<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[m²]  Sepi Ing Pamrih - Rame Ing gawe ! &#187; Critone Simbah</title>
	<atom:link href="http://mbah-marijan.org/category/critone-simbah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mbah-marijan.org</link>
	<description>Kliping Blog Simbah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 11:44:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=100</generator>
		<item>
		<title>Anak Penarik Becak Lulus Dokter di UGM</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2011/09/19/anak-penarik-becak-lulus-dokter-di-ugm/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2011/09/19/anak-penarik-becak-lulus-dokter-di-ugm/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 21:28:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[datang ke]]></category>
		<category><![CDATA[fakultas kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kampus ugm]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa baru]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[potret rakyat kecil penarik becak]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Suyatno (63) memarkir becanya di belakang Graha Sabha Pramana dan menggemboknya dengan sebuah rantai. Tidak lama kemudian, ia mengambil sebuah bungkusan plastik berwarna hijau yang tersimpan di belakang kursi sandaran becaknya. Bergegas ia mencari sudut gedung dan membuka isi tas plastik itu. Sebuah baju batik berwarna coklat terlipat rapi. “Sebelum pakai batik, saya lap dulu keringat saya, banyak sekali,” kata Suyatno sebelum naik ke lantai dua tempat berlangsung sebuah acara. Suyatno datang ke kampus UGM dalam rangka menghadiri undangan pertemuan orangtua mahasiswa baru, Kamis (8/09/2011). Ia datang bukan sebagai orangtua mahasiswa baru, tetapi sebagai undangan khusus. Orangtua ini dinilai berhasil menguliahkan anaknya hingga lulus menjadi dokter di Fakultas Kedokteran (FK) UGM. Pria yang sehari-hari menetap di Terban, Kota Yogyakarta, ini memiliki empat orang anak. Namun, hanya anak bungsunya, Agung Bhaktiyar, yang dapat mengenyam bangku pendidikan tinggi, bahkan telah dilantik menjadi dokter pada pertengahan 2011 lalu. Suyatno berkisah bahwa sang anak tidak pernah memberitahu jika mendaftar tes masuk UGM pada tahun 2005. Setelah dinyatakan lulus, barulah si bungsu memberi tahu. Saat itu, Suyatno sempat kaget dan terdiam, tidak menyangka jika anaknya dapat diterima di FK UGM. Ia hanya mengiyakan akan mendukung keinginan anaknya tersebut meski sebenarnya Suyatno masih ragu apakah mampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2011/09/gal3094556482.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-859" title="gal309455648" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2011/09/gal3094556482-300x273.jpg" alt="" width="300" height="273" /></a>Suyatno (63) memarkir becanya di belakang Graha Sabha Pramana dan menggemboknya dengan sebuah rantai. Tidak lama kemudian, ia mengambil sebuah bungkusan plastik berwarna hijau yang tersimpan di belakang kursi sandaran becaknya. Bergegas ia mencari sudut gedung dan membuka isi tas plastik itu. Sebuah baju batik berwarna coklat terlipat rapi. “Sebelum pakai batik, saya lap dulu keringat saya, banyak sekali,” kata Suyatno sebelum naik ke lantai dua tempat berlangsung sebuah acara.</p>
<p>Suyatno datang ke kampus UGM dalam rangka menghadiri undangan pertemuan orangtua mahasiswa baru, Kamis (8/09/2011). Ia datang bukan sebagai orangtua mahasiswa baru, tetapi sebagai undangan khusus. Orangtua ini dinilai berhasil menguliahkan anaknya hingga lulus menjadi dokter di Fakultas Kedokteran (FK) UGM.</p>
<p style="text-align: justify; ">Pria yang sehari-hari menetap di Terban, Kota Yogyakarta, ini memiliki empat orang anak. Namun, hanya anak bungsunya, Agung Bhaktiyar, yang dapat mengenyam bangku pendidikan tinggi, bahkan telah dilantik menjadi dokter pada pertengahan 2011 lalu.</p>
<p>Suyatno berkisah bahwa sang anak tidak pernah memberitahu jika mendaftar tes masuk UGM pada tahun 2005. Setelah dinyatakan lulus, barulah si bungsu memberi tahu. Saat itu, Suyatno sempat kaget dan terdiam, tidak menyangka jika anaknya dapat diterima di FK UGM. Ia hanya mengiyakan akan mendukung keinginan anaknya tersebut meski sebenarnya Suyatno masih ragu apakah mampu menguliahkan anaknya sampai selesai. Namun, keraguan itu tidak ia utarakan. </p>
<p>“Bapak akan berusaha sampai kamu bisa selesai kuliah, Nak,” ujarnya kala itu membesarkan hati sang anak.</p>
<p>Agung pun mafhum dengan kondisi keluarganya. Ia pun tidak pernah memaksa orangtuanya untuk memenuhi keinginannya. Sejak kecil, Suyatno sudah membiasakan anak-anaknya untuk hidup sederhana, bahkan untuk membeli baju seragam dan sepatu sekolah, Suyatno selalu membelikan yang serba bekas. Suyatno memang tidak dapat berbuat banyak. Dari menarik becak, Suyatno hanya dapat membawa pulang uang sebesar Rp20.000,00 hingga Rp30.000,00 per hari. Istrinya, Saniyem, membantunya menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai pengumpul barang rongsokan di pasar Terban.</p>
<p>Kendati demikian, Suyatno dan Saniyem tetap optimis dan berdoa agar suatu saat anaknya dapat bernasib lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify; ">“Dulu saya berangan-angan paling tidak bisa melebihi saya,” kata pria tamatan pendidikan sekolah rakyat ini. Dalam perjalanannya, Suyatno tidak merisaukan biaya kuliah anaknya selama enam tahun di FK UGM karena Agung mendapat bantuan beasiswa dari UGM.</p>
<p style="text-align: justify; ">“Tapi kalau untuk fotokopi dan uang saku, dia tetap minta ke saya. Kalau tidak ada, tetap apa adanya,” ujarnya.</p>
<p>Pengalaman Suyatno dalam menguliahkan anaknya hingga lulus menjadi dokter ini disampaikan di hadapan 3.717 orangtua mahasiswa baru yang hadir di Grha Sabha Pramana. Kisahnya membuat beberapa orangtua menjadi terharu. Namun, tidak sedikit pula yang merasa tergugah. Yang pasti, testimoni Suyatno membuktikan penarik becak pun ternyata dapat menguliahkan anaknya di UGM, jadi dokter lagi!*/<strong>Gusti, </strong><em>ugm</em></p>
<p style="text-align: justify; "> </p>
<p style="text-align: justify; ">Foto: <em>Suyatno (humas ugm)</em></p>
<p style="text-align: justify; ">Sumber : Humas Ugm<br />Rep: Panji Islam<br />Red: Cholis Akbar</p>
<p style="text-align: justify; ">Sumber : <strong>Hidayatullah.com</strong></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2011/09/19/anak-penarik-becak-lulus-dokter-di-ugm/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2011/09/19/anak-penarik-becak-lulus-dokter-di-ugm/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2011/09/19/anak-penarik-becak-lulus-dokter-di-ugm/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2011/09/19/anak-penarik-becak-lulus-dokter-di-ugm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bocah 5 Tahun Jadi Perawat Ibunya yang Lumpuh</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2011/04/22/bocah-5-tahun-jadi-perawat-ibunya-yang-lumpuh/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2011/04/22/bocah-5-tahun-jadi-perawat-ibunya-yang-lumpuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 18:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[adit]]></category>
		<category><![CDATA[afiat]]></category>
		<category><![CDATA[bocah]]></category>
		<category><![CDATA[detiksurabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[proses kelahiran]]></category>
		<category><![CDATA[Saat]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[tak]]></category>
		<category><![CDATA[www.saat rumah sepi dengan ibu]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=773</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat cerita Sinar, bocah berusia 6 tahun asal Polewali Mandar Sulawesi Barat, yang tulus menjadi perawat sang ibu di tengah kelumpuhan. Kisah yang sama juga dialami Muhammad Aditya, bocah berusia 5 tahun asal Lingkungan Jarakan Kelurahan Ganung Kidul Kecamatan/Kabupaten Nganjuk. Menempati rumah kontrakan di Jl Wilis gang IIA, Adit, demikian Muhammad Aditya biasa disapa, menjadi perawat ibunya saat sang ayah menjalankan aktivitas pekerjaan di luar kota. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci dan menjemur pakaian, hingga menyiapkan air mandi untuk sang ibu yang hanya bisa terbaring di kasur, dengan tulus dilakukannya. &#8220;Subhanallah. Kalau Adit tidak melakukan ini, saya tidak tahu bagaimana kehidupan ini bisa saya jalani,&#8221; kata Sunarti, ibu kandung Adit saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Selasa (19/4/2011). Adit adalah anak satu-satunya yang dimiliki Sunarti dari pernikahannya dengan suami kedua yakni Rudi (45) asal Jombang. Dari pernikahan pertamanya wanita asal Tambak Sawah, Sidoarjo dikaruniai 3 anak laki-laki, yang saat ini sudah tinggal terpisah darinya. Kisah pilu itu mulai terjadi saat Adit berusia setahun, tanpa sebab yang pasti mendadak Sunarti tak lagi bisa menggunakan kakinya untuk berjalan. Bahkan organ tubuh dari pinggang ke bawah saat ini sudah tak lagi berfungsi. Sunarti membantah dugaan kelumpuhannya akibat mall praktek penanganan kelahiran Adit. Meski mengalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2011/04/Bocah-Perawat-Ibu-D.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-774" title="Bocah-Perawat-Ibu-D" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2011/04/Bocah-Perawat-Ibu-D.jpg" alt="" width="285" height="202" /></a></strong></p>
<p>Masih ingat cerita Sinar, bocah berusia 6 tahun asal Polewali Mandar Sulawesi Barat, yang tulus menjadi perawat sang ibu di tengah kelumpuhan. Kisah yang sama juga dialami Muhammad Aditya, bocah berusia 5 tahun asal Lingkungan Jarakan Kelurahan Ganung Kidul Kecamatan/Kabupaten Nganjuk.</p>
<p style="text-align: left;">Menempati rumah kontrakan di Jl Wilis gang IIA, Adit, demikian Muhammad Aditya biasa disapa, menjadi perawat ibunya saat sang ayah menjalankan aktivitas pekerjaan di luar kota. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci dan menjemur pakaian, hingga menyiapkan air mandi untuk sang ibu yang hanya bisa terbaring di kasur, dengan tulus dilakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Subhanallah. Kalau Adit tidak melakukan ini, saya tidak tahu bagaimana kehidupan ini bisa saya jalani,&#8221; kata Sunarti, ibu kandung Adit saat ditemui <strong>detiksurabaya.com</strong> di rumahnya, Selasa (19/4/2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Adit adalah anak satu-satunya yang dimiliki Sunarti dari pernikahannya dengan suami kedua yakni Rudi (45) asal Jombang. Dari pernikahan pertamanya wanita asal Tambak Sawah, Sidoarjo dikaruniai 3 anak laki-laki, yang saat ini sudah tinggal terpisah darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah pilu itu mulai terjadi saat Adit berusia setahun, tanpa sebab yang pasti mendadak Sunarti tak lagi bisa menggunakan kakinya untuk berjalan. Bahkan organ tubuh dari pinggang ke bawah saat ini sudah tak lagi berfungsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sunarti membantah dugaan kelumpuhannya akibat mall praktek penanganan kelahiran Adit. Meski mengalami pendarahan dalam proses kelahiran Adit, Sunarti tak menganggapnya sebagai penyebab kelumpuhan. &#8220;Sampai Adit usia setahun, saya masih sehat wal afiat. Tapi setelah itu mendadak saya gak bisa apa-apa, sampai sekarang,&#8221; ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini Sunarti sepenuhnya menggantungkan hidupnya kepada Adit, meski dengan segala keterbatasan yang ada. Rudi, suaminya saat ini hanya pulang seminggu hingga dua minggu sekali untuk mengantarkan uang hasil bekerja, selebihnya banting tulang di luar rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya tidak pernah menyuruh dan tidak pernah memintanya melakukan. Seperti menyalakan lampu, saya hanya bilang kalau menggunakan kursi nanti bisa jatuh, gunakan saja sapu untuk menekan saklar, dan dia bisa melakukannya sendiri,&#8221; beber Sunarti mengenai apa yang dilakukan anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Adit, mengaku sama sekali tidak mengeluh. Meski tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, Adit mengaku melakukan semua pekerjaan itu karena rasa sayangnya kepada sang ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kasihan ibu atit (sakit),&#8221; kata Adit lirih, saat ditanya mengenai kelumpuhan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bocah berambut ikal itu mengaku mengenal semua pekerjaan rumah yang tak semestinya sudah dilakukan. Mulai belajar kepada sang ayah saat pekerjaan yang sama dilakukan. Seperti mencuci pakaian, dia melakukan dengan merendam terlebih dahulu menggunakan sabun, menguceknya pelan, memeras dan menjemur pakaian yang didesain sedemikian rupa, sehingga terjangkau tubuhnya yang kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masak nasi ibu yang belsihkan belasnya. Nanti dimasukkan dandang. Kalau gas habis, saya beli, minta dipasang tabungnya. (Masak nasi ibu yang bersihkan berasnya. Nanti dimasukkan dandang (tempat menanak nasi). Kalau gas habis , saya beli, minta dipasangkan (sekalian) tabungnya),&#8221; urai bocah berkulit gelap tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan segala kesibukannya meladeni sang ibu, Adit tetaplah seorang bocah yang menginginkan kesenangan bermain dengan teman seusianya. Jika rasa itu datang dia langsung meminta izin ke ibunya, namun tak lupa pulang jika pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sudah harus dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://surabaya.detik.com/read/2011/04/19/181323/1621069/475/bocah-5-tahun-jadi-perawat-ibunya-yang-lumpuh">http://surabaya.detik.com/read/2011/04/19/181323/1621069/475/bocah-5-tahun-jadi-perawat-ibunya-yang-lumpuh</a></p>
<p style="text-align: justify;">Berita Terkait</p>
<h2>Kisah Teladan Seorang Bocah dari Nganjuk<br /><a href="http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/04/23/126858/Kisah-Teladan-Seorang-Bocah-dari-Nganjuk">http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/04/23/126858/Kisah-Teladan-Seorang-Bocah-dari-Nganjuk</a></h2>
<ul class="erp_pingback"> </ul>
<ul class="erp_pingback">
<li><strong><br /></strong></li>
</ul>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2011/04/22/bocah-5-tahun-jadi-perawat-ibunya-yang-lumpuh/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2011/04/22/bocah-5-tahun-jadi-perawat-ibunya-yang-lumpuh/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2011/04/22/bocah-5-tahun-jadi-perawat-ibunya-yang-lumpuh/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2011/04/22/bocah-5-tahun-jadi-perawat-ibunya-yang-lumpuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepenggal kisah R.A Kartini</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2011/04/21/sepenggal-kisah-r-a-kartini/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2011/04/21/sepenggal-kisah-r-a-kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 05:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simbah blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat ing bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[al fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[al qur]]></category>
		<category><![CDATA[al qur'an terjemahan bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Alloh]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa jawa tentang r a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[biografi r a kartini dalam bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[c e r i t a r .a k a r t i n i]]></category>
		<category><![CDATA[carita ibu kartini versi bahasa sunda]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cerita sepenggal sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ibu r.a.kartini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita jawa sopan santun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perjuangan r.a.kartini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perjuangan raden ajeng kartini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita r.a. kartini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita riwat kartini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita sejarah raden ajeng kartini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seputar ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tentang kehidupan r.a kartini bahasa sunda]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tentang r.a.kartini singkat]]></category>
		<category><![CDATA[cerita titik bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tokoh r.a.kartini]]></category>
		<category><![CDATA[crita r.a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[dalam]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kartini bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jalan cerita r.a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kisah - kisah ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cerita ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kisah hidup r.a. kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kisah perjuangan kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kisah perjuangan ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kisah sejarah ibu kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kisah sejarah ibu kartini (masa peperangan)]]></category>
		<category><![CDATA[kisah sepenggal sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah tentang r.a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[menceritakan riwayat r.a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[menceritakan tentang perjuangan r.a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[menceritakan tokoh pahlawan raden ajeng kartini]]></category>
		<category><![CDATA[menceritakan tokoh r.a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan r.a kartini bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan r.a. kartini bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[perjungan r kartini]]></category>
		<category><![CDATA[profil r.a kartini dalam bahasa sunda]]></category>
		<category><![CDATA[r.a. kartini]]></category>
		<category><![CDATA[ra kartini dalam bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[ra kartini dan perjuangannya, terjemahannya]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat hidup dan perjuangan raden ajeng kartini]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat hidup ra kartini dan perjuangannya]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat perjuangan r.a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat perjuangan ra.kartini]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah cerita r a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kartini dengan bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kehidupan kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah perjuangan ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah r a kartini pakai bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah r.a kartini ke dalam basa jawa ?]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ra kartini basa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ra kartini versi islam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ra kartiv]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ra katini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ra.karti]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah raden ajeng kartini terjemahkan kedalam bahasa sunda]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah riwayat dan masa perjuangan ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah riwayat r.a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah singkat perjuangan r.a]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah tentang r. a.kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah tentang ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sepengal sejarah nkri]]></category>
		<category><![CDATA[sepenggal cerita r.a kartini dalam bahasa jawa]]></category>
		<category><![CDATA[surat ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[tentang wanita]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[Kyai Sholeh Darat, sempat tertegun ketika Kartini muda yang baru berusia belasan tahun bertanya dengan nada protes kepadanya, “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan bagaimana hukumnya apabila ada seorang berilmu, namun dia menyembunyikan ilmunya?” “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”, Sang kyai balik bertanya. “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hatiku kepada ALLOH. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” jawab Kartini. Tergugah oleh pertanyaan Kartini inilah, Kyai Sholeh menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan judul Faizhur Rahman Fit Tafsiril Qur’an. Terjemahan ini terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim, dihadiahkan kepada Kartini pada hari pernikahannya. Dialah Kartini, seorang pahlawan yang banyak di-salah-tafsir-kan sejarahnya. Baru sekian abad berselang R.A. Kartini merangkai pemikirannya tentang wanita, kini kaum wanita sepeninggalnya terbata-bata membaca sejarahnya yang tak lagi utuh. Apa yang dulu dibangun Kartini, kini diuraikan orang-orang yang mengaku pewaris perjuangannya. Apa yang dulu tak pernah dikatakan, kini dengan seenaknya sendiri orang menisbatkan kepadanya. Terlalu banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left; "><a href="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2011/04/200px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_100187761.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-766" title="200px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2011/04/200px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_100187761.jpg" alt="" width="200" height="262" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kyai Sholeh Darat, sempat tertegun ketika Kartini muda yang baru berusia belasan tahun bertanya dengan nada protes kepadanya, “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan bagaimana hukumnya apabila ada seorang berilmu, namun dia menyembunyikan ilmunya?” “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”, Sang kyai balik bertanya. “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hatiku kepada ALLOH. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” jawab Kartini.</p>
<p><span id="more-741"></span></p>
<p>Tergugah oleh pertanyaan Kartini inilah, Kyai Sholeh menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan judul Faizhur Rahman Fit Tafsiril Qur’an. Terjemahan ini terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim, dihadiahkan kepada Kartini pada hari pernikahannya.<br /> Dialah Kartini, seorang pahlawan yang banyak di-salah-tafsir-kan sejarahnya. Baru sekian abad berselang R.A. Kartini merangkai pemikirannya tentang wanita, kini kaum wanita sepeninggalnya terbata-bata membaca sejarahnya yang tak lagi utuh. Apa yang dulu dibangun Kartini, kini diuraikan orang-orang yang mengaku pewaris perjuangannya. Apa yang dulu tak pernah dikatakan, kini dengan seenaknya sendiri orang menisbatkan kepadanya. Terlalu banyak kezaliman dilakukan orang terhadap R.A. Kartini.</p>
<p>Sedangkan bukti paling autentik tentang cita-cita yang sebenarnya ada pada surat-surat yang dikirimnya (dikumpulkan menjadi sebuah buku Door Duisternis Tot Licht).</p>
<p><strong>PERGOLAKAN PEMIKIRAN KARTINI</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada mulanya Kartini sangat kecewa dengan ajaran Islam dan adat istiadat Jawa. Keduanya dianggap sebagai penghambat kemajuan. kritiknya terhadap tradisi Jawa tampak dalam ungkapan berikut: “Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak, bila hendak berlalu dihadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh ber-kamu dan ber-engkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dengan bahasa kromo inggil. Tiap kalimat yang diucapkan haruslah selalu diakhiri dengan sembah&#8230;.” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan lebih lanjut dia katakan: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja.” Sementara terhadap ajaran Islam, agama yang dipegang dengan teguh, Kartini pernah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan dengan guru ngajinya. Kepada Stella, ia menulis: “Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikan dengan umat lain. Lagi pula sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya.” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November, 1890).</p>
<p style="text-align: justify;">Kekecewaan Kartini semakin berkepanjangan kepada Islam lantaran guru-guru mengajinya yang tidak mampu menjelaskan hakekat Islam. Al-Qur’an tidak lebih hafalan-hafalan yang tidak dimengerti maksudnya. Kepada Abendanon, ia pernah menulis: “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.” (Kepada EE. Abendanon, 15 Agustus 1902).</p>
<p style="text-align: justify;">ALLOH Subhanahu wata&#8217;ala mengaruniakan hidayah-NYA kepada siapa saja yang dikehendaki. Sejarah hidup Kartini mulai berubah sejak bertemu dengan ulama besar, Kyai Sholeh Darat, dalam pengajian keluarga di rumah pamannya di Demak. Sejak peristiwa itulah nada surat-suratnya mulai berubah . Keyakinannya mulai tumbuh dan semakin tebal, sementara kritik-kritiknya kepada budaya Eropa dan ajaran Kristen mulai bermunculan. Terlebih-lebih sejak ia mendapat hadiah pernikahan berupa terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Jawa dari Kyai Sholeh. Pernikahan R.A. Kartini telah menjadi titik awal perubahan besar persepsinya tentang Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan kritis Kartini tertuju kepada peradaban Barat yang selama itu menjadi kiblat orang Jawa yang keblinger. Ia mulai cerdas mencermati kerusakan peradaban Eropa. Kepada Abendanon, ia menulis: “Sudah lewat masanya , tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat untuk EE. Abendanon, 27 Oktober 1902).</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa, atau orang Jawa yang kebarat-baratan.” (Kepada Ny. Abendanon, 10 Juli 1902).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>HAKIKAT PERJUANGAN KARTINI</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kartini tidak pernah mengajarkan emansipasi wanita yang didefinisikan sebagai wanita harus keluar berkarier menjadi pesaing para pria di berbagai lapangan kehidupan, untuk kemudian membiarkan anak-anak dan rumah-tangganya terbengkelai.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).</p>
<p style="text-align: justify;">Memang banyak anggapan yang menghinakan wanita Ada yang menganggap wanita itu manusia kelas dua, sehingga tidak diberi kesempatan mengenyam<br /> pendidikan dan pengajaran. Wajar jika Kartini mengangkat hal itu untuk diperhatikan. Akan tetapi bukan persamaan dalam segala hal antara lelaki dan wanita &#8211; emansipasi, kata orang &#8211; yang dituntut Kartini. Lihatlah ungkapannya yang sangat jelas: “&#8230;bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan lelaki dalam perjuangan hidupnya”, tetapi, “&#8230;agar wanita lebih cakapmelakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tanggannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>KARTINI MENENTANG MISSIONARIS</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Entah ini rekayasa sebuah kekuatan misi dunia atau bukan, yang jelas teman-teman Kartini yang berpolemik lewat surat itu ternyata para missionaris Kristen dan agen-agen gerakan feminisme Yahudi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dr. Adriani misalnya, salah seorang teman surat-menyurat Kartini yang dikenalnya lewat Ny. Abendanon, ia adalah seorang ahli bahasa dan pendeta yang bertugas menyebarkan ajaran kristen kepada suku Toraja Sul-Sel.</p>
<p style="text-align: justify;">Ny. Abendanon dan suaminya Mr. J.H.Abendanon, seorang direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan yang bertugas melaksanakan politik etis di Indonesia. Dia banyak berkonsultasi dengan Dr. Snouck Hurgronye (yang menyamar dengan nama palsu Abdul Ghafar), musuh besar umat Islam yang menyarankan pembaratan golongan Islam terutama santrinya (sekulerisasi).</p>
<p style="text-align: justify;">Stella, teman Kartini yang didapat setelah menawarkan diri sebagai sahabat pena untuk wanita Eropa, ternyata seorang wanita Yahudi di Belanda. Stella adalah seorang anggota militan Pergerakan Feminis di Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang tak kalah gencarnya dalam upaya mengkristenkan Kartini adalah Ny. Van Kol (Nellie Van Kol) yang sempat dituturkannya kepada Dr. Andriani: “Nyonya Van Kol banyak menceritakan kepada kami tentang Yesus yang tuan muliakan itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang mendengar semua itu” (Surat kartini kepada Dr. Andriani, 5 Juli 1902).</p>
<p style="text-align: justify;">Ny. Van Kol ternyata gagal mengkristenkan Kartini. Walaupun Kartini sempat terpengaruh dengan nilai-nilai kristiani, namun dia segera sadar dengan misi Kristenisasi yang telah melingkupi bangsanya. Inilah puncak kesadaran agama, pribadi Kartini: “Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali ALLOH. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada ALLOH dan kami tetap beriman kepada-NYA. Kami ingin mengabdi kepada ALLOH dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan ALLOH.” (Surat kepada Ny. Abendanon, 12 oktober 1902).</p>
<p style="text-align: justify;">“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada ALLOH. Tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkan&#8230;. Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba ALLOH.” (Surat kartini kepada Ny. Abendanon, 1 Agustus 1903)</p>
<p style="text-align: justify;">“Moga-moga kami mendapat rahmat, dan bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” (Kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1802)</p>
<p style="text-align: justify;">“ALLOH Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-Baqoroh(Sapi betina) 2, 257).</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: Buletin Jum&#8217;at Masjid Muhammadiyah di Jogja tahun 2003</p>
<ul class="erp_pingback">
<li style="text-align: justify;"><strong><br /></strong></li>
</ul>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2011/04/21/sepenggal-kisah-r-a-kartini/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2011/04/21/sepenggal-kisah-r-a-kartini/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2011/04/21/sepenggal-kisah-r-a-kartini/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2011/04/21/sepenggal-kisah-r-a-kartini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah: MANTAN PENDETA ROMA MENJADI AHLUS SUNNAH</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 04:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[.. kidah pendeta jadi muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[kesaksian muallaf mantan pastor]]></category>
		<category><![CDATA[kesaksian muallaf mantan pendeta]]></category>
		<category><![CDATA[kesaksian pastor mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[kisah kisah mualaf dari mantan pendeta atau pastor]]></category>
		<category><![CDATA[kisah mantan misionaris]]></category>
		<category><![CDATA[kisah para muallaf ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah pastor muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[kisah pendeta dan pastur jadi mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[MANTAN PENDETA ROMA]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf pelabuhan ratu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[pendeta masuk islam di palangkaraya]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[taurat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syaikh Amjad bin Imron Salhub Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat. Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya. Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Taâ€™aala, pasti Dia â€˜Azza Wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati syaikh kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan: Ø§Ù„Ù’Ø­ÙŽÙ…Ù’Ø¯Ù Ù„ÙÙ„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù’Ù„Ø¥ÙØ³Ù’Ù„Ø§ÙŽÙ…Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah: Ø¥ÙÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙÙ†Ù’ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù’Ù„Ø£ÙŽØ¹Ù’Ø¬ÙŽÙ…ÙÙŠÙÙ‘ ÙˆÙŽ Ø§Ù„Ø´ÙŽØ§Ø¨Ù Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ Ù†ÙŽØ³ÙŽÙƒÙŽ Ø£ÙŽÙ†Ù’ ÙŠÙÙˆÙŽØ§ÙÙÙŠÙŽ ØµÙŽØ§Ø­ÙØ¨ÙŽ Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù ÙÙŽÙŠÙŽØ­Ù’Ù…ÙÙ„ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙŽØ§ Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orangÂ  â€˜ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah. Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ù„Ø§ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-654" title="read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/08/read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design-300x239.jpg" alt="read_quran_charge_your_iman__by_ustad_design" width="245" height="195" /><strong>Oleh </strong>: Syaikh Amjad bin Imron Salhub</p>
<p>Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para <em>sahaba</em>tnya, serta siapa saja yang mengikuti <em>sunnah</em>nya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.</p>
<p>Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.</p>
<p>Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah <em>Taâ€™aala</em>, pasti Dia <em>â€˜Azza Wa Jalla</em> akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati <em>syaikh </em>kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan:</p>
<p>Ø§Ù„Ù’Ø­ÙŽÙ…Ù’Ø¯Ù Ù„ÙÙ„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù’Ù„Ø¥ÙØ³Ù’Ù„Ø§ÙŽÙ…Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah</em></p>
<p><strong>Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah:<span id="more-651"></span></strong></p>
<p>Ø¥ÙÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙÙ†Ù’ Ù†ÙØ¹Ù’Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù’Ù„Ø£ÙŽØ¹Ù’Ø¬ÙŽÙ…ÙÙŠÙÙ‘ ÙˆÙŽ Ø§Ù„Ø´ÙŽØ§Ø¨Ù Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ Ù†ÙŽØ³ÙŽÙƒÙŽ Ø£ÙŽÙ†Ù’ ÙŠÙÙˆÙŽØ§ÙÙÙŠÙŽ ØµÙŽØ§Ø­ÙØ¨ÙŽ Ø³ÙÙ†Ù‘ÙŽØ©Ù ÙÙŽÙŠÙŽØ­Ù’Ù…ÙÙ„ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙŽØ§</p>
<p><em>Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orangÂ  â€˜ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.</em></p>
<p>Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ù„Ø§ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙØ­ÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ’Ù„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù</p>
<p><em>Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya</em></p>
<p>Inilah kalimat <em>tauhid</em>, kalimat yang baik, kunci surga. Kalimat inilah stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seorang insan yang ingin menggerakkan lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah <em>Taâ€™aala</em>.</p>
<p>Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup lembaran hidupnya diatas Islam-.</p>
<p>Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama kaumnya (<em>Nashrani</em>) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari kebebasan akal dan jiwa.</p>
<p>Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya diatas jalan ke<em>istiqomah</em>an- menceritakan:</p>
<p>Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah kekurangan.</p>
<p>Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini bukanlah tujuanku. Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca <em>Injil</em>, pergi ke gereja, serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama <em>Kristen</em>. Dari buku-buku yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai pertanyaanku, akan tetapi tetap saja belum sempurna.</p>
<p>Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut sambil membaca buku-buku dan shalat. Setelah dua bulan dari permulaan hidupku ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku seperti biasanya setelah beragama, ketika itu, saya mendatangi ayahku dan kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya juga pergi mendatangi ibu dan saudari-saudariku dan kukabarkan kepada mereka bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka.</p>
<p>Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke<em> ad-dir</em> (Istilah untuk gereja yang terpencil dipedalaman.<em> â€“ pent.</em>) disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah.</p>
<p>Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu <em>ad-dir</em> ke <em>ad-dir</em> yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak bisa meninggalkan <em>ad-dir </em>mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji untuk menjadi seorang pendeta di suatu<em> ad-dir </em>tertentu, dan janji tersebut akan menghalangiku untuk keluar masuk darinya.</p>
<p>Setelah itu, saya memutuskan untuk berkeliling ke pelbagai negeri, maka saya memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat berkesan, sehingga saya mencintainya.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang <em>Syiâ€™ah</em> di perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan kepadaku tentang Islam versi<em> Syiâ€™ah</em>, keduanya menyebutkan <em>Imam </em>Duabelas dan mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan mereka menfokuskan pada ajaran <em>Syiâ€™ah</em> dan Imam Ali, serta tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang untuk membebaskan manusia.</p>
<p>Semua diskusi tesebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Orang <em>Syiâ€™ah</em> itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.</p>
<p>Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan berlari-lari kecil menuju ke dalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat mereka ber<em>thowaf</em> mengelilingi sapi betina yang terbuat dari emas, ketika itu saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.</p>
<p>Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku. <em>Alhamdulillah</em>.</p>
<p>Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke <em>ad-dir</em> dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah <em>ad-dir</em> di Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka lalu kutinggalkan <em>ad-dir</em> tersebut.</p>
<p>Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari<em> ad-dir</em>, setelah itu saya menuju <em>al-Quds</em> karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya berpergian menuju<em> al-Quds </em>melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman, dan <em>al-Quds</em>, saya tinggal disana seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka <em>Injil</em>.</p>
<p>Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca <em>Injil </em>dari permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para<em> nabi bani Israel</em>. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang <em>Injil </em>dan <em>Taurat</em>.</p>
<p>Pada saat itu, saya teringat suara <em>adzan </em>yang pernah kudengar ketika berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman terhadap Sesembahan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. <strong>Dan inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen :</strong><em> Saya harus berkenalan dengan Islam, kemudian mulailah kukumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara yang saya miliki adalah terjemahan al-Qurâ€™an dalam bahasa Italia, yang pernah saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri</em> <em></em>.</p>
<p>Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama pembunuh, perampok dan teroris akan tetapi yang saya dapati adalah <strong>Islam itu agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari <em>Taurat</em> dan <em>Injil</em>.</strong></p>
<p>Kemudian saya putuskan untuk kembali ke <em>al-Quds</em>, karena saya yakin bahwa <em>al-Quds</em> adalah tempat turunnya ke<em>rasul</em>an terdahulu, akan tetapi kali ini saya menaiki pesawat terbang dari Italia menuju<em> al-Quds</em>. Saya turun di tempat turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan <em>hause bus Armenia</em> di daerah negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit pakaian, terjemahan <em>al-Qurâ€™an, Injil</em> dan <em>Taurat</em>. Kemudian saya mulai membaca lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan <em>al-Qurâ€™an</em> dengan isi <em>Taurat </em>dan <em>Injil</em>, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan al-Qurâ€™an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa <em>â€˜alaihimassalaam</em> yang asli.</p>
<p>Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan antara saya dengan salah seorang dari teman-temannya para <em>daâ€™i</em>.</p>
<p>Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian terjadilah perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang paling mempengaruhiku adalah kisah sabahat yang mulia, Salman al-Farisi, karena di dalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang pencarian hakekat kebenaran.</p>
<p>Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta teman-temannya, diantaranya <em>fadhilatusy Syaikh</em> Hisyam al-â€˜Arif â€“<em>hafidhohulloh</em>-, maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh <em>Syaikh</em>.</p>
<p>Setelah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaanku. Pada saat seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.</p>
<p>Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat <em>tauhid </em>dan <em>syahadat </em>telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku bertepatan dengan waktu dikumandangkannya <em>adzan </em>untuk <em>shalat</em> <em>dhuhur</em>. Waktu itu benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan :</p>
<p>Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†Ù’ Ù„Ø§ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥ÙÙ„Ø§Ù‘ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ Ù…ÙØ­ÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ Ø±ÙŽØ³ÙÙˆÙ’Ù„Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù</p>
<p><em>Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya</em></p>
<p>Maka serta merta saudara Amjad memelukku dengan pelukan yang ramah, seraya memberikan ucapan selamat atas keIslamanku, kemudian kami sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. Kemudian saya diminta mandi (Sebagaimana <em>hadits </em>Qoish bin â€˜Ashim, Ketika beliau masuk Islam, Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur bidara. (HR. An-Nasai, at-Turmudzi dan Abu Daud. Di<em>shohih</em>kan oleh al-Albani dalam al-Irwaaâ€™ (128).)) dan berangkat ke <em>al-Masjid al-Aqsho</em> untuk menunaikan <em>shalat</em> <em>dhuhur</em>,</p>
<p>Di tempat tersebut setelah <em>shalat</em>, saya menemui<em> jamaah shalat</em> dengan <em>syahadat</em>, yaitu persaksian kebenaran dan <em>tauhid </em>yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya ber<em>khitan</em>, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban ber<em>khitan</em> tersebut sebagai bentuk meneladani bapaknya para nabi, yaitu Ibrahim yang melakukan <em>khitan </em>pada usia 80 tahun (Sebagaimana Rasulullah bersabda : <em>Ibrahim berkhitan ketika umur 80 tahun dengan â€œal-Qoduumâ€</em> (nama alat atau tempat).( HR. Al-Bukhori (3356) dan Muslim (2370).)).</p>
<p>Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu agama dari kitab Allah<em> Taâ€™aala</em> dan <em>sunnah </em>Rasulullah sesuai dengan <em>manhaj salaf </em>(pendahulu) umat ini, dari kalangan para <em>sahabat </em>beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.</p>
<p>Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan <em>as-Sunnah</em>.</p>
<p><strong>Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc. dari majalah ad-Daâ€™wah as-Salafiyah-Palestina edisi perdana, Muharram 1427 H halaman: 21-24.</strong></p>
<p>via <a href="http://ummusalma.wordpress.com/2008/05/13/mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/">ummu salma</a></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/08/10/kisah-mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawakalnya seorang Ibu&#8230;</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 14:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[Alloh]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al â€˜Arifi]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Takut Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Mengais Keajaiban Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakalnya seorang Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda memiliki anak pertama yang berumur 2.5 tahun, lahir setelah 17 tahun menikah, setelah Anda sembuh dari kemandulan. Anak Anda tersebut mengalami: bermasalah dalam pembuluh darah di liver, jantung berhenti berdetak selama 45 menit, pendarahan hebat yang membuat jantungnya berhenti berdetak untuk yang kedua kali pendarahan di liver, sembuh, pendarahan lagi berulang-ulang sampai 6 kali, tumor dan radang otak, radang ginjal, radang pada selaput kristal yang mengitari jantung, penyakit tersebut hadir silih berganti, terus menerus dalam waktu 6-8 bulanâ€¦, Apa yang Anda lakukan? Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al â€˜Arifi dalam bukunya â€˜Jangan Takut Sakitâ€™ (hal 111-117, penerbit Fawaid, -dengan sedikit penyesuaian) menuturkan sebuah kisah: Dr. Abdullah bercerita, â€œAda seorang perempuan yang datang kepada saya dengan menyeret langkah-langkah kakinya, ia menggendong anaknya yang tersiksa oleh penyakit. Ia adalah seorang ibu yang berusia mendekati empat puluh tahun. Ia memeluk anaknya yang masih kecil ke dadanya, seakan-akan anak tersebut adalah potongan tubuhnya. Kondisi anak itu memprihatinkan, terdengar satu dua tarikan nafas dari dadanya. Saya bertanya kepada si ibu, â€˜Berapa umurnya?â€™ Ia menjawab, â€˜Dua setengah tahun.â€™ Kami melakukan pemeriksaan kepada anak itu, ternyata anak itu bermasalah dalam pembuluh-pembuluh darah di livernya. Kami segera melakukan tindakan operasi kepadanya, dan dua hari setelah operasi, anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-603" title="penyembuh-adalah-alloh" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/07/penyembuh-adalah-alloh-300x258.jpg" alt="penyembuh-adalah-alloh" width="262" height="225" />Jika Anda memiliki anak pertama yang berumur 2.5 tahun, lahir setelah 17 tahun menikah, setelah Anda sembuh dari kemandulan. Anak Anda tersebut mengalami:</p>
<ul>
<li>bermasalah dalam pembuluh darah di liver,</li>
<li>jantung berhenti berdetak selama 45 menit,</li>
<li>pendarahan hebat yang membuat jantungnya berhenti berdetak untuk yang kedua kali</li>
<li>pendarahan di liver, sembuh, pendarahan lagi berulang-ulang sampai 6 kali,</li>
<li>tumor dan radang otak,</li>
<li>radang ginjal,</li>
<li>radang pada selaput kristal yang mengitari jantung,</li>
</ul>
<p>penyakit tersebut hadir silih berganti, terus menerus dalam waktu 6-8 bulanâ€¦, Apa yang Anda lakukan?</p>
<p>Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al â€˜Arifi dalam bukunya <strong>â€˜Jangan Takut Sakitâ€™</strong> (hal 111-117, penerbit Fawaid, -dengan sedikit penyesuaian) menuturkan sebuah kisah:</p>
<hr />Dr. Abdullah bercerita,<br />
â€œAda seorang perempuan yang datang kepada saya dengan menyeret langkah-langkah kakinya, ia menggendong anaknya yang tersiksa oleh penyakit.<span id="more-601"></span></p>
<p>Ia adalah seorang ibu yang berusia mendekati empat puluh tahun. Ia memeluk anaknya yang masih kecil ke dadanya, seakan-akan anak tersebut adalah potongan tubuhnya. Kondisi anak itu memprihatinkan, terdengar satu dua tarikan nafas dari dadanya.</p>
<p>Saya bertanya kepada si ibu, â€˜<em>Berapa umurnya?</em>â€™<br />
Ia menjawab, â€˜<em>Dua setengah tahun.</em>â€™</p>
<p>Kami melakukan pemeriksaan kepada anak itu, ternyata anak itu bermasalah dalam pembuluh-pembuluh darah di livernya.</p>
<p>Kami segera melakukan tindakan operasi kepadanya, dan dua hari setelah operasi, anak itu sudah sehat. Sang ibu pun tampak gembira dan riang.<br />
Ketika melihat saya, ia bertanya, â€˜<em>Kapan anak saya boleh pulang dok</em>?â€™</p>
<p>Tatkala saya hampir menulis surat keterangan pulang, tiba-tiba anak kecil itu mengalami pendarahan hebat di tenggorokannya, sehingga menyebabnya jantungnya berhenti berdetak selama 45 menit.</p>
<p>Kesadaran anak tersebut sudah hilang. Lalu para dokter berkumpul di dalam ruangannya. Beberapa jam telah berlalu, namun mereka tidak sanggup membuatnya tersadar.</p>
<p>Salah seorang teman saya segera mendatangi ibunya dan berkata kepadanya, â€˜<em>Kemungkinan anak Anda mengalami kematian otak (koma) dan saya mengira bahwa ia tidak memiliki harapan untuk hidup.</em>â€™ Saya menoleh kepada teman saya tersebut sambil mencelanya karena ucapannya tersebut.</p>
<p>Lalu saya melihat kepada si ibu, demi Allah, perkataan teman saya itu tidak menambah selain ia mengucapkan, â€˜<em>Penyembuh adalah Allah, Pemberi kesehatan adalah Allah.</em>â€™<br />
Kemudian ia terus menerus membaca, â€˜<em>Saya memohon kepada Allah jika ada kebaikan pada kesembuhannya, maka sembuhkanlah ia.</em>â€™</p>
<p>Setelah itu ia diam dan berjalan menuju sebuah kursi kecil, lalu duduk. Kemudian ia mengambil mushaf kecilnya yang berwarna hijau dan membacanya.</p>
<p>Para dokter pun keluar, saya juga keluar bersama mereka. Saya berjalan melewati anak itu, kondisinya belum berubah, sesosok tubuh yang terbujur kaku laksana mayat di atas tempat tidur putih. Lalu saya menoleh kepada ibunya, keadaannya juga masih tetap seperti sebelumnya.</p>
<p>Satu hari ia membacakan Al-Qurâ€™an kepada anaknya; satu hari membacanya dan satu hari setelannya mendoakannya. Beberapa hari kemudian, salah seorang perawat perempuan memberitahu saya bahwa anak itu sudah mulai bergerak, saya langsung memuji Allah.</p>
<p>Saya berkata kepada si ibu, <em>â€˜Wahai Ummu Yasir, saya sampaikan kabar gembira kepada Anda bahwa keadaan Yasir mulai membaik.</em>â€™<br />
Ia hanya mengucapkan satu ucapan sambil menahan air matanya, <em>â€˜Alhamdulillah, Alhamdulillah.</em>â€™</p>
<p>Dua puluh empat jam kemudian kami dikejutkan dengan kondisi si anak, ia kembali mengalami pendarahan hebat seperti pendarahan sebelumnya, dan jantungnya berhenti berdetak untuk kedua kalinya.</p>
<p>Tubuhnya yang kecil kelihatan lelah, gerakannya telah hilang. Salah seorang dokter masuk untuk melihat kondisinya secara langsung, lalu saya mendengarnya berucap, â€˜<em>Mati otak.</em>â€™</p>
<p>Sang ibu terus menerus mengulang-ulang, â€˜<em>Alhamdulillah, atas setiap keadaan, penyembuh adalah Allah.</em>â€™ Beberapa hari kemudian, anak itu sembuh kembali. Namun, baru berlalu beberapa jam, ia kembali mengalami pendarahan di dalam livernya, lalu gerakannya berhenti.</p>
<p>Beberapa hari kemudian ia sadar lagi, lalu kembali mengalami pendarahan baru, kondisinya aneh, saya tidak pernah melihat kondisi seperti itu selama hidup saya, pendarahannya berulang-ulang hingga enam kali, sedangkan dari lisan ibunya hanya keluar ucapan, â€˜<em>Segala puji bagi Allah, Penyembuh adalah Rabb-ku, Dia-lah Penyembuh.</em>â€™</p>
<p>Setelah beberapa kali pemeriksaan dan pengobatan, para dokter spesialis batang tenggorokan berhasil mengatasi pendarahan, Yasir mulai bergerak-gerak lagi. Tiba-tiba, Yasir kembali diuji dengan bisul besar (tumor) dan radang otak.</p>
<p>Saya sendiri yang memeriksa keadaannya. Saya berkata kepada ibunya, .â€™<em>Keadaan anak Anda mengenaskan sekali dan kondisinya berbahaya.</em>â€™ la tetap mengulang-ulang ucapannya, â€˜<em>Penyembuh adalah Allah</em>â€™</p>
<p>la mulai membacakan Al-Qurâ€™an kepada buah hatinya. Setelah dua minggu, tumor itu tetap ada. Dua hari kemudian, anak tersebut mulai sembuh, kami memuji Allah karenanya.</p>
<p>Sang ibu bersiap-siap untuk pulang, namun satu hari kemudian, tiba-tiba anak tersebut mengalami radang ginjal parah yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronis dan hampir menyebakan kematiannya.</p>
<p>Sementara si ibu tetap berpegang teguh, bertawakal dan berserah kepada Rabb-nya serta terus mengulang-ulang, â€˜<em>Penyembuh adalah Allah.â€™</em> Lalu, ia kembali ke tempatnya dan membacakan Al-Qurâ€™an kepada anaknya.</p>
<p>Hari-hari berlalu, sedangkan kami terus berusaha memeriksa dan mengobati secara maraton hingga berlangsung sampai tiga bulan, kondisinya pun membaik, segala puji hanya bagi Allah.</p>
<p>Akan tetapi, kisah ini belum berhenti sampai di sini saja, si anak kembali diserang penyakit aneh yang belum pernah saya kenal selama hidup.</p>
<p>Setelah empat bulan, ia terserang radang pada selaput kristal yang mengitari jantung, sehingga memaksa kita untuk membuka sangkar dadanya dan membiarkannya terbuka untuk mengeluarkan nanah.</p>
<p>Ibunya hanya melihat kepadanya sambil berucap, â€˜<em>Saya memohon kepada Allah agar menyembuhkannya, Dia adalah penyembuh dan pemberi kesehatan.</em>â€™ Lalu, ia kembali ke kursinya dan membuka mushafnya.</p>
<p>Terkadang saya melihat kepada ibu tersebut, sementara mushaf ada di depannya, ia tidak menoleh ke sekelilingnya. Kemudian saya masuk ke ruang refreshing, maka saya melihat banyak pasien dengan berbagai penyakit dan para penunggu mereka.</p>
<p>Saya melihat sebagian dari para pasien tersebut berteriak-teriak dan yang lainya mengaduh-aduh, sedangkan para penunggunya menangis, dan sebagian dari mereka berjalan di belakang para dokter.</p>
<p>Sementara ibu itu tetap berada di atas kursinya dan di depan mushafnya, tidak berpaling kepada orang yang berteriak dan tidak berdiri menghampiri dokter serta tidak berbicara dengan seorang pun.</p>
<p>Saya merasa bahwa ia adalah gunung, setelah berada selama enam bulan di ruang refreshing. Saya berjalan melewati anaknya, saya melihat matanya terpejam, tidak berbicara dan tidak bergerak, dadanya terbuka.</p>
<p>Kami mengira bahwa ini merupakan akhir kehidupannya, sedangkan sang ibu tetap dalam keadaannya, membaca Al-Qurâ€™an. Seorang penyabar yang tidak mengeluh dan tidak mengaduh.</p>
<p>Demi Allah, ia tidak mengajak saya bicara dengan sepatah katapun dan tidak pula bertanya kepada saya tentang kondisi anaknya. Ia hanya berbicara setelah saya mulai mengajaknya bicara tentang anaknya tersebut.</p>
<p>Adapun usia suaminya sudah lebih dari empat puluh tahun. Terkadang suaminya menemui saya di dekat anaknya, ketika ia menoleh kepada saya untuk bertanya, istrinya menarik tangannya dan menenangkannya serta mengangkat spiritnya dan mengingatkannya bahwa sang Penyembuh adalah Allah.</p>
<p>Setelah berlalu dua bulan, keadaan anak tersebut sudah membaik, lalu kami memindahkannya ke ruangan khusus anak-anak di rumah sakit, kondisinya sudah mengalami banyak kemajuan.</p>
<p>Keluarganya pun mulai membiasakan kepadanya berbagai jenis terapi dan pelatihan. Setelah itu, anak tersebut pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki, ia melihat dan berbicara seakan-akan ia tidak pernah tertimpa sesuatu sebelumnya.</p>
<p>Maaf, kisah menakjubkan ini belum selesai, karena satu setengah tahun kemudian, ketika berada di ruang kerja saya, tiba-tiba suami wanita itu masuk menemui saya, sedangkan di belakangnya istrinya menyusulnya sambil menggendong bayi kecil yang sehat.</p>
<p>Ternyata si anak kecil itu sedang diperiksakan secara rutin di RS tersebut, mereka datang kepada saya untuk menyampaikan salam.</p>
<p>Saya bertanya kepada si suami, â€˜<em>Masya Allah, apakah bayi kecil ini adalah anak yang keenam atau ketujuh di dalam keluarga Anda?â€™ </em>Ia menjawab, â€˜<em>Ini yang kedua, dan anak pertama kami adalah anak yang Anda obati setahun yang lalu. Ia merupakan anak pertama kami yang lahir setelah tujuh belas tahun kami menikah dan sembuh dari kemandulan.â€™</em></p>
<p>Saya menundukkan kepala, dan langsung teringat dengan gambaran ibunya ketika sedang menunggui anaknya. Saya tidak mendengar suara yang keluar darinya dan tidak melihat tanda kegelisahan pada dirinya.</p>
<p>Saya mengucap di dalam hati, <em>â€˜Subhanallah</em>.â€™ Setelah tujuh belas tahun bersabar dan mencoba berbagai terapi kemandulan, lalu diberi rezeki dengan seorang anak laki-laki yang dilihatnya mati berkali-kali di hadapannya.</p>
<p>Akan tetapi, wanita tersebut hanya berpegang teguh pada kalimat â€˜Laailaaha illallaahâ€™ dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Penyembuh dan Pemberi kesehatan. Subhanallah! Betapa besar tawakkal dan keimanan yang dimiliki wanita itu.â€</p>
<p>judul aslinya <a href="http://jilbab.or.id/archives/576-mengais-keajaiban-cinta/">Mengais Keajaiban Cinta</a></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/07/03/tawakalnya-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Su&#8217;ul khotimah: Wanita Yang Tak Pernah Shalat, Mati Saat Sedang Berdandan!!</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 08:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu su'ul kotimah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita nyata suul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita orang yg pernah mati]]></category>
		<category><![CDATA[cerita siksa kubur orang yang tak pernah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[ciri-ciri mayit yang meninggal dalam keadaan suul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[ciri2 mati dalam keadaan su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[ciri2 meninggal khusnul khotomah]]></category>
		<category><![CDATA[contoh kematian suul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[contoh mati suul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[foto kematian su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[foto memandikan mayat]]></category>
		<category><![CDATA[gambar mati suulkhotimah]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah shalat]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah - kisah su'ul hatimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah meninggal saat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata mati siksa kubur]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata mati su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata mbah marijan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata suulkhotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata wafat su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah orang meninggal su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah orang yang meninggal dengan su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah orang yang meninggal dunia dalam keadaan suul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah orang yg meninggal su ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah siksa kubur wanita yg tidak menutup aurat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah su'ul hotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah-kisah su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[mati dalam keadaan su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[mati su ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[mati su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[mati su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal dengan su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal dengan su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal dunia dalam su'ul hatimah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[mereka yang mati suul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[mesir]]></category>
		<category><![CDATA[serial kisah teladan -kumpulan kisah-kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[siapa yang udah pernah mati]]></category>
		<category><![CDATA[siksa kubur orang yang tidak shalat]]></category>
		<category><![CDATA[siksa kubur untuk orang yang su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[su'ul khotima]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[su'ul khotimah di dalam kubur]]></category>
		<category><![CDATA[su'ul khotimah krn belum nikah]]></category>
		<category><![CDATA[tabaruj]]></category>
		<category><![CDATA[tanda su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda suul katimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda tanda mati su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda tanda orang meninggal suul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda tanda suud khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda-tanda kematian su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda-tanda su'ul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda-tanda su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda-tanda su'ul kotimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanda2 orang meninggal su,ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[ujub dan su'ul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[usul kotimah]]></category>
		<category><![CDATA[www.cerita orang meninggal dalam suul khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[www.kisah nyata orang yang mati su'ul khotimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[Temanku berkata kepadaku, &#8220;Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat. Di sana aku melihat empat wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan memintaku agar menolongnya memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya, &#8216;Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita.&#8217; Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar. Kemudian wanita itu kembali masuk dan memandikan mayat tersebut. Setelah selesai dikafankan, ia memanggil kami agar mayat tersebut diusung. Karena jenazah ini terlalu berat, kami berjumlah sebelas orang masuk ke dalam untuk mengangkatnya. Setelah sampai di lubang kuburan (kebiasaan penduduk Mesir membuat pekuburan seperti ruangan lalu dengan menggunakan tangga, mereka menurunkan mayat ke ruangan tersebut dan meletakkannya di dalamnya dengan tidak ditimbun). Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-596" title="8dfdf71c236803484e45076982f2d470" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/06/8dfdf71c236803484e45076982f2d470-150x150.jpg" alt="8dfdf71c236803484e45076982f2d470" width="150" height="150" />Temanku berkata kepadaku, &#8220;Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat.</p>
<p>Di sana aku melihat empat wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan memintaku agar menolongnya memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya, &#8216;<em>Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita</em>.&#8217; Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar.<span id="more-595"></span></p>
<p>Kemudian wanita itu kembali masuk dan memandikan mayat tersebut. Setelah selesai dikafankan, ia memanggil kami agar mayat tersebut diusung. Karena jenazah ini terlalu berat, kami berjumlah sebelas orang masuk ke dalam untuk mengangkatnya. Setelah sampai di lubang kuburan (kebiasaan penduduk Mesir membuat pekuburan seperti ruangan lalu dengan menggunakan tangga, mereka menurunkan mayat ke ruangan tersebut dan meletakkannya di dalamnya dengan tidak ditimbun).</p>
<p>Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan tidak sempat kami tangkap kembali hingga aku mendengar dari gemeretak tulangnya yang patah ketika jenazah itu jatuh. Aku melihat ke dalam ternyata kain kafannya sedikit terbuka sehingga terlihat auratnya. Aku segera melompat ke jenazah dan menutup aurat tersebut.</p>
<p>Lalu dengan susah payah aku menyeretnya ke arah kiblat dan aku buka kafan di bagian mukanya. Aku melihat pemandangan yang aneh. Matanya terbe-lalak dan berwarna hitam. Aku menjadi takut dan segera memanjat ke atas dengan tidak menoleh ke belakang lagi.</p>
<p>Setelah sampai di apartemen, aku menghubungi salah seorang anak perempuan jenazah. Ia bersumpah agar aku menceritakan apa yang terjadi saat memasukkan jenazah ke dalam kuburan. Aku berusaha untuk mengelak, namun ia terus mendesakku hingga akhirnya terpaksa harus memberitahukannya. Ia berkata, &#8220;<em>Ya Syaikh </em>(panggilan yang sering diucapkan kepada seorang ustadz-red), <em>ketika anda melihat kami bergegas keluar dikarenakan kami melihat wajah ibu kami menghitam, karena ibu kami tidak pernah sekalipun melaksanakan shalat dan meninggal dalam keadaan berdandan.</em>&#8221;</p>
<p>Kisah nyata ini menegaskan bahwa Allah <em>Subhanahu wata&#8217;ala </em>menghendaki agar sebagian hamba-Nya melihat bekas Su&#8217;ul khatimah hamba-Nya yang durhaka agar menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Serial Kisah Teladan karya Muhammad bin Shalih al-Qahthani, Juz 2 seperti yang dinukilnya dari Kisah-Kisah Nyata karya Abdul Hamid Jasim al-Bilaly, PENERBIT DARUL HAQ) <em>via </em>Note Teman</p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/06/26/kisah-suul-khotimah-wanita-yang-tak-pernah-shalat-mati-saat-sedang-berdandan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Husnul Khotimah: Perpisahan Terakhir*</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 16:21:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Critone Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Umar basyir Al-Maidani]]></category>
		<category><![CDATA[Al-lahazhat Al-hasimah]]></category>
		<category><![CDATA[Alloh]]></category>
		<category><![CDATA[Az-Zairul Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[bisu]]></category>
		<category><![CDATA[Jaridahul Jazirah]]></category>
		<category><![CDATA[Kholid Abdurrohman Asy-Syayi']]></category>
		<category><![CDATA[Kholid Abu Sholih]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Husnul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah perpisahan suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri Menjelang Ajal]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad ibn Abdul Aziz Al-Musnid]]></category>
		<category><![CDATA[Musyahidul Ihtidhor]]></category>
		<category><![CDATA[Perpisahan Terakhir]]></category>
		<category><![CDATA[Sulthon ibn Fahd Ar-Rosyid]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[*Kisah ini disebutkan dalam bentuk berita di surat kabar Jaridahul Jazirah edisi 10183. Di sini disebutkan sesuai redaksi aslinya. Ia seorang wanita sholihah, seorang wanita pendidik yang agung. Ia gemar bersedekah dan amat murah hati. Itu berdasarkan persaksian orang-orang yang dekat dengannya. Namun, selama lima puluh tahun masa hidupnya, ia dalam keadaan bisu. Suami dan keluarganya sudah terbiasa dengan kondisinya tersebut. Mereka yakin akan takdir dan ketetapan Alloh. Alloh tentu saja memiliki hikmah dalam segala sesuatu yang diatur-Nya dalam kehidupan alam semesta ini. Seorang muslim harus ridho terhadap takdir dan ketetapan Alloh setiap kali ia tertimpa bala atau musibah. Suatu malam, tidak seperti biasanya, ia bangun lebih cepat, beberapa jam sebelum sholat Shubuh. Ia bangkit dan sholat menghadap Alloh &#8216;Azza wa Jalla. Tiba-tiba ia berbicara dengan suara yang terdengar jelas, sehingga sang suami kontan terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tersebut. &#8220;Ya Ilahi! Apa yang terjadi? Apakah selama lima puluh tahun ia hanya membisu kini tiba-tiba lidahnya berbicara?&#8221; Ya. ia memang berbicara untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bahasa yang jelas dan lugas. Ia berdoa kepada Alloh dengan pasrah, dengan kata-kata yang terdengar jelas. Si suami menunggu sampai sang istri selesai sholat dengan hati penasaran. Ia ingin bertanya apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>*Kisah ini disebutkan dalam bentuk berita di surat kabar <em>Jaridahul Jazirah</em> edisi 10183. Di sini disebutkan sesuai redaksi aslinya.</small></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-589 aligncenter" title="spirituality_by_muslim_women" src="http://mbah-marijan.org/wp-content/uploads/2009/06/spirituality_by_muslim_women-300x227.jpg" alt="spirituality_by_muslim_women" width="300" height="227" /></p>
<p>Ia seorang wanita sholihah, seorang wanita pendidik yang agung. Ia gemar bersedekah dan amat murah hati. Itu berdasarkan persaksian orang-orang yang dekat dengannya. Namun, selama lima puluh tahun masa hidupnya, ia dalam keadaan bisu.<span id="more-588"></span></p>
<p>Suami dan keluarganya sudah terbiasa dengan kondisinya tersebut. Mereka yakin akan takdir dan ketetapan Alloh. Alloh tentu saja memiliki hikmah dalam segala sesuatu yang diatur-Nya dalam kehidupan alam semesta ini. Seorang muslim harus ridho terhadap takdir dan ketetapan Alloh setiap kali ia tertimpa bala atau musibah.</p>
<p>Suatu malam, tidak seperti biasanya, ia bangun lebih cepat, beberapa jam sebelum sholat Shubuh. Ia bangkit dan sholat menghadap Alloh<em> &#8216;Azza wa Jalla</em>.</p>
<p>Tiba-tiba ia berbicara dengan suara yang terdengar jelas, sehingga sang suami kontan terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tersebut.</p>
<p><em>&#8220;Ya Ilahi! Apa yang terjadi? Apakah selama lima puluh tahun ia hanya membisu kini tiba-tiba lidahnya berbicara?&#8221;</em></p>
<p>Ya. ia memang berbicara untuk mengucapkan dua kalimat <em>syahadat </em>dengan bahasa yang jelas dan lugas. Ia berdoa kepada Alloh dengan pasrah, dengan kata-kata yang terdengar jelas.</p>
<p>Si suami menunggu sampai sang istri selesai sholat dengan hati penasaran. Ia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi ia sudah terdahului oleh takdir Alloh. Belum selesai sang istri sholat, Alloh sudah mengambil ruhnya, saat ia masih berada di atas sajadahnya yang empuk.</p>
<p>Ia telah menutup kehidupannya dengan kaliamat tauhid dan do&#8217;a. Pernahkah kita mendengar akhir kehidupan yang lebih indah daripada ini?</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
Judul Asli <em>Al-lahazhat Al-hasimah, Muhammad ibn Abdul Aziz Al-Musnid</em><br />
Judul Asli <em>Az-Zairul Akhir, Kholid Abu Sholih</em><br />
Judul Asli <em>Musyahidul Ihtidhor </em>(cuplikan), <em>Kholid Abdurrohman Asy-Syayi&#8217;</em> dan <em>Sulthon ibn Fahd Ar-Rosyid</em><br />
Judul Terjemah <em>Misteri Menjelang Ajal</em>, Penerjemah <em>Abu Umar basyir Al-Maidani</em></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/06/23/kisah-husnul-khotimah-perpisahan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perokok Rawan Terkena Virus Influensa A-H1N1</title>
		<link>http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/</link>
		<comments>http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 10:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>piko_jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dawuhe Simbah]]></category>
		<category><![CDATA[Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[akibat merokok]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya merokok]]></category>
		<category><![CDATA[cara berhenti merokok]]></category>
		<category><![CDATA[com]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[departemen kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[juru]]></category>
		<category><![CDATA[KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/</guid>
		<description><![CDATA[HONGKONG, KOMPAS.com â€” Berkaitan dengan kemunculan influenza A-H1N1 baru-baru ini, juru bicara Departemen Kesehatan Hongkong, Senin (25/5), mendesak perokok agar menghentikan kebiasaan itu sebagai salah satu langkah pencegahan terbaik terhadap influenza. &#8220;Penelitian memperlihatkan risiko lebih tinggi terhadap infeksi influenza di kalangan perokok ketika dibandingkan dengan orang yang tidak merokok,&#8221; katanya. &#8220;Juga, angka kematian akibat influenza di kalangan perokok lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang bukan perokok,&#8221; kata juru bicara tersebut. Penerapan gaya hidup sehat dan dipeliharanya kesehatan pribadi yang baik juga menjadi langkah efektif guna mencegah influenza, katanya. Mulai 27 Mei, Departemen Kesehatan Hongkong berencana melancarkan serangkaian pameran keliling mengenai upaya berhenti merokok di berbagai wilayah guna meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak berbahaya akibat merokok dan menambah pengetahuan mereka tentang cara berhenti merokok. Pengunjung pameran keliling tersebut akan memperoleh pengertian lebih baik tentang bahaya merokok dan perokok pasif, cara efektif untuk berhenti merokok, serta saran dan saluran yang tersedia agar orang dapat berhenti merokok. Sumber: Kompas.com Tweet]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>HONGKONG, KOMPAS.com</strong> â€” Berkaitan dengan kemunculan influenza A-H1N1 baru-baru ini, juru bicara Departemen Kesehatan Hongkong, Senin (25/5), mendesak perokok agar menghentikan kebiasaan itu sebagai salah satu langkah pencegahan terbaik terhadap influenza.</p>
<p>&#8220;Penelitian memperlihatkan risiko lebih tinggi terhadap infeksi influenza di kalangan perokok ketika dibandingkan dengan orang yang tidak merokok,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Juga, angka kematian akibat influenza di kalangan perokok lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang bukan perokok,&#8221; kata juru bicara tersebut.</p>
<p>Penerapan gaya hidup sehat dan dipeliharanya kesehatan pribadi yang baik juga menjadi langkah efektif guna mencegah influenza, katanya.</p>
<p>Mulai 27 Mei, Departemen Kesehatan Hongkong berencana melancarkan serangkaian pameran keliling mengenai upaya berhenti merokok di berbagai wilayah guna meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak berbahaya akibat merokok dan menambah pengetahuan mereka tentang cara berhenti merokok.</p>
<p>Pengunjung pameran keliling tersebut akan memperoleh pengertian lebih baik tentang bahaya merokok dan perokok pasif, cara efektif untuk berhenti merokok, serta saran dan saluran yang tersedia agar orang dapat berhenti merokok.</p>
<p><strong>Sumber: Kompas.com</strong></p>
<div class="simple_likebuttons_container_small">
      <div class="simple_likebuttons_googleplus">
        <g:plusone size="medium" count="false" href="http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/"></g:plusone>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_twitter simple_likebuttons_twitter_s">
        <a href="https://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" data-url="http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/" data-lang="en">Tweet</a>
      </div>
    
      <div class="simple_likebuttons_facebook">
        <div id="fb-root"></div>
        <script>(function(d, s, id) {
          var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
          if (d.getElementById(id)) {return;}
          js = d.createElement(s); js.id = id;
          js.src = "//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1";
          fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
        }(document, "script", "facebook-jssdk"));</script>
        <div class="fb-like" data-href="http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/" data-send="false" data-layout="button_count" data-show-faces="false" data-width="90"></div>
      </div>
    </div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbah-marijan.org/2009/05/27/perokok-rawan-terkena-virus-influensa-a-h1n1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

