Teori Daun Pintu dan Ban Dalam Sepeda

13 July 2006
By

Bencana Jogja 093.jpgBencana Jogja 003.jpgAnalogi terbaik yang mudah dipahami masyarakat umum tentang adanya letusan gunung berapi dan rentetan gempa bumi adalah laksana Ban Dalam Sepeda. Inti bumi yang disebut sebagai magma berisi cairan panas sebagai hasil reaksi fisika dan kimia yang terbentuk jutaan lalu,bahkan beberapa ilmuwan menggolongkan kerja dapur magma (inti bumi) sebagai reaktor atom. Hasil dari reaksi kimia dan fisika adalah berupa gas dan cairan lava yang sangat panas tersimpan dalam lapisan bumi terdalam.

Laksana ban dalam sepeda yang dipompa, maka hasil reaksi magma berupa gas dan cairan lava memiliki tekanan tertentu yang pada suatu saat tekanan itu tidak dapat ditahan maka timbulah letusan gunung. Gunung berapi ibarat ‘pentil’ ban dalam sepeda, suatu saat akan terbuka klepketika tekanan didalam ban sepeda sudah tidak mampu lagi di terima.Tekanan diakibatkan oleh hasil gas dan cairan dari reaksi kimia dan fisika, selain itu juga akibat tekanan lapisan bumi itu sendiri yang bergerak.

Ahli goelogi menyadari adanya pergerakan lempeng bumi yang diukur dari pergerakan pertahun antara lapisan dengan membandingkan jarak yang telah diukur pada tahun sebelumnya dengan tahun saat ini. Para ahli sependapat rata-rata pergerakan lempeng adalah rata-rata 10cm/tahun. Pergerakan lempeng itu sendiri diakibatkan perbedaan berat jenis lempeng sehingga membentuk zona subduksi/tunjaman dan inilah yang melahirkan gempa bumi.Karena Indonesia merupakan daerah zona pertemuan lempeng Samudera Hindia – Australia dengan lempeng benua Asia dan lempeng-lempeng kecil lainnya, maka tidak mengherankan daerah Indonesia adalah rawan gempa bumi. Dimulai dari pesisir sumatra, Aceh, Padang, Bengkulu dan Lampung, kemudian berlanjut ke arah sunda, yogya, Blitar/ malang selatan. Setelah itu terangkai dalam Pulau Bali, P Lombok, Kepulauan Alor. Menyimpang keatas sebagai desakan lempeng yang irian jaya adalah kepulauan Maluku, P Halmahera dan P Morotai, terpisah lagi dalam p Sulawesi sebagai pusat lempeng talaud, manado dan gorontalo

Gerakan lempeng yang menghujam (subduksi) berpengaruh tidak langsung terhadap aktifitas gunung berapi. Laksana ban dalam sepeda yang berputar, kadang melindas batu kerikil (ilustrasi pergerakan lempeng), maka tekanan pada ban dalam sepeda itu sendiri akan meningkat. Dari sini kita dapat melihat bahwa peran ban dalam sepeda adalah menahan goncangan dan meredam goncangan sehingga dapat dipakai sebagai stabilisator pergerakan sepeda, sedangkan pentil adalah sebuah pintu kecil (katup) yang membuka dan menutup jika tekanan di dalam ban dalam sepeda sudah melebihi batas. Kesimpulan yang paing mudah diterima orang awam adalah semakin banyak gunung semakin stabil sepeda itu, karena memungkinkan membuang tekanan lebih cepat daripada hanya satu gunung saja, sebaliknya semakin banyaknya tumbukan/ subduksi maka semakin banyak pula gunung berapi. Teori terbentuknya gunung mengatakan bahwa gunung dalam jutaan tahun yang lalu adalah daerah yang labil pada satu sisi dan pada sisi yang lain adalah daerah padat.

Tekanan akibat pergerakan pada satu sisi tertahan pada sisi yang lain menyebabkan tanah menjadi menjulang ke atas dan setelah itu melahirkan rongga-rongga udara. Teori lain menyatakan adanya tekanan dari dalam bumi yang amat kuat dan akan dikeluarkan tekanan itu dengan memilih daerah yang labil, sehingga pergerekan tekanan ini mengakibatkan tanah menjadi menjulang. Setelah gunung muda terbentuk, maka letusan demi letusan keluart dari gunung tersebut dan lava pijar yang dikeluarkan beberapa waktu kemudian akan dingin dalam jutaan tahun menjadi tanah yang padat dan cenderung menjadi batu gunung.

Dengan membandingkan dua terori itu, maka tidak mengherankan jika daerah subduksi memiliki gunung yang cukup banyak seperti semenanjung sumatra, jawa. Sedangkan daerah yang tidak mengalami subduksi seperti kalimantan memiliki gunung namun tidak aktif. Dari sini keterkaitan pergerakan lempeng yang melahirkan subduksi dengan gunung berapi, sehingga gunung berapi sebetulnya tidak berbahaya, justru bermanfaat sebagai pasak, penyeimbang dan pengatur tekanan yang ada di dalam bumi secara tidak langsung. Dengan kata lain subduksi-pun (baca: gempa) juga tidak berbahaya dan gejala alam biasa dengan catatan selama gunung berapi masih berfungsi dengan baik atau adanya gunung / perbukitan yang menahan getaran energi dari arah mendatar (horizontal) menjadi arah vertikal. Pernyataan ini dapat dianalogikan adanya ‘pecut’ atau cemeti yang di ayunkan seseorang, energi arah rambatannya pada sisi antara ujung dan pemegang tidak terlalu banyak, justru di ujungnya yang merupakan energi terbesar. Gunung membuat rambatan energi yang dilepas sebagai hasil gempa bumi di redam dengan arah vertikal, sehingga ketika gempa terjadi dan gunung masih dalam keadaan berfungsi, maka rambatan energi dapat diredam

Kasus gempa yogya (27-mei-2006) adalah kasus yang paling baik dijadikan contoh, bagaimana subduksi terjadi, namun gunung sebagai peredam sudah bocor (letusan-letusan kecil pada bulan mei), ibarat mesin hidrolik ketika oli bocor yang menahan jatuhnya lift, maka lift itu akan menghantam tanah dengan keras , lama dan berulang-ulang. Kira-kira
hampir 1 menit gempa pukul 05.53 pagi dan kemudia di ikuti gempa susulan sebanyak 3 kali, bandingkan dengan gempa di tahun sebelumnya 19 Juli 2005, pusat gempa terjadi di 9,77 Lintang Selatan dan 110,71 Bujur Timur. Pusat gempa, terjadi di 220 kilometer sebelah selatan Yogyakarta dengan kedalaman 33 kilometer di dalam tanah,”katanya.Gempa tektonik itu, terjadi pada pukul 19.21 WIB dengan kekuatan 5,5 skala Richter. Gempa tahun lalu di posisi yang sama tidak berdurasi lama seperti tahun 2006 karena gunung merapi masih berfungsi dengan baik (tidak
bocor) dan tidak ada gempa susulan

Gempa adalah fenomena Alam

Gempa adalah fenomena alam dan berpotensi terjadi di zona subduksi,selama gunung berapi masih berfungsi sebagai halnya mesin hidrolik untuk menahan tekanan, maka gempa masih dalam kategori aman. Kasus yang menarik
adalah adanya gempa di Padang, yang mampu di tahan oleh G. Talakmau,G.Marapi, G. Talang dan G. Kerinci, sedangkan di daerah Bengkulu, gempa di tahan oleh G. Kaba, G. Dempo. Terakhir adalah di lampung khususnya daerah Kalianda yang berkali-kali gempa namun dalam skala tidak merusak dengan durasi yang kecil. Daerah Lampung, gempa di tahan oleh G.Rajabasa, dan terluar di tahan oleh G. Krakatu, G. Rakata.

Â

Tsunami Aceh dan gempa bumi

Tanggal 26 Desember 2004 lalu Aceh diguncang gempa bumi berskala 8,9 skala Richter yang diikuti oleh gelombang besar tsunami. Gempa bumi tersebut yang merupakan gempa tektonik besar akibat adanya patahan pada posisi 3.30 o N, 95.78 o E yang berada di Samudera Indonesia. Penahan gempa tersebut sebenarnya adalah G. Peuetsagu,G. Bandahara. Justru korban jiwa terbanyak adalah pada saat adanya Tsunami, sekali lagi Aceh sudah sering dilanda gempa dan korban jiwa tidak terlalu mencolok, namun karena dibarengi Tsunami gempa yang dulunya biasa menjadi luar biasa.
Teori Daun Pintu

Rentetan gempa bumi yang melanda sumatra terus menerus selama me-juni 2006 adalah satu rangkaian patahan mulai aceh sampai lampung. Ketika aceh gempa, diikuti padang, bengkulu dan terakhir lampung. Ibarat orang menutup pintu adalah adanya dorongan ujung pintu di aceh kemudia bertemu pasak gunung G. Peuetsagu, G. Bandahara, kemudian batang pintu adalah daerah padang yang di pasak oleh G. Talakmau, G.Marapi, G. Talang dan G. Kerinci dan ujung dalam pintu adalah bengkulu yang dipasak oleh G. G. Kaba, G. Dempo, terakhir adalah ujung pintu atau engselnya daerah lampung yang di pasak G. Rajabasa dan terluar di tahan oleh G. Krakatu, G. Rakata. Selama gunung itu berfungsi dengan baik maka gempa yang bersusulan sebagai akibat rambatan dari ujung terluar  pintu, bagian tengah pintu dan ujung dalam pintu sedangkan lampung adalah engsel pintu,semua masih berfungsi baik, maka gempa tidak menjadi hal yang luar biasa, namun memang masyarakat memang harus waspada tetapi tidak
berlebihan menjadi paranoid.

Mengapa gempa di lampung paling sering dibanding dengan gempa daerah lain ?

Karena berfungsi sebagai ensel pintu, maka daerah lampung adalah daerah yang paling sering di landa gempa seiring dengan tekanan pada ujung, batang dan bagian dalam pintu
Gempa daerah lain

Dilihat dari topografinya jika gempa terjadi biasanya juga di ikuti gempa di daerah lain pada tahun itu, sebagai misal daerah kiri P. Jawa dalah sumatra sering gempa, biasanya juga di ikuti daerah lain yakni di kanan P. Jawa, seperti P Bali, P Lombok dan daerah manado. Perkecualian adalah
daerah irian jaya karena gempa banyak terjadi di pegunungan.
Rentetan ini tentunya akan memberikan kemungkinan terbesar adalah daerah malang selatan atau blitar selatan karena pada beberapa tahun waktu lalu pernah terjadi gempa. Subduksi ini masih kelanjutan arah keatas dari
lempeng australia, namun karena di daerah jawa timur terdapat banyak gunung, maka intensitas gempa akan sama dengan daerah bali. Gunung penahan gempa itu adalah ada G. Lawu, G.Pandan, G.Wilis, G. Kelud,G.Kawi, G. Welirang, G. Arjuno, G.Bromo, G. Semeru, G. Lamongan, G.
Argopuro, G.Raung, G.Ijen (pegunungan), G. Merapi (Banyuwangi). Selama gunung itu masih berfungsi dengan baik, maka gempa yang terjadi adalah sesuatu yang biasa bukan sesuatu yang luar biasa, namun masyarakat tetap
harus waspada karena laju lempeng australia adalah serah keatas dan yang belum terkena subduksi adalah malang/blitar selatan. Namun karena ada gunung itu masyarakat tidak perlu cemas dan paranoid

Pintu Menutup Sebabkan Merapi Gunung Paling Aktif

Sejak kekeliruan BPPTK dalam menurunkan status merapi ke Siaga pada 14/06/06 yang kemudian dinaikkan lagi menjadi Awas 15/06/06, maka kekeliruan itu harus menjadi kajian yang dalam bagi ilmu pengetahuan. Hal ini seiring juga dengan sulitnya memprediksi meletusnya merapi, bahkan
BMGpun juga mengatakan sampai saat ini tidak ada alat atau ilmu yang dapat memprediksi terjadinya bencana gempa bumi. Acuan ilmu pengetahuan biasanya adalah perhitungan kalender atau yang di sebut siklus, analoginya cukup mudah yakni siklus mati seseorang adalah rata-rata umur
60 tahun, demikian pula aktifitas gempa dan letusan gunung.

Selain indikasi siklus, biasanya indikator peningkatan aktifitas gunung api yang menjadi perubahan status sebuah gunung. Hal ini yang paling mendekati kebenaran, tetapi apa yang terjadi pada bulan juni ini harus menjadi bahan kajian ilmiah yang sangat mendalam, jangan lalu menjadi
konklusi alam tidak dapat diprediksi. Teori-teori yang dipakai harus di kaji ulang menjadi lahan baru untuk memunculkan teori baru yang salah satunya adalah terori “Daun Pintu dan Ban Dalam Sepeda”. Beberapa ilmuwan yang bersikukuh tentang tidak adanya hubungan antara gunung dengan gempa bumi harus membuka diri untuk mengkaji hubungan ini. Inti dari terori ini adalah pemetaan global lokasi gempa dan adanya gunung berapi Kita bisa petakan daerah gempa secara global menjadi bentuk \_o_/ -: dimana \ kiri adalah sumatra, / adalah sulawesi yang kalau diteruskan keatas menuju filipina selatan, sedangkan _ kiri adalah jawa barat,
banten, DKI, sedangkan . adalah yogya dan jawa tengah, _ kanan adalah jawa timur, Bali, lombok, sumbawa, – adalah maluku, Ambon dan : adalah irian jaya. Ilustrasi gambar diatas merupakan rangkaian secara global menyusun
gerakan \ ke arah atas kanan, _o_ kearah atas vertikal dan / kearah atas kiri. Gerakan – menuju kearah kiri yang di dorong dari : yakni irian jaya

Teori daun pintu di dorong dari fakta rangkaian gempa yang terjadi adalah seperti dorongan gerakan menutup pintu dari arah \ yang tertahan dengan pasak gunung, sehingga gempa yang dekat gunung berapi tidak memiliki intensitas besar, selama gunung berapi itu berhasil menahan rambatan energi yang di keluarkan oleh gempa, ketika gempa    terjadi dan gunung dengan cairannya merambatkan energi untuk
menghambat tekanan lapisan bumi maka pertandanya adalah aktifnya       gunung tsb, tidak semua energi rambatan itu tertahan oleh gunung yang     terdekat, sebagian merambat dalam bentuk gelombang magma di perut bumi  mengalir ke gunung yang lain, hal inilah yang menyebabkan hubungan
tidak langsung gempa di lampung berakibat gunung di jawa terutama merapi. Efek tidak langsung tidak besar karena berupa tekanan cairan seperti halnya ban dalam sepeda yang ditekan atau tidak ekuivalen dengan energi gempanya, namun sebagian kecil.

Mengapa energi rambatan gunung ini terjadi ?

Hal ini dikarenakan gunung memiliki rangkaian yang disebut oleh sabuk  gunung berapi. Sebab inilah mengapa merapi menjadi gunung yang paling  aktif di dunia, karena gempa bumi di indonesia juga yang paling sering
didunia, sebagian kecil energi di buang ke merapi dan sebagian besar
ke gunung lokal terdekat dan sebagian di daratan

Dari pemetaan \_o_/ -: bisa di anggap sebagai gerakan pintu menutup dari  kiri (sumatra) dengan engsel adalah lampung (G. Rajabasa, G. Krakatau),
sebagian kecil energinya menekan ke P. Jawa dan arah / adalah gerakan menutup ke kiri, sebagian menjadi gempa di manado yang semakin sering dan merabat ke gunung di filipina, sebagian sangat kecil ke P. Jawa di
G.Merapi. Gerakan pintu menutup dan juga gerakan dorongan dari bawah ke atas tepat di yogya menimbulkan energi simultan ke merapi.

Mengapa merapi ?

Merapi adalah gunung berusia muda dengan struktur dan rongga yang  relatif belum tertutup oleh dinginnya lava, maka ruang bebas merapi menawarkan energi luncuran awan panas dan lava pijar yang paling mudah di keluarkan. Aktifitas merapi yang semakin meningkat mei-juni
merupakan gambaran dari banyaknya gempa bumi yang ada zona \ dan zona /, terakhir adalah zona tengah o yakni kota yogya. Jika teori menutup pintu dipakai jelas akan sangat mudah mengatakan bahwa pada gilirannya
zona o akan terkena gempa, dan karena merapi saat itu mengeluarkan cairan dan awan panas, maka gempa tidak mampu ditahan secara sempurna oleh G. merapi sebagaimana halnya tahun 2005. Akibatnya gempa dengan
durasi lama dan berulang-ulang itulah yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Sebaliknya jika merapi berfungsi dengan baik, maka gempa dengan skala menengah masih mampu di redam sehingga tidak membuat skala
durasi waktu yang lama
Antisipasi ke Depan

Melihat tren pergerakan lempeng bumi yang semakin sering dengan ditandainya gempa bumi pada zona \ dan sesekali pada zona o, dan tinggal menanti pada zona _ kiri (malang/blitar selatan). Pada zona kanan yakni manado, bali, NTT dan Irian jaya, lebih khusus adalah zona
/, teori menutup pintu juga terjadi namun rambatannya kecil sekali. Rangkaian menutup pintu inilah membuat akititas merapi ke depan akan semakin meningkat dan tiada berhenti. Tergantung dari pergerakan lempeng, jika menurun, maka merapi-pun dalam keadaan normal kembali
seperti sebelum gempa atau sebelum merapi ‘meletus’

Pada beberapa bulan 2006 ke depan khususnya minggu – minggu kedepan setelah 17/06/06, masyarakat harus ekstra waspada, karena tren meningkatnya gempa bumi di zona \ semakin meningkat dan sesekali pada
zona o. Lebih baik lagi jika warga di lereng gunung merapi tidak dibiarkan dalam ‘perjudian’ status merapi baik oleh BPPTK maupun juru kunci merapi sehingga mulai saat ini pula PemProv Yogytakarta memikirkan langkah relokasi warga lereng merapi, sehingga mereka lebih
tenang dalam hidup dan tidak lagi hidup dalam ‘perjudian’ nasib. Akibat perjudian nasib inilah yang menimbulkan tokoh sakti, mitos dan legenda yang kesemuanya itu kalau bertentangan dengan ajaran agama, malah akan
memberikan wacana yang tidak mendidik dan menimbulkan masalah lain

* Penulis adalah Dosen ITS, yang telah memprediksi gempa yogya sebelum gempa itu terjadi, bahkan pergi ke yogya tgl 25-mei-2006 (dua hari sebelum gempa) untuk memberi peringatan pada warga yogya

http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/

Tags: , , , , , , , , ,

Comments

3 Responses to Teori Daun Pintu dan Ban Dalam Sepeda

  1. Atok Jogja on 15 February 2007 at 12:26 am

    Belajar dr org jawa memberikan pemahaman yang sangat dalam tentang hidup dan kehidupan, terima kasih…..

  2. Denny, Batam on 8 March 2007 at 12:23 pm

    Dengan analisa seperti ini kita juga bisa memprediksi wilayah-wilayah rawan di Indonesia, sehingga saat siklus ribuan tahun itu datang (entah isyu-entah benar), wilayah manasaja yang berpotensi berubah wujud (baca : hilang) bisa dihindari.

  3. andri on 24 June 2008 at 10:35 pm

    jadi selama ini teori tektonik lem[peng tak seutuhnya benar…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Ads