Masyarakat kembali resah. Jika beberapa pekan lalu terlihat awan cirrus di wilayah Yogyakarta, kini masyarakat dikejutkan adanya cahaya terang melintas di langit, Rabu (26/7) malam sekitar pukul 19.30. Lagi-lagi peristiwa tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya. Ada yang menduga-duga mirip meteor. Ada pula yang menyebut bintang berekor. Tapi apapun cahaya itu, yang jelas telepon di Redaksi KR dan kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Geofisika Yogyakarta, terus berdering. Banyak masyarakat yang mempertanyakan soal itu.
Bambang, warga Bugisan mengaku melihat dengan jelas benda langit bercahaya melintas dari arah timur tenggara menuju barat daya. “Sinar itu sangat terang meski hanya beberapa saat berlangsung,†katanya.
Hal serupa juga dilihat Suwandi, warga Siyono Playen Gunungkidul. Ia menyaksikan benda langit meluncur dari arah Ponjong menuju barat daya. Benda tersebut menimbulkan cahaya seperti kembang api. “Saat itu langit terang benderang. Begitu juga cahaya menghilang suasana menjadi gelap kembali,†katanya. Beberapa saat kemudian terdengar suara dentuman sebanyak dua kali. Ia menduga suara dentuman itu bersumber di dalam tanah.
Benda itu juga terlihat di wilayah Godean Sleman. Banyak warga keluar rumah untuk menyaksikan peristiwa langka tersebut. Mereka menduga benda tersebut adalah meteor.
Terkait dengan kejadian alam tersebut, terus terang, Drs Jaya Murjaya MSi (48), Kepala BMG Stasiun Geofisika Yogyakarta mengaku merasa agak sedikit kesulitan menjelaskan ke masyarakat. Karena dirinya memang tidak melihat langsung. Yang merepotkan, oleh masyarakat BMG dianggap tahu segala kejadian alam. Padahal, BMG hanya memantau gempa. “Tidak selalu kejadian alam dikaitkan dengan gempa,†katanya kepada KR tadi malam.
Kendati demikian, Jaya memahami, keresahan masyarakat setiap ada kejadian alam seperti itu. Karenanya, Jaya mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan waspada. Jika kejadian alam dikaitkan dengan peristiwa gempa 27 Mei, katanya,Â
sekarang kecenderungannya menurun. “Dari segi kegempaan, BMG memantau 24 jam,†katanya.
Sedangkan Kepala Subseksi Meteo Lanud Adisutjipto, Kapten (Sus) Subakir mengaku, pihaknya juga memperoleh informasi adanya pandangan pancaran cahaya pecahan meteor di angkasa. Bahkan kantornya sempat mendapatkan telepon dari berbagai warga yang menanyakan fenomena tersebut.
Menurut Subakir, pancaran cahaya akibat pecahan meteor tersebut merupakan peristiwa alam yang sering terjadi. Namun sering kurang diperhatikan masyarakat sebelumnya. Kejadian tersebut menjadi lebih terlihat karena saat ini musim kemarau, di mana awan rendah, menengah jarang menutupi angkasa. Yang terlihat hanya awan cirrus yang tidak begitu menutupi langit.
“Ketika ada kejadian di lapisan atmosfir di atas menjadi mudah terlihat karena tidak ada penghalang. Namun karena saat ini baru saja terjadi gempa bumi, sehingga masyarakat masih panik dan menghubungkan kejadian tersebut dengan gempa,†kata Subakir.
Ditegaskan, kejadian yang dilihat masyarakat adalah kejadian alam di atmosfir dan tidak ada hubungan dengan gempa. Sehingga masyarakat tidak perlu panik.
Adanya fenomena alam berupa cahaya terang di angkasa tadi malam, kabarnya ada yang sempat menimbulkan dentuman cukup keras, tidak ada kaitannya dengan gempa bumi. Di samping tanda-tanda tersebut tidak bisa dijadikan indikator, sampai saat ini para ahli geologi belum bisa memprediksikan kapan gempa bumi akan terjadi.
“Memang adanya gesekan batuan yang disertai dengan pelepasan elektron sering menimbulkan kilatan dan suara dentuman. Tapi kilatan itu biasanya muncul di daratan (bumi) bukan di angkasa. Jadi soal kilatan semacam meteor itu saya belum bisa berkomentar banyak,†kata Ketua Jurusan Teknik Geologi UGM, Dr Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD saat dihubungi KR Rabu (26/7) malam.
Menurutnya, munculan berbagai macam fenomena alam yang terjadi pasca gempa bumi tidak perlu disikapi secara berlebihan, apalagi sampai mengkaitkan hal itu dengan gempa besar. Di samping data-datanya tidak valid, untuk membuktikan hal itu tidak mudah. Jadi perlu penelitian lebih lanjut. Meskipun begitu, ia mengimbau pada masyarakat agar tetap selektif dan waspada. Dengan begitu selain tidak mudah termakan isu yang sengaja disebarkan untuk memperkeruh suasana, terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan bisa diminimalisasi.
“Secara ilmiah munculnya berbagai macam fenomena alam seperti awan vertikal, horisontal dan sinar putih (semacam meteor) tidak ada hubungannya dengan gempa bumi. Karena gempa bumi itu disebabkan oleh adanya perubahan di dalam perut bumi bukan di ruang angkasa,†terangnya.(Tim KR)

KOMEN ANYAR