya, dan jantungnya berhenti berdetak untuk kedua kalinya.</p>
<p>Tubuhnya yang kecil kelihatan lelah, gerakannya telah hilang. Salah seorang dokter masuk untuk melihat kondisinya secara langsung, lalu saya mendengarnya berucap, â€˜<em>Mati otak.</em>â€™</p>
<p>Sang ibu terus menerus mengulang-ulang, â€˜<em>Alhamdulillah, atas setiap keadaan, penyembuh adalah Allah.</em>â€™ Beberapa hari kemudian, anak itu sembuh kembali. Namun, baru berlalu beberapa jam, ia kembali mengalami pendarahan di dalam livernya, lalu gerakannya berhenti.</p>
<p>Beberapa hari kemudian ia sadar lagi, lalu kembali mengalami pendarahan baru, kondisinya aneh, saya tidak pernah melihat kondisi seperti itu selama hidup saya, pendarahannya berulang-ulang hingga enam kali, sedangkan dari lisan ibunya hanya keluar ucapan, â€˜<em>Segala puji bagi Allah, Penyembuh adalah Rabb-ku, Dia-lah Penyembuh.</em>â€™</p>
<p>Setelah beberapa kali pemeriksaan dan pengobatan, para dokter spesialis batang tenggorokan berhasil mengatasi pendarahan, Yasir mulai bergerak-gerak lagi. Tiba-tiba, Yasir kembali diuji dengan bisul besar (tumor) dan radang otak.</p>
<p>Saya sendiri yang memeriksa keadaannya. Saya berkata kepada ibunya, .â€™<em>Keadaan anak Anda mengenaskan sekali dan kondisinya berbahaya.</em>â€™ la tetap mengulang-ulang ucapannya, â€˜<em>Penyembuh adalah Allah</em>â€™</p>
<p>la mulai membacakan Al-Qurâ€™an kepada buah hatinya. Setelah dua minggu, tumor itu tetap ada. Dua hari kemudian, anak tersebut mulai sembuh, kami memuji Allah karenanya.</p>
<p>Sang ibu bersiap-siap untuk pulang, namun satu hari kemudian, tiba-tiba anak tersebut mengalami radang ginjal parah yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronis dan hampir menyebakan kematiannya.</p>
<p>Sementara si ibu tetap berpegang teguh, bertawakal dan berserah kepada Rabb-nya serta terus mengulang-ulang, â€˜<em>Penyembuh adalah Allah.â€™</em> Lalu, ia kembali ke tempatnya dan membacakan Al-Qurâ€™an kepada anaknya.</p>
<p>Hari-hari berlalu, sedangkan kami terus berusaha memeriksa dan mengobati secara maraton hingga berlangsung sampai tiga bulan, kondisinya pun membaik, segala puji hanya bagi Allah.</p>
<p>Akan tetapi, kisah ini belum berhenti sampai di sini saja, si anak kembali diserang penyakit aneh yang belum pernah saya kenal selama hidup.</p>
<p>Setelah empat bulan, ia terserang radang pada selaput kristal yang mengitari jantung, sehingga memaksa kita untuk membuka sangkar dadanya dan membiarkannya terbuka untuk mengeluarkan nanah.</p>
<p>Ibunya hanya melihat kepadanya sambil berucap, â€˜<em>Saya memohon kepada Allah agar menyembuhkannya, Dia adalah penyembuh dan pemberi kesehatan.</em>â€™ Lalu, ia kembali ke kursinya dan membuka mushafnya.</p>
<p>Terkadang saya melihat kepada ibu tersebut, sementara mushaf ada di depannya, ia tidak menoleh ke sekelilingnya. Kemudian saya masuk ke ruang refreshing, maka saya melihat banyak pasien dengan berbagai penyakit dan para penunggu mereka.</p>
<p>Saya melihat sebagian dari para pasien tersebut berteriak-teriak dan yang lainya mengaduh-aduh, sedangkan para penunggunya menangis, dan sebagian dari mereka berjalan di belakang para dokter.</p>
<p>Sementara ibu itu tetap berada di atas kursinya dan di depan mushafnya, tidak berpaling kepada orang yang berteriak dan tidak berdiri menghampiri dokter serta tidak berbicara dengan seorang pun.</p>
<p>Saya merasa bahwa ia adalah gunung, setelah berada selama enam bulan di ruang refreshing. Saya berjalan melewati anaknya, saya melihat matanya terpejam, tidak berbicara dan tidak bergerak, dadanya terbuka.</p>
<p>Kami mengira bahwa ini merupakan akhir kehidupannya, sedangkan sang ibu tetap dalam keadaannya, membaca Al-Qurâ€™an. Seorang penyabar yang tidak mengeluh dan tidak mengaduh.</p>
<p>Demi Allah, ia tidak mengajak saya bicara dengan sepatah katapun dan tidak pula bertanya kepada saya tentang kondisi anaknya. Ia hanya berbicara setelah saya mulai mengajaknya bicara tentang anaknya tersebut.</p>
<p>Adapun usia suaminya sudah lebih dari empat puluh tahun. Terkadang suaminya menemui saya di dekat anaknya, ketika ia menoleh kepada saya untuk bertanya, istrinya menarik tangannya dan menenangkannya serta mengangkat spiritnya dan mengingatkannya bahwa sang Penyembuh adalah Allah.</p>
<p>Setelah berlalu dua bulan, keadaan anak tersebut sudah membaik, lalu kami memindahkannya ke ruangan khusus anak-anak di rumah sakit, kondisinya sudah mengalami banyak kemajuan.</p>
<p>Keluarganya pun mulai membiasakan kepadanya berbagai jenis terapi dan pelatihan. Setelah itu, anak tersebut pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki, ia melihat dan berbicara seakan-akan ia tidak pernah tertimpa sesuatu sebelumnya.</p>
<p>Maaf, kisah menakjubkan ini belum selesai, karena satu setengah tahun kemudian, ketika berada di ruang kerja saya, tiba-tiba suami wanita itu masuk menemui saya, sedangkan di belakangnya istrinya menyusulnya sambil menggendong bayi kecil yang sehat.</p>
<p>Ternyata si anak kecil itu sedang diperiksakan secara rutin di RS tersebut, mereka datang kepada saya untuk menyampaikan salam.</p>
<p>Saya bertanya kepada si suami, â€˜<em>Masya Allah, apakah bayi kecil ini adalah anak yang keenam atau ketujuh di dalam keluarga Anda?â€™ </em>Ia menjawab, â€˜<em>Ini yang kedua, dan anak pertama kami adalah anak yang Anda obati setahun yang lalu. Ia merupakan anak pertama kami yang lahir setelah tujuh belas tahun kami menikah dan sembuh dari kemandulan.â€™</em></p>
<p>Saya menundukkan kepala, dan langsung teringat dengan gambaran ibunya ketika sedang menunggui anaknya. Saya tidak mendengar suara yang keluar darinya dan tidak melihat tanda kegelisahan pada dirinya.</p>
<p>Saya mengucap di dalam hati, <em>â€˜Subhanallah</em>.â€™ Setelah tujuh belas tahun bersabar dan mencoba berbagai terapi kemandulan, lalu diberi rezeki dengan seorang anak laki-laki yang dilihatnya mati berkali-kali di hadapannya.</p>
<p>Akan tetapi, wanita tersebut hanya berpegang teguh pada kalimat â€˜Laailaaha illallaahâ€™ dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Penyembuh dan Pemberi kesehatan. Subhanallah! Betapa besar tawakkal dan keimanan yang dimiliki wanita itu.â€</p>
<p>judul aslinya <a title='Original Link: http://jilbab.or.id/archives/576-mengais-keajaiban-cinta/'  href="http://mbah-marijan.org/?9nZco9Uj">Mengais Keajaiban Cinta</a></p>
<img src="http://mbah-marijan.org/?ak_action=api_record_view&id=601&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Su&#8217;ul khotimah: Wanita Yang Tak Pernah Shalat, Mati Saat Sedang Berdandan!!</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 08:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[mesir]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[tabaruj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[Temanku berkata kepadaku, &#8220;Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat. Di sana aku melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-596" title="8dfdf71c236803484e45076982f2d470" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/06/8dfdf71c236803484e45076982f2d470-150x150.jpg" alt="8dfdf71c236803484e45076982f2d470" width="150" height="150" />Temanku berkata kepadaku, &#8220;Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat.</p>
<p>Di sana aku melihat empat wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan memintaku agar menolongnya memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya, &#8216;<em>Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita</em>.&#8217; Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar.<span id="more-595"></span></p>
<p>Kemudian wanita itu kembali masuk dan memandikan mayat tersebut. Setelah selesai dikafankan, ia memanggil kami agar mayat tersebut diusung. Karena jenazah ini terlalu berat, kami berjumlah sebelas orang masuk ke dalam untuk mengangkatnya. Setelah sampai di lubang kuburan (kebiasaan penduduk Mesir membuat pekuburan seperti ruangan lalu dengan menggunakan tangga, mereka menurunkan mayat ke ruangan tersebut dan meletakkannya di dalamnya dengan tidak ditimbun).</p>
<p>Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan tidak sempat kami tangkap kembali hingga aku mendengar dari gemeretak tulangnya yang patah ketika jenazah itu jatuh. Aku melihat ke dalam ternyata kain kafannya sedikit terbuka sehingga terlihat auratnya. Aku segera melompat ke jenazah dan menutup aurat tersebut.</p>
<p>Lalu dengan susah payah aku menyeretnya ke arah kiblat dan aku buka kafan di bagian mukanya. Aku melihat pemandangan yang aneh. Matanya terbe-lalak dan berwarna hitam. Aku menjadi takut dan segera memanjat ke atas dengan tidak menoleh ke belakang lagi.</p>
<p>Setelah sampai di apartemen, aku menghubungi salah seorang anak perempuan jenazah. Ia bersumpah agar aku menceritakan apa yang terjadi saat memasukkan jenazah ke dalam kuburan. Aku berusaha untuk mengelak, namun ia terus mendesakku hingga akhirnya terpaksa harus memberitahukannya. Ia berkata, &#8220;<em>Ya Syaikh </em>(panggilan yang sering diucapkan kepada seorang ustadz-red), <em>ketika anda melihat kami bergegas keluar dikarenakan kami melihat wajah ibu kami menghitam, karena ibu kami tidak pernah sekalipun melaksanakan shalat dan meninggal dalam keadaan berdandan.</em>&#8221;</p>
<p>Kisah nyata ini menegaskan bahwa Allah <em>Subhanahu wata&#8217;ala </em>menghendaki agar sebagian hamba-Nya melihat bekas Su&#8217;ul khatimah hamba-Nya yang durhaka agar menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Serial Kisah Teladan karya Muhammad bin Shalih al-Qahthani, Juz 2 seperti yang dinukilnya dari Kisah-Kisah Nyata karya Abdul Hamid Jasim al-Bilaly, PENERBIT DARUL HAQ) <em>via </em>Note Teman</p>
<img src="http://mbah-marijan.org/?ak_action=api_record_view&id=595&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Husnul Khotimah: Perpisahan Terakhir*</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 16:21:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Umar basyir Al-Maidani]]></category>
		<category><![CDATA[Al-lahazhat Al-hasimah]]></category>
		<category><![CDATA[Az-Zairul Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[bisu]]></category>
		<category><![CDATA[Jaridahul Jazirah]]></category>
		<category><![CDATA[Kholid Abdurrohman Asy-Syayi']]></category>
		<category><![CDATA[Kholid Abu Sholih]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Husnul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri Menjelang Ajal]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad ibn Abdul Aziz Al-Musnid]]></category>
		<category><![CDATA[Musyahidul Ihtidhor]]></category>
		<category><![CDATA[Perpisahan Terakhir]]></category>
		<category><![CDATA[Sulthon ibn Fahd Ar-Rosyid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[*Kisah ini disebutkan dalam bentuk berita di surat kabar Jaridahul Jazirah edisi 10183. Di sini disebutkan sesuai redaksi aslinya. Ia seorang wanita sholihah, seorang wanita pendidik yang agung. Ia gemar bersedekah dan amat murah hati. Itu berdasarkan persaksian orang-orang yang dekat dengannya. Namun, selama lima puluh tahun masa hidupnya, ia dalam keadaan bisu. Suami dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>*Kisah ini disebutkan dalam bentuk berita di surat kabar <em>Jaridahul Jazirah</em> edisi 10183. Di sini disebutkan sesuai redaksi aslinya.</small></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-589 aligncenter" title="spirituality_by_muslim_women" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/06/spirituality_by_muslim_women-300x227.jpg" alt="spirituality_by_muslim_women" width="300" height="227" /></p>
<p>Ia seorang wanita sholihah, seorang wanita pendidik yang agung. Ia gemar bersedekah dan amat murah hati. Itu berdasarkan persaksian orang-orang yang dekat dengannya. Namun, selama lima puluh tahun masa hidupnya, ia dalam keadaan bisu.<span id="more-588"></span></p>
<p>Suami dan keluarganya sudah terbiasa dengan kondisinya tersebut. Mereka yakin akan takdir dan ketetapan Alloh. Alloh tentu saja memiliki hikmah dalam segala sesuatu yang diatur-Nya dalam kehidupan alam semesta ini. Seorang muslim harus ridho terhadap takdir dan ketetapan Alloh setiap kali ia tertimpa bala atau musibah.</p>
<p>Suatu malam, tidak seperti biasanya, ia bangun lebih cepat, beberapa jam sebelum sholat Shubuh. Ia bangkit dan sholat menghadap Alloh<em> &#8216;Azza wa Jalla</em>.</p>
<p>Tiba-tiba ia berbicara dengan suara yang terdengar jelas, sehingga sang suami kontan terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tersebut.</p>
<p><em>&#8220;Ya Ilahi! Apa yang terjadi? Apakah selama lima puluh tahun ia hanya membisu kini tiba-tiba lidahnya berbicara?&#8221;</em></p>
<p>Ya. ia memang berbicara untuk mengucapkan dua kalimat <em>syahadat </em>dengan bahasa yang jelas dan lugas. Ia berdoa kepada Alloh dengan pasrah, dengan kata-kata yang terdengar jelas.</p>
<p>Si suami menunggu sampai sang istri selesai sholat dengan hati penasaran. Ia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi ia sudah terdahului oleh takdir Alloh. Belum selesai sang istri sholat, Alloh sudah mengambil ruhnya, saat ia masih berada di atas sajadahnya yang empuk.</p>
<p>Ia telah menutup kehidupannya dengan kaliamat tauhid dan do&#8217;a. Pernahkah kita mendengar akhir kehidupan yang lebih indah daripada ini?</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
Judul Asli <em>Al-lahazhat Al-hasimah, Muhammad ibn Abdul Aziz Al-Musnid</em><br />
Judul Asli <em>Az-Zairul Akhir, Kholid Abu Sholih</em><br />
Judul Asli <em>Musyahidul Ihtidhor </em>(cuplikan), <em>Kholid Abdurrohman Asy-Syayi&#8217;</em> dan <em>Sulthon ibn Fahd Ar-Rosyid</em><br />
Judul Terjemah <em>Misteri Menjelang Ajal</em>, Penerjemah <em>Abu Umar basyir Al-Maidani</em></p>
<img src="http://mbah-marijan.org/?ak_action=api_record_view&id=588&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perokok Rawan Terkena Virus Influensa A-H1N1</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 10:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dawuhe Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/</guid>
		<description><![CDATA[HONGKONG, KOMPAS.com â€” Berkaitan dengan kemunculan influenza A-H1N1 baru-baru ini, juru bicara Departemen Kesehatan Hongkong, Senin (25/5), mendesak perokok agar menghentikan kebiasaan itu sebagai salah satu langkah pencegahan terbaik terhadap influenza. &#8220;Penelitian memperlihatkan risiko lebih tinggi terhadap infeksi influenza di kalangan perokok ketika dibandingkan dengan orang yang tidak merokok,&#8221; katanya. &#8220;Juga, angka kematian akibat influenza [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>HONGKONG, KOMPAS.com</strong> â€” Berkaitan dengan kemunculan influenza A-H1N1 baru-baru ini, juru bicara Departemen Kesehatan Hongkong, Senin (25/5), mendesak perokok agar menghentikan kebiasaan itu sebagai salah satu langkah pencegahan terbaik terhadap influenza.</p>
<p>&#8220;Penelitian memperlihatkan risiko lebih tinggi terhadap infeksi influenza di kalangan perokok ketika dibandingkan dengan orang yang tidak merokok,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Juga, angka kematian akibat influenza di kalangan perokok lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang bukan perokok,&#8221; kata juru bicara tersebut.</p>
<p>Penerapan gaya hidup sehat dan dipeliharanya kesehatan pribadi yang baik juga menjadi langkah efektif guna mencegah influenza, katanya.</p>
<p>Mulai 27 Mei, Departemen Kesehatan Hongkong berencana melancarkan serangkaian pameran keliling mengenai upaya berhenti merokok di berbagai wilayah guna meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak berbahaya akibat merokok dan menambah pengetahuan mereka tentang cara berhenti merokok.</p>
<p>Pengunjung pameran keliling tersebut akan memperoleh pengertian lebih baik tentang bahaya merokok dan perokok pasif, cara efektif untuk berhenti merokok, serta saran dan saluran yang tersedia agar orang dapat berhenti merokok.</p>
<p><strong>Sumber: Kompas.com</strong></p>
<img src="http://mbah-marijan.org/?ak_action=api_record_view&id=573&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Syaikh Menahan Marah</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/05/17/saat-syaikh-menahan-marah/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/05/17/saat-syaikh-menahan-marah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 05:36:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Humor Simbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2009/05/17/saat-syaikh-menahan-marah/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat Syaikh berjalan kaki pulang dari Masjid Al-Jaamiâ€™ Al-Kabier. Di depan sebuah toko, di sebuah perempatan, Syaikh melihat seorang pemuda Mesir sedang merokok. â€œHai, anak muda. Merokok itu haram hukumnya. Apalagi ini kota para santri, sangat tidak baik merokok, apalagi di pinggir jalan seperti ini.â€ Ujar Syaikh, dengan suara lembut, dengan senyum. â€œHey apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu saat Syaikh berjalan kaki pulang dari Masjid Al-Jaamiâ€™ Al-Kabier. Di depan sebuah toko, di sebuah perempatan, Syaikh melihat seorang pemuda Mesir sedang merokok.</p>
<p>â€œHai, anak muda. Merokok itu haram hukumnya. Apalagi ini kota para santri, sangat tidak baik merokok, apalagi di pinggir jalan seperti ini.â€ Ujar Syaikh, dengan suara lembut, dengan senyum.</p>
<p>â€œHey apa urusanmu? Kalau ini haram, yang berdosa aku, bukan kamu.â€ Bentak pemuda itu kasar.</p>
<p>â€œYa, terserah kamu saja.â€ Ujar Syaikh lembut.</p>
<p>Saat berjalan beberapa langkah, beberapa orang menyalami beliau. Syaikh menyambut dengan senang. Namun dibelakang mereka, terlihat wajah di pemuda itu pucat.</p>
<p>â€œApa dia itu Syaikh Muhammad Sholih Al-Utsaimin? Kenapa hanya berjalan kaki?â€ tanyanya.</p>
<p>Pemuda itu segera mendekati Syaikh dan menubruk kakinya. â€œâ€™Afwan Syaikh. Saya tidak tahu kalau Anda adalah Syaikh&#8230;.â€</p>
<p>â€œHeh. Saya tidak peduli Anda kenal saya atau tidak. Seharusnya Anda takut terhadap yang haram, bukan karena saya melihat Anda. Biarkan hanya seorang anak kecil yang mengingatkan Anda, seharusnya Anda tetap menerima. Tadi saya tidak marah. Tapi begitu melihat Anda mengiba-iba hanya karena melihat saya, justru saya menjadi marah. Pergi sana, sebelum saya betul-betul marah&#8230;.â€</p>
<p>â€œYa&#8230;ya Syaikh&#8230;.â€ ucap pemuda itu terbata-bata.</p>
<p>â€œRokok sial. Seumur hidup aku tidak akan menghisapmu lagi&#8230;.â€</p>
<p>Beberapa orang pemuda di belakangnya, tertawa tertahan-tahan.</p>
<p>Majalah ElFata â€“ edisi 05 vol.9 â€“ 2009 â€“ Rubrik Senyum</p>
<p>via <a title='Original Link: http://pikojogja.wordpress.com/2009/05/17/saat-syaikh-menahan-marah/'  href="http://mbah-marijan.org/?wJdDwIms" mce_title='Original Link: http://pikojogja.wordpress.com/2009/05/17/saat-syaikh-menahan-marah/'  href="http://mbah-marijan.org/?wJdDwIms">http://piko.amikom.info</a></p>
<img src="http://mbah-marijan.org/?ak_action=api_record_view&id=572&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/05/17/saat-syaikh-menahan-marah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takdir Ada 2 Macam.</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 00:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dawuhe Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/</guid>
		<description><![CDATA[Ø¨Ø³Ù… Ø§Ù„Ù„Ù‡ Ø§Ù„Ø±Ø­Ù…Ù† Ø§Ù„Ø±Ø­ÙŠÙ… Al-Qadarul Mutsbat &#038; Al-Qadarul Muâ€™allaq â€œAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).â€ (Ar-Raâ€™ad, QS 13: 39) Sebagian orang ada yang bertanya-tanya, jika rizki telah dituliskan (tidak bertambah dan tidak berkurang) dan ajal telah ditentukan (tidak dapat dimajukan dan dimundurkan), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ø¨Ø³Ù… Ø§Ù„Ù„Ù‡ Ø§Ù„Ø±Ø­Ù…Ù† Ø§Ù„Ø±Ø­ÙŠÙ…</p>
<p>Al-Qadarul Mutsbat &#038; Al-Qadarul Muâ€™allaq</p>
<p>â€œAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).â€ (Ar-Raâ€™ad, QS 13: 39)</p>
<p>Sebagian orang ada yang bertanya-tanya, jika rizki telah dituliskan (tidak bertambah dan tidak berkurang) dan ajal telah ditentukan (tidak dapat dimajukan dan dimundurkan), lalu bagaimana halnya dengan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œBarangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim!â€ (Muttafaq â€˜alaih).</p>
<p>Jawabannya adalah, bahwa qadar itu ada dua macam yaitu:<span id="more-568"></span><br />
1.	Al-Qadarul Mutsbat (qadar yang telah tetap dan pasti).<br />
Yaitu apa yang telah tertulis dalam Ummul-Kitab (al-Lauhul Mahfuzh). Qadar ini tetap, tidak berubah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œAllah telah menetapkan ketentuan-ketentuan para makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumiâ€¦â€ (HR. Muslim, VIII/51)</p>
<p>2.	Al-Qadarul Muâ€™allaq atau Muqayyad (qadar yang tergantung atau terikat).<br />
Yaitu, apa yang tertulis dalam catatan-catatan Malaikat, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œSesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagia(nya)â€¦â€ (HR. Bukhari, No. 3208; Muslim, No. 2643; Ibnu Majah, No. 76. Lafazhnya adalah dari riwayat Muslim). Maka inilah yang bisa dihapuskan dan ditetapkan.</p>
<p>Ajal, rizki, umur, dan selainnya yang ditetapkan dalam Ummul-Kitab, tidak berubah. Adapun dalam lembaran-lembaran yang ada pada tangan Malaikat, maka bisa dihapuskan, ditetapkan, ditambah, dan dikurangi.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:<br />
Ajal (umur) itu ada dua: ajal mutlak yang (hanya) diketahui oleh Allah, dan ajal yang terikat. Dengan ini menjadi jelaslah makna sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: â€œBarangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim!â€<br />
Allah memerintahkan Malaikat untuk mencatat ajal untuknya seraya mengatakan: â€œJika ia menyambung tali silaturahim, maka Aku menambahkan kepadanya demikian dan demikian.â€ Sedangkan Malaikat tidak tahu apakah bertambah atau tidak. Tetapi Allah mengetahui perkara yang sebenarnya. Jika ajal telah datang, maka tidak dicepatkannya dan tidak diakhirkan. (Majmuuâ€™ul Fataawaa, VIII/517)</p>
<p>Rizki itu dua macam: salah satunya, apa yang diketahui oleh Allah bahwa Dia memberi rizki kepadanya, maka hal ini tidak berubah. Kedua, apa yang dituliskan dan diberitahukannya kepada para Malaikat, maka hal ini bertambah dan berkurang, menurut sebab-sebabnya. (Ibid.)</p>
<p>Ibnu Hajar rahimahullah  berkata:<br />
Seperti dikatakan kepada Malaikat, misalnya: â€œUmur fulan seratus tahun jika menyambung tali silaturahim, dan enam puluh tahun jika memutuskannya.â€ Tetapi telah diketahui oleh Allah sebelumnya bahwa ia akan menyambung atau memutuskannya. Apa yang ada dalam ilmu Allah, maka tidak dimajukan dan tidak ditunda, sedangkan yang ada dalam ilmu Malaikat, maka itulah yang memiliki kemungkinan bertambah dan berkurang. Inilah yang dinyatakan lewat firman-Nya:<br />
â€œAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).â€ (Ar-Raâ€™ad, QS 13: 39)<br />
Maka penghapusan dan penetapan itu adalah berhubungan dengan apa yang ada dalam ilmu Malaikat, sedangkan yang tertulis dalam Ummul-Kitab, yaitu yang berada dalam ilmu Allah Taâ€™ala, maka tidak ada penghapusan sama sekali. Untuk qadhaâ€™ ini dinyatakan dengan qadhaâ€™ yang bersifat tetap, sedangkan untuk yang disebutkan sebelumnya dinyatakan dengan qadhaâ€™ yang tergantung. (Fathul Baari, X/430; Syarh Shahiih Muslim, an-Nawawi, XVI/114; Ifaadah al-Khabar bin Nashshihi fii Ziyaadatil â€˜Umr wa Naqshihi, as-Suyuti)</p>
<p>Kemudian, sebab-sebab yang dengannya rizki akan diperoleh merupakan bagian dari apa yang ditakdirkan Allah dan dituliskan-Nya. Jika telah ditentukan sebelumnya, bahwa hamba akan diberi rizki dengan usahanya, maka Allah mengilhamkan kepadanya untuk berusaha. Maka, rizki yang Dia takdirkan untuknya dengan berusaha, tidak akan diperoleh dengan tanpa berusaha. Sedangkan rizki yang Dia takdirkan untuknya dengan tanpa usaha, seperti kematian orang yang diwarisinya, maka ia (rizki tersebut) akan datang kepadanya dengan tanpa usaha. (Majmuuâ€™ul Fataawaa, VIII/540-541)</p>
<p>Adapun dalam hal mencari rizki tetapi dengan cara yang tidak halal, maka tidak boleh dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Telah terdapat keterangan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyanjung Rabb-nya dengan mensucikan-Nya dari keburukkan, dalam ucapan beliau : â€œâ€¦Aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati, kebaikan seluruhnya ada di kedua tangan-Mu, dan keburukkan tidaklah dinisbatkan kepada-Mu. Aku berlindung dan bersandar kepada-Mu, Mahasuci Engkau dan Mahatinggiâ€¦â€ (HR. Muslim, No. 771).</p>
<p>Sesungguhnya, ketika Nabi Adam â€˜alaihissalam melakukan dosa, maka ia bertaubat, lalu Rabb-nya memilihnya dan memberi petunjuk kepadanya. Sedangkan Iblis, ia tetap meneruskan dosa dan menghujat, maka Allah melaknat dan mengusirnya. Barangsiapa yang bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam â€˜alaihissalam, dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalih dengan takdir, maka ia sesuai dengan sifat Iblis. Maka orang-orang yang berbahagia akan mengikuti bapak mereka dan orang-orang yang celaka akan mengikuti musuh mereka, Iblis. (Ibid, VIII/64)<br />
Berkaitan dengan hal tersebut, penting kita perhatikan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda: â€œTidak satu jiwapun yang bernapas melainkan Allah telah menentukan tempatnya baik di surga atau neraka, dan juga telah dituliskan celaka atau bahagianya.â€ (HR. Bukhari â€“ Muslim). â€œâ€¦maka ahli surga dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli surga dan ahli neraka dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli neraka.â€ (HR. Ibnu Abi â€˜Ashim, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).<br />
Berdasarkan kedua hadits tersebut, maka layak bagi kita untuk segera bermuhasabah (introspeksi) atas diri kita masing-masing, apakah hati kita telah merasa ringan untuk melaksanakan amalan ahli surga, atau justru sebaliknya, merasa ringan untuk melakukan amalan ahli neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala jadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berjuang untuk melakukan amalan ahli surga. Allahul Mustaâ€™an.</p>
<p>Salah satu di antara sebab-sebab lain yang dapat merubah takdir yang telah dicatat oleh Malaikat, adalah doâ€™a. Doâ€™a merupakan perkara yang agung dan mulia, sebab ia dapat menolak takdir dan menghilangkan petaka. Ia bermanfaat terhadap apa yang sudah datang dan apa yang belum datang. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: â€œâ€¦Tidak ada yang dapat menolak takdir, kecuali doâ€™aâ€¦â€ (Diriwayatkan oleh Ahmad, V/277; Ibnu Majah, No. 90; at-Tirmidzi, No. 139; dihasankan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaamiâ€™, No. 7687, dan ash-Shahiihah, No. 154).</p>
<p>Namun demikian, karena doâ€™a adalah perkara yang agung dan mulia, maka hendaknya setiap orang yang berdoâ€™a mengetahui Adab dan Sebab Terkabulnya Doâ€™a, sehingga tahu kapan dan bagaimana berdoâ€™a yang sesuai dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang shahih.</p>
<p><a title='Original Link: http://www.facebook.com/profile.php?id=1084713685'  href="http://mbah-marijan.org/?jMNimLvP">Abu Muhammad Herman</a><span class="comment_meta_data"> via Pages FB</span><span class="comment_credits" /></p>
<img src="http://mbah-marijan.org/?ak_action=api_record_view&id=568&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/05/01/takdir-ada-2-macam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fosil Batre Baghdad 2000 Tahun</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2008/12/02/fosil-batre-baghdad-2000-tahun/#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2008/12/02/fosil-batre-baghdad-2000-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 09:24:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Techno]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2008/12/02/fosil-batre-baghdad-2000-tahun/</guid>
		<description><![CDATA[Bagdad Batery merupakan salah satu artifak kuno yang paling membingungkan para ilmuan maupun arkeolog. Pada tahun 1930 silam, pada sebidang makam kuno di luar Bagdad (Khujut Rabula), beberapa arkeolog yang melakukan penggalian disana menemukan sebuah artifak yang diduga merupakan satu set baterai kimia yang usianya telah mencapai 2000 tahun lebih! Arifak aneh tersebut terdiri atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="bbagcut.jpg" class="imagelink" title='Original Link: http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2008/12/bbagcut.jpg#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed'  href="http://mbah-marijan.org/?RyQ2LtSX"><img align="left" alt="bbagcut.jpg" id="image552" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2008/12/bbagcut.thumbnail.jpg" /></a> Bagdad Batery merupakan salah satu artifak kuno yang paling membingungkan para ilmuan maupun arkeolog. Pada tahun 1930 silam, pada sebidang makam kuno di luar Bagdad (Khujut Rabula), beberapa arkeolog<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang melakukan penggalian disana menemukan sebuah artifak<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang diduga merupakan satu set baterai kimia<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang usianya telah mencapai 2000 tahun lebih!</p>
<p>Arifak aneh tersebut terdiri atas sebuah silinder tembaga, batang besi serta aspal<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang disusun sedemikian rupa dalam sebuah jambangan kecil (tinggi 14 cm, diameter 8 cm)<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang terbuat dari tanah liat .Setelah para ahli merekaulang memang benar didapati bahwa artifak tsb merupakan sebuah baterai elektrik kuno!<span id="more-554"></span></p>
<p><span /> Para peneliti berhasil memperoleh 1.5 voltmeter dari artifak batu baterai elektrik tsb,<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang bekerja nonstop selama 18 hari dengan cara memasukkan cairan asam kedalam jambangannya.</p>
<div style="text-align: center"><img alt="bbag.gif" id="image553" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2008/12/bbag.gif" /></div>
<p><span /> Usia artifak baterai kuno ini diperkirakan berkisar 2.000 &#8211; 5.000 tahun, jauh sebelum Alessandro Volta (Italia) membuat baterai pertama kali pada tahun 1800 serta Michael Faraday (Inggris) menemukan induksi elektromagnetik dan hukum elektrolisis pada 1831<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang jarak penemuannya hingga kini mencapai sekitar 200 tahun lebih.</p>
<p>Temuan ini tentunya dapat merubah pandangan manusia masa kini akan kemajuan teknologi<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang telah dicapai oleh peradaban manusia masa lalu.Nampaknya,aktifitas elektrik telah dikenal oleh manusia pada masa-masa itu.</p>
<div style="text-align: center"><img alt="bbagcut.jpg" id="image552" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2008/12/bbagcut.jpg" /></div>
<p><span /> Tidak hanya bagdad battery saja<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang menarik perhatian para ilmuan maupun arkeolog di seluruh dunia,namun terdapat beberapa artifak serupa<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang diduga juga sebagai peralatan elektrik masa silam,seperti Dendeera Lamps, Assyrian Seal, maupun The coffin of Henettawy. Sebenarnya Dendeera lamps ini merupakan sebuah relief disebuah temple di Mesir<br />
<input type="hidden" name="IL_MARKER" />yang menggambarkan seorang Pharaoh sedang menggenggam sebuah benda mirip dengan bola lampu lengkap dengan penggambaran kabel beserta catu dayanya.</p>
<p><span /><!-- / message -->link terkait : <a title='Original Link: http://www.unmuseum.org/bbattery.htm'  href="http://mbah-marijan.org/?prVEUXK7">http://www.unmuseum.org/bbattery.htm</a> 			 			 			 				<!-- sig --></p>
<img src="http://mbah-marijan.org/?ak_action=api_record_view&id=554&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2008/12/02/fosil-batre-baghdad-2000-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
