Sakti dengan Tenaga Dalam?

http://i127.photobucket.com/albums/p159/blackinjpn/shakti.gifSulit melukiskan, bagaimana seorang pemuda muslim yang taat, mengarungi kehidupan dunia di masa sekarang ini, tanpa bekal kekuatan lahir dan batin.

Kekuatan batin berproses dari akar iman, lalu tumbuh menjadi pohon ketakwaan, dan akhirnya berbuah amal shalih. Kekuatan lahir tentu dengan mengoptimalisasikan potensi diri pada fisik kita yang telah dianugerahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Menjaga dan merawat pisik adalah amanah yang harus senantiasa diperhatikan setiap hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang taat.
Kekuatan batin tanpa kekuatan lahir  ibarat berperang tanpa senjata. Kekuatan lahir tanpa kekuatan batin ibarat senjata tak bertuan.

Mukmin dan Kekuatan Fisik

Rasanya sudah amat klasik, bila kita mengatakan bahwa mukmin yang kuat itu lebih baik, dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’alaketimbang mukmin yang lemah. Haditsnya pun sudah amat populer,

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah dari mukmin yang lemah. Meski masing-masing tetap memiliki kebaikan.”

Namun persoalannya, betapa masih sangat sedikit seorang mukmin yang peduli akan kekuatan tubuhnya. Padahal pembinaan fisik merupakan sebuah tuntutan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita, agar kita senantiasa siap membela agama-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu mengge-tarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Anfaal : 60)

Yah, kebanyakan kita melatih fisik melalui olah raga -yang 90%-nya merupakan permainan, dengan tujuan semata-mata untuk bikin sehat badan, atau bahkan sekadar refreshing menghindari kejenuhan rutinitas. Sedikit di antara kita yang betul-betul sadar, bahwa kesehatan dan kebugaran tubuh adalah sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’aladi satu sisi, dan untuk semakin mampu membela agama Allah subhanahu wa ta’ala di sisi lain.

Saat ini, sejenis pola pikir ‘sufi modern’ menyusup pada sebagian kaum muslimin, tanpa mereka sadari. Eh, apa itu? Ya, sejenis ketawakalan yang salah letak, sehingga berkonotasi melecehkan ke-Mahamulia-an Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka beranggapan, asalkan iman kita kuat, rajin beribadah, maka saat diperlukan,  tubuh kita pasti menjadi kuat dengan sendirinya. Begitu pula, bila suatu saat kita terpanggil berjihad, tanpa melatih fisik pun, Allah subhanahu wa ta’alaakan memberi kekuatan kepada kita.

Padahal kita tahu, saat sakit kita diizinkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, dan menggantinya di luar bulan Ramadhan saat kita sudah sehat. Begitu pula, saat sakit, sebagian gerakan shalat yang tak mampu kita lakukan -seperti berdiri tegak– dapat kita tinggalkan. Itu artinya, sakit dan kelemahan fisik adalah kondisi terpaksa, dan itu tergolong sebagai ‘kendala’ dalam ibadah. Seseorang tak mungkin membiarkan dirinya sakit, dan berkeyakinan bahwa ia pasti akan kuat dan mendadak sehat saat datang waktu shalat. Karena bila itu benar, tak ada lagi pengecualian bagi orang yang sakit, untuk tidak berpuasa, atau shalat sambil duduk atau berbaring.

Maka, kita wajib berusaha untuk tetap sehat, agar beribadah secara sempurna. Kita juga wajib berusaha untuk tetap sehat dan kuat, agar mampu membela agama Allah subhanahu wa ta’ala, berjihad mengorbankan harta dan nyawa di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Upaya Yang Salah Jurusan
Tidak seperti kata pepatah, ‘banyak jalan menuju Roma’, untuk menuju keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala hanya ada satu jalan -meski itu beruas-ruas–, yaitu jalan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu wa sallam. Beribadah tanpa mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu wa sallam, tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Meskipun hati berniat tulus dan ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Ini yang harus dicatat baik-baik, agar dapat dibedakan antara ibadah dengan ‘kebaikan’ menurut pandangan orang-orang di luar Islam. Dalam Islam, amalan harus dilaksanakan ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, dan benar sesuatu aturan dan tata cara yang diajarkan Rasulullah shallallahu wa sallam. Dua makna itulah inti sari dua kalimat syahadat.

Untuk menjadi kuat, kita bisa membongkar segala wujud karunia Allah subhanahu wa ta’ala di luar dan di dalam diri kita, dengan cara-cara yang halal dan diperbolehkan, lalu mengolahnya menjadi sumber kekuatan pada jasmani dan rohani kita.
Bila kita ingin sehat melalui manajemen pola makan, maka kita wajib mengonsumsi makanan sehat dan halal.
Bila ingin memiliki kebugaran dan kekuatan tubuh yang lebih melalui media ‘olah tubuh’, maka kita pun wajib menggunakan cara-cara yang halal dan dibenarkan dalam syariat.

Musibahnya, tak semua orang tahu cara yang benar untuk menjadi sehat dan kuat. Sebagian memilih cara yang keliru berat, namun niat dan tujuannya -setidaknya menurut pendapatnya sendiri-  tetaplah baik. Mereka ingin berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, ingin membela kebenaran, ingin menjadi muslim yang taat. Tapi, cara setanlah yang mereka pilih. Untuk menjadi sehat dan kuat,  mereka memilih berlatih ilmu kanuragan,  bela diri “tenaga dalam”, dan ilmu-ilmu kedigdayaan.

Yang saya maksud dengan bela diri “tenaga dalam” adalah sejenis ilmu bela diri yang mempelajari dan melatih diri dengan gerakan-gerakan jurus-jurus bela diri seperti silat dan sejenisnya, namun ditambah dengan pelatihan yang mengharuskan adanya lelaku, meditasi, ‘pengisian’, pembacaan mantra, dan berbagai jenis mediator setan, untuk memperoleh kekuatan gaib.

Sebagian aktivis beladiri menggunakan istilah ‘tenaga dalam’, untuk sejenis inner power yang dimiliki seseorang. Inner power ini baru akan muncul apabila dilatih secara fisik dengan cara-cara tertentu, dalam waktu lama. Misalnya, inner power seorang petinju sehingga ia punya killing punch,  yang bagi orang biasa bisa sangat mematikan, terutama bila mengenai bagian-bagian vital di kepala, ulu hati dan yang lainnya.
Demikian juga kemampuan aktivis beladiri untuk melakukan pemecahan benda-benda keras tertentu, yang semata-mata dilakukan dengan teknik tertentu, cara tertentu, kondisi tertentu, dan melalui pelatihan fisik biasa, termasuk olah nafas.

Bila seperti di atas, maka ‘tenaga dalam’ seperti itu bukanlah hal yang diharamkan dalam Islam. Tapi sangat dianjurkan untuk menggunakan istilah selain ‘tenaga dalam’, karena khawatir orang awam akan sulit membedakan antara ‘tenaga dalam gaib’  dengan ‘tenaga dalam’ dengan arti kekuatan yang dilatih secara fisik. Ini mengingat masyarakat awam banyak yang belum memiliki pengetahuan memadai tentang tauhid, dan tentang hakikat sesungguhnya dari cara mendapatkan tenaga-tenaga seperti itu.

Oke, kembali ke persoalan. Mempelajari tenaga dalam -gaib-atau ilmu-ilmu kedigda-yaan, pernah menjadi episode gelap bukan saja di kalangan para dukun, para pemuja kemusyrikan yang terang-terangan, tapi juga di sebagian pondok pesanrren besar klasik tradisional tanah air, di beberapa pengajian anak-anak dan remaja, atau perguruan-perguruan silat tenaga dalam termasuk yang mengaku berbasis Islam.

Berbagai tayangan sinetron,  terlebih lagi yang berlabel ‘religi’, justru banyak mengajak kalangan muda dan anak-anak untuk berimajinasi secara liar untuk menjadi tokoh-tokoh muslim yang ‘sakti’,  punya ilmu kedigayaan, ‘ilmu putih’, dan berjuang membela kebenaran, membela kaum lemah. Masih sedikit lebih aman, bila yang dibayangkan adalah tokoh-tokoh super seperti Superman, Spiderman dan sejenisnya. Selain itu murni tokoh khayalan, ada pernik-pernik teknologi dan visi ilmu pengetahuan -meski kebablasan-yang ditonjol-kan. Tapi bila tokoh yang dibayangkan itu adalah sosok seperti Sunan Kalijaga,  Jaka Tingkir dan sejenisnya, runyamlah akibatnya.

Kenapa? Karena ilmu-ilmu gaib sesat yang mengatasnamakan ‘Islam’ seperti itu tak sulit dicari atau dipelajari. Orang yang berhasil mempelajari sebagian daripadanya, tak sadar bila telah terjebak dalam kemusyrikan dan menjadi pengikut setan. Label ‘putih’ dan ‘Islam’, seolah-olah dipandang sebagai legalitas, bahwa hal itu sah-sah saja. Apalagi banyak media mendu-kungnya, dan masih sedikit para juru dakwah yang tegas-tegas memaparkan segala realita di balik itu.  Sebagai pemuda Islam yang bertauhid, yang menginginkan Surga dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala,  buatlah benteng sekokoh-kokohnya, agar terhindar dari segala bentuk kemusyrikan tersebut. Jadilah sehat dan kuat, tapi yang dimubahkan oleh Allah subhanahu wa ta’alalebih dari cukup, sehingga kamu tak perlu berkhayal menjadi Jaka Tingkir. (ustadz abu umar basyir)
Sumber : Majalah Elfata http://majalah-elfata.com