Demitologi Bencana
Posted on January 16, 2007 - Filed Under Hangat
Bertubi-tubinya bencana di Tanah Air—pesawat AdamAir hilang, kapal Senopati Nusantara tenggelam, dan jemaah haji kelaparan di Mekkah—membuat sementara pihak mengaitkannya dengan aspek-aspek mitologi.
Bencana-bencana itu seolah kelanjutan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, disusul gempa di Yogyakarta, tsunami di Pangandaran, letusan Gunung Merapi, hingga Lumpur Sidoarjo. Semua dikaitkan dengan keberadaan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK).
Apa yang salah?
Apa yang salah dari pemerintah? Mengapa bencana bertubi-tubi? Analisis mitologis yang, berkembang di masyarakat mengatakan, pemerintah didukung rakyat, tetapi kurang didukung alam. Dengan kata lain, SBY-JK kurang beruntung. Pengaitan ini jelas tidak bisa diterima “akal sehat”, termasuk usulan agar pemerintah diruwat.
Namun, yang demikian itu tidak bisa diremehkan. SBY-JK datang lewat jalur pencitraan. Citra dipengaruhi banyak hal, yang masuk akal, emosional, maupun yang tak masuk akal, bahkan mitologis. Meski masyarakat Indonesia telah berada di era modern, dalam konteks tertentu dimensi mitologis masih subur.
Dunia paranormal tumbuh subur, terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi. Impian akan datangnya sosok mesianik, “juru selamat” alias “ratu adil”, juga masih mengemuka pada sebagian masyarakat meski eranya sudah amat berbeda.
Hubungan antara mitos dan politik sebenarnya telah menjadi kajian tersendiri di Amerika Serikat (AS). Dalam The Land of Idols: Political Mythology In America (1993), Michael Parenti mengharapkan terwujudnya masyarakat pascapolitik mitos, “a truly democratic society”.
Mungkin kita segera melontarkan kata, di AS saja dunia kepolitikannya masih terbebani problem-problem mitologi politik, apalagi Indonesia, yang konstruksi masyarakatnya secara historis amat lekat dengan mitos-mitos. Bukankah budayawan Mochtar Lubis (almarhum) dalam Manusia Indonesia (1977) pernah menyindir manusia Indonesia, antara lain, sebagai sosok-sosok yang masih percaya pada mitos-mitos?
Terpilihnya SBY-JK dibarengi dengan membuncahnya harapan publik. Harapan politik kerap beda tipis dibanding mitos politik. Harapan yang berlebihan tentu tidak masuk akal karena SBY-JK tentu bukan manusia super atau, meminjam Iwan Fals, “manusia setengah dewa”.
Namun, terpilihnya pasangan ini juga merupakan konsekuensi atas politik pencitraan. Jadi, sejak awal seharusnya keduanya menyadari, ada segmen masyarakat yang, hingga kini, “amat mengharapkan sekali” efektivitas pemerintahan, tegas dan tangkas dalam menyelesaikan berbagai persoalan nyata.
Jadi, pada satu sisi, SBY-JK sadar atau tidak “dibesarkan” oleh mitos-mitos, dan di sisi lain sebenarnya, dalam konteks ini, adalah perjuangan mereka yang utama adalah melawan mitos-mitos itu sendiri.
Kemasukakalan
Di depan publik, SBY-JK telah berupaya meyakinkan bencana-bencana itu tak terkait dimensi mitologis. SBY, misalnya, pernah mengatakan agar seluruh rakyat melihat dan memahami kehadiran bencana yang bertubi-tubi itu dengan “kacamata ilmu pengetahuan” (Kompas Cyber Media, 21/6/2006).
Memasuki 2007, SBY berjanji “bekerja lebih konkret dan menggunakan bahasa terang” (Kompas, 27/12/2006). “Bahasa terang” yang dimaksud selalu terkait hal-hal yang masuk akal.
Namun, Pak Presiden mungkin akan banyak menemui kesulitan menyangkut penggunaan “bahasa terang” guna menjelaskan bagaimana mismanajemen komunikasi, semisal simpang siur hilangnya pesawat AdamAir. Pekerjaan tambahan presiden, wakil presiden, dan para pembantunya adalah menjelaskan secara terang sesuatu yang berkembang secara “tidak masuk akal” menetralisasi, mengajak publik percaya pada yang “masuk akal”.
Penangkalan atas pencitraan negatif akibat berkembangnya mitos politik mestinya tidak dijawab dengan hal-hal yang bersifat permukaan alias superfisial. Bukan wacana dan retorika yang seharusnya mengemuka, tetapi juga kecakapan menggerakkan segenap sumber daya untuk bekerja konkret.
Kritik atas pemerintahan SBY-JK hingga menginjak tahun ketiga tak dapat dipungkiri masih berputar di sekitar kebelumoptimalan kinerja akibat lemahnya manajemen. Kesulitannya terletak pada terlampau beragamnya unsur yang menopang pemerintah. Lalu lintas kepentingan partai politik penopang pemerintahan amat gegap gempita. Ada masanya SBY-JK kewalahan meski kekuatan politik di parlemen relatif telah “tertaklukkan”.
Beban pemerintahan SBY-JK kian hari terlihat kian bertambah. Dengan janji “bekerja konkret” dan “bahasa terang”, SBY-JK, maupun SBY di satu sisi, dan JK di sisi lain, akan berpacu dengan popularitas. Ini merupakan dampak idolaisasi politik demokrasi langsung. SBY-JK bagaimanapun telah ditempatkan sebagai idola politik bagi pendukungnya pada pemilihan presiden 2004. Semula mereka cenderung “dimitoskan” sebagai dwitunggal, seperti Soekarno-Hatta. Namun pemitosan itu terlampau berisiko, jika kesan publik hubungan keduanya kerap “kurang harmonis”.
Mampukah SBY-JK mematahkan mitos-mitos politik di satu sisi, dan di sisi lain lepas dari berbagai pemitosan? Jawabnya, jika hingga 2009 pasangan ini mampu menunjukkan kepada publik sebagai pemimpin yang bersandar pada kepemimpinan yang masuk akal. Seharusnya, jangan muncul terang-terangan memudarnya soliditas mereka sebelum 2009. Pemerintahan harus tetap kompak hingga 2009 karena konsekuensinya bukan semata politik kelompok, tapi lebih pada “nasib bangsa”.
* Dosen FISIP Universitas Nasional; Direktur Riset The Akbar Tandjung Institute, Jakarta(M Alfan Alfian) ( KOMPAS/MEDIACENTER.or.id)
KOMENTAR BARU
Apa yang salah?
Gw bilang sih pola pikir.. :p
bencana adalah milik Tuhan, SBY-JK kebetulan memimpin di saat bencana itu diantarkan Tuhan. tidak ada yang salah dengan itu, kita harus sadar bahwa sebenarnya manusialah pusat kemarahan Tuhan itu, termasuk SBY-JK.
Antara Ujian, peringatan dan Azab…
termasuk yang kategori manakah bencana2 di Indonesia ini..?