Selamat Tinggal… Garuda
Posted on March 16, 2007 - Filed Under 1Woro Woro, Hikmah

Pagi itu, seorang wartawati dari Australia sudah siap berangkat ke Yogya. Tetapi, ia nyaris membatalkan keberangkatannya. Sebab, ia baru tahu kalau pesawat yang akan ditumpanginya adalah AdamAir. Sang wartawati takut pesawat AdamAir yang ini juga mengalami kecelakaan seperti pesawat AdamAir yang hilang di perairan Sulawesi.
Beruntung, dia dapat tiket pesawat Garuda dari seseorang staf Kedubes Australia. Dia berpikir, pasti lebih aman dengan Garuda ketimbang AdamAir. Maka, berangkatlah ia pagi itu ke Yogya untuk meliput kunjungan menlu Australia, Alexander Downer. Amankah perjalanan dengan Garuda? Ternyata diluar dugaan dirinya dan banyak orang, Garuda juga bisa celaka. Dan sang wartawati akhirnya masuk dalam daftar korban yang tewas.
Kisah serupa juga menimpa seorang pejabat sebuah departemen. Ketika akan berangkat tugas ke Jawa Tengah via Yogya, istrinya menelpon. Begitu tahu ia akan menaiki pesawat Garuda, sang istri mengucap syukur. Untung Garuda, bukan AdamAir. Kalau saja sang istri tahu apa yang terjadi 1-2 jam kedepan…
Sesungguhnya, memang hanya ALLOH yang tahu kapan kematian seseorang akan tiba. Tak seorang manusiapun mampu meramalkan kematiannya. Tidak Joyoboyo, tidak Mama Laurent tidak pula peramal-peramal, dukun dan paranormal manapun. Bahkan Rasululloh sholallohu ‘alayhi wasalam, manusia yang paling dikasihi ALLOH, tak juga tahu kapan beliau akan meninggal.
Mati Cuma soal waktu. Setiap orang bergerak menuju titik akhirnya di alam dunia ini. Tak ada orang yang bisa menunda atau mempercepat. Orang yang berniat mempercepat kematian dengan bunuh diri atau euthanasia pun belum tentu berhasil.

Orang yang berusaha sekuat tenaga untuk menunda atau menghindari kematian pun tak akan berhasil jika memang sudah habis jatah perannya di dunia. Mau naik AdamAir, Garuda, Mandala, LionAir atau maskapai manapun, tetap saja kematian menjangkaunya.
Sekarang banyak orang takut naik pesawat. Rombongan anggota DPRD sebuah propinsi pun batal mengunjungi korban gempa di Padang gara-gara khawatir pasca terbakarnya Garuda.
Pesawat dianggap tidak aman, kereta api jadi pilihan. Siapa bilang kereta api aman? Bukankah banyak kasus kecelakaan kereta yang merenggut banyak jiwa?
Kereta dianggap tidak aman, pilih bus. Masih juga tidak aman, pilih travel. Masih juga tidak aman, ngonthel ke Jakarta? Dari rumah ngonthel ke kantor saja sudah krenggosan… –ngos-ngosan
Kematian demi kematian di depan kita, seharusnya bukan menjadi tayangan horor yang membuat kita takut menjalani kehidupan. Tetapi, rangkaian musibah ini hendaknya justru jadi peringatan bagi kita. Harusnya kita semakin sadar bahwa kemanapun kita pergi , hatta bersembunyi di lubang semut, tangan malaikat el maut tetap menjangkau tangan kita.
Kematian adalah kepastian. Tetapi, bagaimana kita menghadapinya, itu adalah pilihan. Rasululloh sholallohu ‘alayhi wasalam bersabda, “Manusia yang paling bijaksana adalah mereka yang terbanyak ingatannya akan kematian, serta yang terbanyak amalannya sebagai persiapan untuk menghadapi kematian itu. Meraka itulan orang-orang yang benar-benar bijaksana dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)
Sumber: Merapi
Comments
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
KOMENTAR BARU