SIMBAH.ORG      Gratisan.com   Peduli.org       Jogjawebcenter.com    msuyanto.com

[m²] Sepi Ing Pamrih - Rame Ing gawe !

Kliping Berita- Ngeblog - belajar bareng

Bisakah Hal-Hal Ghaib Diketahui

Posted on July 27, 2006 - Filed Under Ruqyah

Beriman kepada yang ghaib adalah percaya kepada segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera dan tidak bisa dicapai oleh akal biasa, akan tetapi hanya dapat diketahui berdasarkan wahyu (khabar) yang diterima oleh para nabi dan rasul.

Definisi Beriman Kepada Ghaib

Dalam permasalahan ini ahlus sunnah wal jama’ah berkeyakinan bahwa beriman kepada yang ghaib adalah merupakan salah satu sifat dari orang-orang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala, artinya:
“Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. al-Baqarah: 1-3).

Ada dua pendapat tentang makna iman di dalam ayat di atas:

Kedua makna di atas tidak bertentangan, bahkan keduanya harus ada pada diri seorang mukmin.

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata: Yang dimaksud dengan beriman kepada hal ghaib adalah segala bentuk pembenaran terhadap Allah, titab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya dan bentuk pembenarannya adalah dengan amal perbuatan.

Berkata ar-Rabii’ bin Anas: Yang dimaksud adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, surga-Nya, neraka-Nya dan beriman terhadap kehidupan setelah mati.

Berkata Ibnu Mas’ud: Termasuk di dalamnya adalah beriman tentang adanya dan keberadaan Jin.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga berkeyakinan bahwasanya pengetahuan terhadap hal yang ghaib termasuk hal yang menjadi rahasia Allah Ta’ala dan termasuk sifat Allah Ta’ala yang paling khusus, yang tidak ada seorang makhluk-pun dapat menyamai-Nya, sebagaimana firman-Nya;
Artinya, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mwengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelei daun-pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Makhfudz)” (QS. al-An’an: 59)

Maka barangsiapa berkeyakinan bahwa dirinya atau orang lain boleh mengusai yang ghaib atau mengetahui hal yang ghaib berarti ia telah kufur, karena hal ini termasuk hal yang yang tidak pernah diberitakan oleh Allah Ta’ala kepada siapapun; tidak kepada para malaikat yang dekat dan tidak juga kepada para rasul yang diutus. Allah Ta’ala berfirman:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah! (Hai Muhammad) Tiada siapapun baik di langit maupun di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka dibangkitkan” (QS.An-Naml: 65)
Dan firman-Nya;

لاَ أَقُولُ لَكُمْ عِندِيْ خَزَآئِنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ
إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah! (Hai Muhammad): Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan (rahasia) Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib, dan tidaklah aku mengatakan kepada kalian bahwa aku ini malaikat, aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku” (QS.Al-An’am:50)

Adapun hal-hal yang ghaib yang dikhabarkan oleh para nabi dan rasul, sebagaimana Nabi kita Muhammad r menghabarkan kepada ummatnya tentang tanda-tanda hari kiamat, tentang adanya surga dan neraka, tentang adanya azab kubur dan nikmat kubur dan juga Rasulullah r pernah memegang leher jin Ifrit ketika beliau diganggu oleh Jin tersebut didalam shalatnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan juga hal-hal yang ghaib lainnya, maka yang demikian tiada lain hanyalah sebagai salah satu tanda kenabian dan keistimewaan bagi beliau, dan hal ini hanyalah sebagai wahyu Ilahi, sebab beliau tidak bertutur kata melainkan berdasarkan bimbingan wahyu dari Allah Ta’ala.

Pada intinya hal-hal ghaib yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala beritahukan kepada para nabi dan rasul merupakan kekhususan mereka dan tidak diberikan kepada selain mereka, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firmanNya,

عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang hal ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”. (QS.Al-Jinn: 26-27)

Namun sangat disayangkan banyak diantara kaum Muslimin yang masih percaya kepada cerita-cerita khurafat dan cerita-cerita syirik jahiliyah. Misalnya keyakinan bahwa ada diantara manusia yang dapat mengetahui hal yang ghaib apapun bentuk namanya. Kenyataan ini dapat didapati dari fenomena yang ada disekitar kita, apalagi dengan adanya sekian banyak bentuk tayangan media elektronik yang menggambarkan cerita-cerita demikian dan banyak digandrungi oleh banyak pemirsa justru memperparah dan seolah-olah telah melejitimasi bahwa yang demikian adalah benar padahal justru sebaliknya bahwa keyakinan-keyakian yang demikian adalah merupakan kekeliruan yang sangat berhaya terhadap aqidah dan keyakinan seseorang.

Karena pada dasarnya yang mereka lakukan itu tiada lain hanyalah tipu daya Jin dan propaganda Syaithan menggiring kaum Muslimin agar jauh dari tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah, kemudian terjerumus ke lembah kesyirikan dan terkubur ke dalam lumpur kekufuran. Karena hal ini merupakan perbuatan menyekutukan Allah Ta’ala dengan selain-Nya dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala, yaitu mengetahui hal yang ghaib.
Allah Ta’ala berfirman.

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَآءَ لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS.Al-A’raf:27)

Berkata Ibnu Hajar al-Asqalani dalkam kitabnya Fathul Baari, “Sesunggunya syaithan bisa menampakkan diri dan melakukan penyerupaan yang bisa dilihat wujudnya, dan tidak dapat dilihat dalam bentuk aslinya.” (Lihat Fathul Baari, 9/55)

Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Barangsiapa yang mengaku bisa melihat jin maka syhadat(persaksiannya) tidak dapat diterima kecuali dia seorang Nabi.” (Fathul Baari, 4/489)

Dengan demikian klaim seseorang bahwa dia mengetahui hal yang ghaib telah banyak merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Masyarakat telah banyak mengeluarkan banyak harta dan biaya demi mendapat ilmu ghaib –menurut sangkaan mereka- , dan terkadang dia menghabarkan beberapa hal, sebagiannya benar (secara kebetulan) dan sebagiannya bohong, bahkan sebagian besarnya adalah bohong. Sehingga terbaliklah tolok ukur kehidupannya, yaitu banyak orang mengatur hidup mereka berdasarkan saran-saran yang disampaikan oleh sang pendusta dukun dan sebangsanya yang mengaku mengetahui hal ghaib.
Allah Ta’ala berfirman,

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَآءَ اللهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah! (Hai Muhammad): Aku tidak berkuasa mendatangkan manfa’at bagi diriku dan tidak (pula kuasa) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS.Al-‘Araf:188)

Jika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja tidak mengetahui hal yang ghaib selain yang diwahyukan kepadanya, bahkan dengan terus terang beliau menafikan yang demikian itu atas dirinya, maka bagaimana dengan orang-orang selain beliau?? Tentu mereka pasti tidak lebih tahu. Karena Rasulullah lebih berhak daripada mereka.
Tergelincirnya banyak orang ke dalam kesalahan berbahaya ini, disebabkan oleh beberapa berita yang mereka lihat “benar”, yaitu berasal para dukun dan yang sebangsanya. Sehingga keyakinan mereka semakin kuat, dan selanjutnya mempercayai cerita-cerita mereka berikutnya.

Dan sebagai tolok ukur, berikut ada beberapa prinsip dasar berkaitan dengan hal ghaib, di antaranya;

Comments

One Response to “Bisakah Hal-Hal Ghaib Diketahui”

  1. NIP on April 19th, 2007 7:15 am

    Betul,
    Kita hanya diberi ilmu yang sedikit tentang yang Ghaib.
    Masalah makhluk lain seperti Jin dll, biarkan mereka di dunianya sendiri dan mengatur kehidupannya sendiri.
    Mari kita atur dunia kita. Masih terlalu banyak masalah dunia kita, nggak usahlah ngurusin dunia yang lain.
    Yang perlu kita tahu hanya satu, bahwa Syetan itu selalu menggoda kita dengan cara menggoda hati. (bukan dengan cara penampakan dll).

    Terus mbah karyanya.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.


Tag : Adab Akhlaq Al Qur'an Amal Aqidah Bahasa Arab Bakti Bid'ah Buah Hati Cinta Manajemen Qalbu Manhaj Salaf Maulid Nabi Mug Muhammad bin Abdul Wahab Muslimah Nasrani Poligami Pondok Pesantren Privat Bahasa Arab Pustaka Muslim Riba Sahabat Nabi Salaf Salafy Sekolah Tinggi Islam Shalat Shalawat Nariyah Sunnah Fitrah Syaikh Ibnur TIPS TIPS Tahun Baru Masehi Tauhid Tazkiyatun Nufs Thibbun Nabawiyh Istihadlah Dari Redaksi Demam Berdarah Dunia Muslimah Fatwa Ulama Fiqh Muslimah Habbatus Sauda Haidh Hari Raya Hukum Cadar Idul Adha Iman Info Pengajian Jadwal Kajii Wanita Wisma MTI Witirn Putri Jilbab dan Hijab Kebahagiaan Kecantikan Kegiatan Dakwah Kesehatan Khitan Wanita Kitab Allah Lukisan Malaikat Mandi Junub Manhaj Masa Subur Musik Namimah Nasihat Natal Nikah Nyanyian Parenting Pengajian Umum Pengobatan Nabi aAdab-Adab Muslim Agama Ahmadiyah Agama Syi'ah Agen Pustaka Muslim Alkohol Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Bedah Buku Dauroh Umum Demonstras Utsaimin Syirik Tafsir Al-Quran Takdir Allah Tauhid Tawakal Tayammum WahabPuasa Qurban Ramadhan Rasul Riya Rumah Tangga Salaf Shalat Shalat Ied Sunnah Syirik Syirik Akbai Donasi Dakwah Fatwa Ulama Hak-Hak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Ibadurrahman Iklan Imam Al Ghazali Imam Syafi'i Istiwa Allah Jaringan Islam Liberal Jual Beli Jujur Khalwat Khawarij Lembaga Dakwah Lowongan K Valentine's Day Vegetarian Wala' dan Baro' Wanita Zodiak