SIMBAH.ORG      Gratisan.com   Peduli.org       Jogjawebcenter.com    msuyanto.com

[m²] Sepi Ing Pamrih - Rame Ing gawe !

Kliping Berita- Ngeblog - belajar bareng

Beras dari Langit

Posted on August 3, 2006 - Filed Under Hikmah, Rahasia Ilahi, Critone Simbah

NGB02043.JPGPerempuan itu terlihat khusyuk di atas sajadahnya. Wajahnya bening, bersahaja memancarkan sinar kemuliaan dari hati yang qona‘ah. Jari tangannya masih bergerak-gerak mengiringi rentak tasbihnya, puji cinta yang tak pernah bosan ia lantunkan untuk sang kekasih yang Maha Pengasih.

“Hhhhh…Ukh…..ukh…..”

Anak lelaki usia 10 tahunan yang terbaring lemah di atas kasur di sampingnya menggeliat. Dia mengigau lagi. Panas tubuhnya belum turun dari tadi malam. Perempuan itu menghentikan zikirnya. Diperhatikannya lalu dengan penuh kasih diusapnya dahi anak itu.

“Alhamdulillah … panasnya sudah turun”

“Salman, minum dulu, nak!” Katanya sambil menyodorkan segelas teh.

Perempuan itu kemudian bangun dari duduknya. Melipat sejadah dan muqananya, lalu beranjak ke dapur.

Salman hanyalah satu dari puluhan santri yang mondok di rumahnya. Mereka kebanyakan anak-anak usia sekolah dasar, sebagian yatim atau piatu. Di pondok itu mereka diasuh dan dibesarkan, dididik dan diajari shalat, akhlak, mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Mereka juga disekolahkan di SD, SMP ataupun MTSN setempat. Santri-santri itu memang diperlakukan layaknya anak kandung sendiri, sehingga bila ada di antara mereka yang sakit, ia sendiri yang akan merawat dan menjaganya sampai sembuh.

“Ummi …”

“Ada apa Da?”

“Hmm… ini Ummi, Ida cuma mau memberitahu. Beras persiapan kita sudah hampir habis.” Ida juga seorang santriwati yang rajin membantunya di dapur.

“Hmm…, baiklah. Oh ya, sepertinya di luar ada tamu ya, Da? Sudah dibuatkan minum?”

“Sudah, Ummi”.

Ia bergegas ke ruang tamu. Di beranda, suaminya tengah beramah-tamah dengan beberapa guru. Ia berhenti di balik pintu, mencoba mencermati percakapan mereka.

“Ustadz, kami rasa, sistem yang lama sudah tidak bisa diteruskan lagi. Jumlah santri semakin bertambah, sementara sarana yang kita miliki tidak memadai,” ujar salah seorang guru kepada Pimpinan Pondok.

“Betul, Ustadz, kita harus memungut bayaran dari santri. Minimal untuk menutupi biaya makan mereka. Kami dengar bahkan beras pun sering kali hampir habis. Bagaimana kalau untuk makan saja tidak cukup?” kata yang lain menambahi.

“Tapi kalian belum pernah betul-betul kelaparan bukan?” jawab beliau, kalem dan bijaksana.

“Begini, Ustadz … Maksud kami, biar dana yang biasanya untuk makan santri itu dialihkan untuk dana lain.”

“Iya, asrama santri perlu ditambah. Bangunan yang ada tidak layak lagi untuk menampung para santri yang jumlahnya bertambah terus. Begitu juga ruang belajar dan sarana kebersihan seperti kamar mandi, toilet, dan lain sebagainya.”

Hening sejenak. Kemudian terdengar helaan nafas yang berat dari lelaki bijaksana itu.

“Kami akan menyiapkan proposal permohonan bantuan dana ke seorang kaya yang kami dengar sering membantu pesantren, kalau kalian setuju,” ujar salah seorang dari mereka setengah mendesak namun hati-hati, khawatir akan menyinggung perasaan Pak Ustadz.

Sunyi lagi. Pak Ustadz tetap terdiam. Beliau hanya sesekali menghela nafas sambil melempar pandangan ke luar. Tetapi kemudian,

“Baiklah, Ustadz, kami pamit dulu,” kata rombongan guru itu.

“Assalamu ‘alaykum!”

“Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Pak Ustadz.

Beberapa saat sesudah mereka pergi, perempuan yang tadi berdiri di balik pintu dan menyimak pembicaraan itu keluar, lalu duduk di sebelah suaminya.

“Saya mengikuti dialog tadi,” katanya memecah keheningan.

“Dan sudah tahu, bukan, apa jawaban saya. Sampai kapan pun, akan tetap sama,” jawab suaminya. Sejak didirikan pada tahun 1975, pesantren itu memang tidak memungut iuran sama sekali walau satu sen pun dari para santri, wali ataupun orangtua mereka. Semuanya gratis, dari mulai makan hingga biaya sekolah.

“Beras di dapur sudah hampir habis. Hanya cukup untuk hari ini saja,” kata perempuan itu kepada suaminya. Suaranya tetap datar, hanya bermaksud memberitahu. Suaminya hanya terdiam. Tak sepatah kata pun diucapkannya. Janji yang ia ikrarkan kepada Sang Khalik tidak akan berubah, karena ia sangat yakin Allah tidak pernah menyalahi janjiNya: in tanshuru-llaha yanshurkum. Orang yang berjuang menegakkan agama Allah pasti akan ditolong, dijamin dan dimenangkan olehNya.

Pak Ustadz belum beranjak dari duduknya. Hanya kelihatan bergumam sambil menggerak-gerakan jari-jemarinya, larut dalam zikir dan doa. Tidak lama kemudian terdengar suara riuh rendah. Nampaknya santri-santri telah selesai melakukan olah raga, jalan keliling kampung. Sudah menjadi acara khusus di hari Minggu pagi bagi pesantren tersebut. Perempuan itu melongok ke ruang dalam, melihat jam dinding, sudah jam 10. Bergegas dia masuk, menuju dapur. Hanya ada Ida dan Yati di sana, dia harus membantunya menyiapkan makan siang.
***
Selesai sholat zuhur, lingkungan pesantren kembali sepi. Sebagian besar santri sedang beristirahat di pondokan masing-masing. Tiba-tiba sebuah truk berhenti di depan pesantren. Sopir dan seorang lagi temannya menurunkan karung-karung beras dari truk itu. Salah seorang dari mereka melambaikan tangan ke arah santri yang sedang duduk-duduk di kursi kayu di depan salah satu pondokan tidak jauh dari pintu gerbang. Bergegas santri itu mendekati orang tersebut.

“Panggil temanmu. Angkat karung-karung ini ke dapur”,  kata orang tadi. Selesai menurunkan semua karung-karung, tanpa berkata apa-apa lagi, kedua orang itu pun langsung pergi. Belum sempat santri itu bertanya, truk sudah bergerak meninggalkan kepulan asap dan debu. Santri itu hanya melongo sesaat, setelah itu segera berlari memanggil kawannya.

“Ilham, orang yang mengantar beras ini sudah dipersilahkan masuk? Biar Ummi panggil Ustadz sebentar, ya!”

“Orangnya sudah pergi Ummi,” agak ngos-ngosan anak yang dipanggil Ilham itu menjawab.

“Lho…, dia bilang atau tidak, dari mana beras-beras ini?” tanya Ummi keheranan.

“Ilham belum sempat tanya Ummi. Orangnya sudah keburu pergi. Dia hanya menyuruh saya mengangkat karung-karung ini ke dapur”.

“Ya sudahlah …”.

Ketika disampaikan perihal kedatangan orang-orang tak dikenal itu, suaminya menjawab singkat: “Oh, itu beras dari langit.”

Demikianlah satu dari sekian banyak pengalaman yang ia lalui selama mendampingi suaminya membina pesantren yang kini kelihatan sudah berkembang dengan pesat dan mulai dikenal luas di seantero nusantara.

Siapakah orangnya yang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya Allah melipatgandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah), Allah jualah Yang menyempit dan Yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan. (QS.2:245)

“Orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. Al Hujurat :10). [Andi Sri Suriati Amal, Frankfurt, 29 April 2006/hidayatullah.com]

Comments

10 Responses to “Beras dari Langit”

  1. Ian Liga, Jakarta on August 10th, 2006 12:40 pm

    kalau ini adalah cerita, maka ceritanya sederhana, namun hikmahnya sungguh berterbangan disetiap alur ceritanya…saya bisa menikmatinya.

  2. ipoul-bangsari on August 10th, 2006 4:29 pm

    di jakarta, sungguh sulit hidup dengan keyakinan. semua disilaukan materi.

  3. Koko Prastiyo, Gresik on September 7th, 2006 10:53 am

    Sulit bukan berarti tidak bisa kan…?
    Demi Allah, tubuh saya merinding membaca kisah diatas. Sungguh tinggi keyakinan dan kepasrahan Pak Ustadz.
    Semoga masih banyak yang seperti pak Ustadz diatas.

  4. Goerge Manusama on November 1st, 2006 4:22 pm

    saya tidak peduli cerita itu benar atau hanyalah karangan. Yang pasti (alhmadulillah wa syukurilillah) saya dan istri saya selama 3 tahun ini hidup dengan kemukjizatan seperti cerita itu. Saya bukan ustadz, bukan lulusan pesantren, saya hanyalah manusia biasa yang sampai saat ini (insya Allah) seterusnya percaya 100% dengan ayat dalam surat Al Hujurat :10)

  5. andi, surabaya on November 16th, 2006 10:23 pm

    sungguh mengharukan cerita ini.

  6. dinda,semarang on November 18th, 2006 2:25 pm

    Ya Allah Ya Robbi,
    Hanya karena kehendakMu lah semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

    Demi Allah, kisah ini sungguh membuka mata saya tentang arti keiklasan, keajaiban, dan kasih sayang manusia kepada Allah dan hambanya. Begitu sebaliknya, saya juga melihat kebesaran cinta Allah kepada hambanya yang taat.

  7. cubu on January 5th, 2007 10:26 pm

    Saya yakin akan cerita di atas. Banyak di lingkungan kita mengalami hal seperti itu.
    Modalnya kalau boleh disingkat:
    1. Ikhlas dalam kondisi apapun
    2. Selalu berprasangka baik pada Allah, dalam kondisi apapun.
    Dua hal di atas tidak bisa didiskusikan, karena yang benar-benar tahu hanya hati(qalb) kita dan Allah s.w.t.
    Getaran kecil yang baik yang buruk sebenarnya qalb kita merasakan, hanya terkadang (dan) sering tertutup oleh hawa nafsu kita.

  8. adit,surabaya on September 29th, 2007 4:13 pm

    Sesungguhnya ALLAH Maha Kaya Dan Maha Penyayang terhadap hambaNYa.. cerita simpel tapi menggelitik Nurani kita….

  9. kak yol on March 21st, 2008 12:59 am

    subhanallah…semoga kita semakin tawakal…sabar dan sholat sama2 kita jaga…amin…

  10. tegar on October 13th, 2008 6:53 am

    mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat !

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.


Tag : Adab Akhlaq Al Qur'an Amal Aqidah Bahasa Arab Bakti Bid'ah Buah Hati Cinta Manajemen Qalbu Manhaj Salaf Maulid Nabi Mug Muhammad bin Abdul Wahab Muslimah Nasrani Poligami Pondok Pesantren Privat Bahasa Arab Pustaka Muslim Riba Sahabat Nabi Salaf Salafy Sekolah Tinggi Islam Shalat Shalawat Nariyah Sunnah Fitrah Syaikh Ibnur TIPS TIPS Tahun Baru Masehi Tauhid Tazkiyatun Nufs Thibbun Nabawiyh Istihadlah Dari Redaksi Demam Berdarah Dunia Muslimah Fatwa Ulama Fiqh Muslimah Habbatus Sauda Haidh Hari Raya Hukum Cadar Idul Adha Iman Info Pengajian Jadwal Kajii Wanita Wisma MTI Witirn Putri Jilbab dan Hijab Kebahagiaan Kecantikan Kegiatan Dakwah Kesehatan Khitan Wanita Kitab Allah Lukisan Malaikat Mandi Junub Manhaj Masa Subur Musik Namimah Nasihat Natal Nikah Nyanyian Parenting Pengajian Umum Pengobatan Nabi aAdab-Adab Muslim Agama Ahmadiyah Agama Syi'ah Agen Pustaka Muslim Alkohol Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Bedah Buku Dauroh Umum Demonstras Utsaimin Syirik Tafsir Al-Quran Takdir Allah Tauhid Tawakal Tayammum WahabPuasa Qurban Ramadhan Rasul Riya Rumah Tangga Salaf Shalat Shalat Ied Sunnah Syirik Syirik Akbai Donasi Dakwah Fatwa Ulama Hak-Hak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Ibadurrahman Iklan Imam Al Ghazali Imam Syafi'i Istiwa Allah Jaringan Islam Liberal Jual Beli Jujur Khalwat Khawarij Lembaga Dakwah Lowongan K Valentine's Day Vegetarian Wala' dan Baro' Wanita Zodiak