Suro atau Muharrom ?
Posted on January 9, 2008 - Filed Under Hangat

Tradisi Nyeleneh di Bulan Suro
Suro, satu nama bulan yang tidak asing lagi di telinga masyarakat kita, khususnya masyarakat jawa. Bulan ini malah lebih masyhur ketimbang nama aslinya, yaitu Muharrom. Kata ’suro’ ini diambil dari ‘asyuro’, yaitu hari kesepuluh pada bulan Muharrom dalam penanggalan tahun Hijriah. Namun permasalahan yang akan dibahas di sini bukanlah nama, akan tetapi ada apa di balik bulan suro ini.
Kaum muslimin sekalian, kalau kita mau buka mata, tentunya di depan kita sudah jelas terpampang adanya berbagai keyakinan terkait dengan bulan suro ini. Keyakinan-keyakinan tersebut yang jelas tidak didasari dalil dan hanya sekedar ikut-ikutan adat nenek moyang saja. Suro diyakini sebagai bulan yang keramat, gawat dan penuh bala. Gugon tuton atau tahayul ini begitu kental merasuk ke dalam nadi kehidupan masyarakat, hingga muncul beragam tradisi, sebagai cerminan kepercayaan mereka. Jika diteliti dengan seksama ternyata tradisi-tradisi yang berkaitan dengan bulan suro umumnya berbasis bid’ah, khurofat dan kesyirikan. WAllahul musta’an. Berikut ini beberapa contoh umum dari kepercayaan dan tradisi tersebut:
Melemparkan Sesajian Atau Tumbal ke Lautan
Tradisi ini kebanyakan dijumpai di daerah pesisir laut selatan. Mereka berkeyakinan bahwa dengan tradisi ini maka amarah penunggu laut dapat tercegah serta nantinya dapat mendatangkan keberkahan laut berupa ikan yang banyak. Para pembaca sekalian, jika dilihat, maka tradisi ini -tidak ragu lagi- merupakan bentuk kesyirikan. Dengan berbuat seperti itu seseorang telah mengakui adanya sekutu bagi Allah dalam hal pemberian rizki dan penangguhan bahaya. Padahal tidak ada yang kuasa untuk memberi manfaat berupa rezeki maupun yang lainnya kecuali Allah. Tidak ada yang kuasa menimpakan bahaya, bencana dan kecelakaan selain Allah. Allah pula lah yang Mahakuasa untuk melepaskan bahaya dan bencana tersebut. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan nikmat apa saja yang engkau miliki, maka datangnya dari Allah. Bila kamu ditimpa oleh kemudhorotan, maka hamya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53)
Namun, banyak orang yang percaya seyakin-yakinnya, bahwa Nyi Roro Kidul lah yang berkuasa atas itu semua. Apakah di benak mereka yang mengatur rizki dan menetapkan jumlah ikan ialah Nyi Roro Kidul? Apakah kekuasaan Allah dianggap di bawah kekuasaan Roro Kidul? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan! Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (QS. Al Baqoroh: 107). Maka adakah jalan lain bagi orang yang masih punya akal pikiran untuk menyekutukan Allah??
Tidak Mengadakan Pernikahan, Khitanan dan Membangun Rumah
Tradisi ini bersumber dari keyakinan masyarakat bahwa bulan suro adalah bulan yang keramat dan penuh bala. Ini membuat masyarakat tidak bernyali untuk mengadakan suatu acara terutama hajatan dan acara pernikahan. Mereka berkeyakinan apabila melangsungkan acara itu maka akan membawa kesialan dan malapetaka bagi diri mereka. Ini merupakan bentuk celaan terhadap waktu yang Allah ciptakan. Mencela ciptaan Allah sama saja dengan mencela Allah. Nabi shollAllahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Janganlah kamu mencela waktu (dahr), karena Allah itu yang mengatur silih bergantinya waktu.” (HR. Muslim)
Melakukan Ibadah-Ibadah Tertentu di Malam Suro
Ritual yang umumnya dilakukan biasanya selamatan atau syukuran, Sholat Asyuro, membaca Do’a Asyuro (dengan keyakinan tidak akan mati pada tahun tersebut) dan ibadah-ibadah lainnya. Semua ibadah tersebut merupakan bid’ah (hal baru dalam agama) dan tidak pernah ada contohnya dari Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wasallam maupun para sahabatnya. Ibadah-ibadah ini tertolak dan mendapat ancaman keras berupa neraka. Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada contohnya dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim). Hadist-hadits yang menerangkan tentang Sholat Asyuro adalah palsu sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam kitab al-La’ali al-Masnu’ah.
Ngalap Berkah
Tradisi ini dilakukan dengan mengunjungi daerah keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda), melakukan kirab kerbau bule (kiyai slamet) di kraton Kasunan Solo, thowaf di tempat-tempat keramat, memandikan benda-benda pusaka, bergadang semalam suntuk dan lain-lainnya. Ini semuanya merupakan kesalahan, sebab suatu hal boleh dipercaya mempunyai berkah dan manfaat jika dilandasi oleh dalil syar’i (Al Qur’an dan hadits) atau ada bukti bukti ilmiah yang menunjukkannya. Semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari kesyirikan dan kebid’ahan yang membinasakan.
*** Sumber: Buletin At-Tauhid Tingkat pembahasan: Dasar
Penulis: Abu Abdillah M. Budi Darmawan [muslim.or.id ]
Comments
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
KOMENTAR BARU